Andi Ahmad S
Kamis, 14 Mei 2026 | 17:34 WIB
Sejumlah warga Suku Baduy berjalan menuju Pendopo Bupati Lebak, Rangkasbitung, Lebak, Banten, Jumat (24/4/2026). [ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/YU]
Baca 10 detik
  • Sarip dan Samid, remaja Badui Dalam, berjalan kaki dari Kanekes membawa 40 botol madu untuk dijual hingga Tangerang.
  • Tradisi adat melarang penggunaan kendaraan bermotor, sehingga mereka harus berjalan kaki menempuh ratusan kilometer demi menjual madu.
  • Penjualan madu hutan dari Gunung Kendeng ini menjadi sumber pendapatan utama untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga masyarakat Badui.

SuaraBanten.id - Siang menyengat Kota Rangkasbitung, namun tak menyurutkan langkah dua remaja berbaju putih dan berkain tenun gelap.

Di sebuah pos keamanan yang sudah lama tak terpakai, keduanya duduk berteduh sambil mengusap peluh. Mereka adalah Sarip (16) dan Samid (14), kakak beradik asal Badui Dalam, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak.

Di samping mereka, tergeletak dua kantong besar berisi 40 botol madu Odeng. Madu hutan asli ini bukan sekadar komoditas bagi mereka, melainkan warisan turun-temurun yang menjadi napas penghidupan masyarakat adat Badui.

Sesuai adat istiadat Badui Dalam yang melarang penggunaan kendaraan, Sarip dan Samid menempuh perjalanan dari pedalaman hutan Kanekes menuju pusat kota Rangkasbitung dengan berjalan kaki.

Tanpa alas kaki, mereka melintasi perbukitan dan aspal panas demi mengantarkan madu murni kepada para langganan dan pembeli di kota.

Madu itu bukan sekadar dagangan. Cairan nan manis itu adalah hasil perjalanan panjang melintasi hutan, perbukitan, dan jalanan beraspal sejauh ratusan kilometer yang ditempuh dengan berjalan kaki.

Bagi masyarakat Badui Dalam, aturan adat melarang penggunaan kendaraan bermotor. Karena itu, Sarip dan Samid harus mengandalkan langkah kaki untuk membawa madu dari Kampung Cikeusik di kawasan Badui Dalam menuju berbagai daerah pemasaran di Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat.

Mereka berangkat pada Selasa (12/5). Selain membawa madu, keduanya juga menenteng pakaian seadanya. Dalam perjalanan, mereka sempat menginap di Polsek Cimarga sebelum kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalur Rangkasbitung-Tangerang sambil menawarkan madu dari rumah ke rumah dan sepanjang jalan.

“Kalau hari ini madu habis terjual, hari ini juga pulang,” ujar Sarip penuh semangat.

Baca Juga: Gubernur Banten: RS Dilarang Tolak Pasien BPJS PBI yang Sedang Dinonaktifkan

Siang itu, baru dua botol yang terjual. Namun wajahnya tetap tenang. Ia sudah terbiasa menjalani perjalanan semacam itu sejak usia 14 tahun. Selama dua tahun terakhir, Sarip rutin berdagang madu untuk membantu perekonomian orang tuanya sekaligus memenuhi kebutuhan pribadi.

Kini, ia mulai mengajak adiknya belajar berdagang. Sudah empat kali Samid ikut berjalan bersamanya.

Di komunitas Badui Dalam, anak-anak yang ikut menjajakan madu bukan pemandangan asing. Banyak di antara mereka turun membantu keluarga sejak usia belia.

Madu Odeng yang mereka jual berasal dari budidaya lebah hutan di kawasan Gunung Kendeng, wilayah hutan lindung tanah ulayat Badui. Dalam sekali perjalanan, 40 botol madu yang dibawa Sarip dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp6,5 juta, dengan harga jual berkisar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per botol.

Perjalanan menuju Tangerang biasanya ditempuh selama sekitar sepekan hingga seluruh madu habis terjual. Saat lelah, mereka beristirahat di pos keamanan atau kantor polisi. Ketika malam tiba, mereka memilih mencari tempat aman untuk tidur.

Sarip mengaku tidak pernah berani berjualan hingga larut malam demi menghindari tindak kejahatan.

Load More