LSPR Bawa Anyaman Bambu Buniayu Tangerang Go Internasional

Anyaman Bambu Buniayu, Kabupaten Tangerang didorong untuk go internasional oleh mahasiswa LSPR.

Hairul Alwan
Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:40 WIB
LSPR Bawa Anyaman Bambu Buniayu Tangerang Go Internasional
Pendiri Saung Bakul Buniayu Ramdani menunjukan hasil anyaman warga Buniayu, Sabtu 10 Januari 2026. [Hairul Alwan/Suara.com]
Baca 10 detik
  • Mahasiswa LSPR melalui program 'The Story Of Buniayu' mendampingi pengrajin anyaman bambu di Tangerang.
  • Pendampingan tersebut fokus pada pelatihan pemasaran digital dan pengembangan produk anyaman menuju tren fashion.
  • Program ini menargetkan pemasaran internasional anyaman Buniayu, termasuk rencana pameran di Malaysia.

SuaraBanten.id - Anyaman bambu Desa Buniayu, Kabupaten Tangerang, Banten menjadi salah satu anyaman yang bakal didorong untuk dipasarkan ke tingkat internasional.

Mahasiswa London School of Public Relations (LSPR) menjadi salah satu pihak yang berupaya mewujudkan pemasaran anyaman Buniayu Tangerang ke tingkat Internasional.

Lewat program ‘The Story Of Buniayu’ mahasiswa LSPR mendampingi warga yang secara turun temurun berpenghasilan lewat memproduksi anyaman bambu.

Pendiri Saung Bakul Buniayu, Mardani mengatakan, masyakat Buniayu konsisten memproduksi anyaman sebagai salah satu mata pencaharian dan melestarikan budaya. Namun, ia mengakui pemasaran produk melalui platform digital masih sangat kurang.

Baca Juga:Tanggapi Penolakan Sampah Tangsel, Sekda Banten: Kota Serang Harus Diskusi dengan Warga

“Karena memang pengrajin yang ada di Buniayu ada di rentang usia 35-50 tahun,” katanya.

Lewat program ‘ The Story of Buniayu’ ini, kata Mardani, anak-anak muda di bekali pelatihan pemasaran secara digital. 

“Untuk yang hadir hari ini yang hadir anak, cucunya para pengrajin sehingga untuk mengembangkan dan menjadikan pasar digital sebagai salah satu cara penjualan,” ungkapnya.

Selain pelatihan penjualan secara digital, masyarakat Buniayu juga diarahkan untuk membuat produk anyaman yang lebih ke arah fashion.

“Awalnya kita hanya produk anyaman berupa alat rumah tangga jenisnya bisa mencapai 20 produk. Tapi sekarang kita buat anyaman yang lebih ke fashion, dan sekarang malah lebih jadi best seller,” paparnya.

Baca Juga:4 Spot Wisata Kuliner Hits di Tangsel yang Wajib Kamu Coba Akhir Pekan Ini

“Kami diberi masukan untuk meningkatkan nilai ekonomi dan pemasaran hingga tingkat internasional mudah-mudahan terwujud,” imbuhnya.

Mardani mengungkapkan mata pencaharian masayarakat Buniayu mayoritas petani dan pengrajin anyaman bambu. Dengan adanya digitalisasi penjualan ia mengaku terjadi peningkatan penjualan.

“Kami masih minim pengambilan gambar dan video, dengan bantuan mahasiswa LSPR ini kami sangat terbantu. Untuk penjualan kami di lokal terjauh sampai IKN, ada juga handcary hingga ke Turki, dengan adanya digitalisasi omset meningkat dari Rp 2-3 juta kini Rp5-7 juta perbulan,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Penyelenggara Story Of Buniayu, Moza Febrianita mengungkapkan, melalui The Story of Buniayu, pihaknya ingin mendorong penguatan UMKM serta keberlanjutan produk tradisional Indonesia melalui pelatihan digital dan pengembangan desain produk.

"Melalui rangkaian kegiatan International Mentoring and Workshop Programme (IMWP) 2026, produk anyaman bambu Desa Buniayu akan diperkenalkan ke Malaysia," ucap Moza. 

Dalam proses pendampingan, mahasiswa bekerja langsung bersama para pengrajin Saung Bakul Buniayu dan Penggerak Saung Bakul Buniayu, yaitu Kang Dhany.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini