- Sarip dan Samid, remaja Badui Dalam, berjalan kaki dari Kanekes membawa 40 botol madu untuk dijual hingga Tangerang.
- Tradisi adat melarang penggunaan kendaraan bermotor, sehingga mereka harus berjalan kaki menempuh ratusan kilometer demi menjual madu.
- Penjualan madu hutan dari Gunung Kendeng ini menjadi sumber pendapatan utama untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga masyarakat Badui.
“Kalau sudah habis di Tangerang, kami pulang lagi ke Badui. Perjalanannya dua hari,” katanya.
Sarip dan Samid berjalan tanpa alas kaki melewati aspal panas, jalan berbatu, hingga kerikil tajam. Namun mereka mengaku sudah terbiasa. Rasa lelah dan sakit seakan kalah oleh tekad membawa uang pulang ke rumah.
“Kami senang kalau madu habis terjual dan bisa membawa uang untuk keluarga,” kata Sarip.
Semangat serupa juga dimiliki Santa (55), warga Badui Luar yang rutin berjalan kaki menjual madu Odeng hingga Cilegon dan Merak. Dari Serang, ia menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer dengan berjalan kaki.
Selama lima tahun terakhir, Santa berkeliling menjajakan madu ke Serang, Cilegon, Merak, bahkan Jakarta. Dalam sepekan, ia mampu menjual 35 botol madu dengan pendapatan sekitar Rp4 juta.
Menurut Santa, permintaan madu Odeng terus tinggi karena banyak pelanggan percaya khasiatnya bagi kesehatan. Madu itu diyakini membantu menjaga stamina, meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah anemia, mengurangi risiko osteoporosis, hingga membantu melawan infeksi.
Pelanggannya datang dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, sopir, pedagang jamu, pejabat, hingga pengusaha.
Namun produksi madu tidak selalu stabil. Hasil panen sangat bergantung pada perkembangan lebah Odeng yang bersarang di pohon-pohon besar kawasan Gunung Kendeng.
Budidaya dilakukan secara tradisional. Madu diambil langsung dari sarang lebah untuk kemudian diperas menjadi cairan madu siap jual.
Baca Juga: Gubernur Banten: RS Dilarang Tolak Pasien BPJS PBI yang Sedang Dinonaktifkan
Belakangan, produksi meningkat seiring perubahan musim dari penghujan ke kemarau. Banyak pohon berbunga dan menghasilkan nektar melimpah, sehingga satu sarang bisa menghasilkan empat hingga enam botol madu.
“Sekarang produksi bisa sampai 40 botol per pekan,” ujar Santa. [Antara].
Berita Terkait
-
Gubernur Banten: RS Dilarang Tolak Pasien BPJS PBI yang Sedang Dinonaktifkan
-
6 Fakta Vonis Eks Anggota DPRD Kota Serang Wahyu Papat dalam Kasus Penggelapan Tanah
-
Ngapel Berujung Sel! Pemuda Lebak Banten Diciduk Polisi Usai Kepergok Kakak Pacar
-
Nasib Tragis Pasutri Eks Pejabat Serang, Masuk Bui Gara-Gara Urusan Tanah 1.560 Meter
-
Tabrak Kerumunan Siswa SD Hingga Tewas, Kadis di Pandeglang Jadi Tersangka Tapi Tak Ditahan
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat
- 15 Kode Redeem FF Terbaru 27 September 2026, Lengkap Trik Jitu Dapatkan Bundle Sasuke
- 9 Bedak Padat dan Tabur Terbaik di Indomaret di Bawah 50 Ribu
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
Terkini
-
Geger Warga Pasar Kemis, Kerangka Manusia Ditemukan di Lahan Kosong
-
SMP dengan Kurikulum Internasional Hadir di Tangerang, Dorong Berpikir Kritis dan Pecahkan Masalah
-
Dugaan Pelecehan Seksual Bawahan, Pemkab Tangerang Pastikan Tak Mendampingi Kasatpol PP secara Hukum
-
Polda Banten Ungkap Identitas Mayat Terapung di Perairan Lampung
-
Mayat Perempuan Ditemukan di Kebun Warga di Serang, Polisi Selidiki Penyebab Kematian