- Impact Digital Media Forum 2026 di Signature Gallery PIK2 membahas pentingnya keselarasan konten digital dengan pengalaman nyata masyarakat.
- Agung Sedayu Group menekankan bahwa konsistensi antara promosi media sosial dan kualitas pengalaman langsung krusial membangun kepercayaan publik.
- Mahasiswa dari berbagai universitas mengapresiasi fasilitas dan aksesibilitas kawasan PIK2 yang mendukung pengalaman pengunjung sesuai promosi digital.
SuaraBanten.id - Media sosial kini menjadi pintu pertama bagi banyak orang untuk mengenal sebuah tempat, produk, atau brand. Foto, video pendek, dan ulasan kreator dapat membentuk ekspektasi publik dalam hitungan detik.
Namun, ekspektasi itu perlu dijawab dengan pengalaman nyata yang sepadan.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Impact Digital Media Forum 2026 yang digelar di Signature Gallery PIK2.
Forum ini mengangkat tema Precision, Accuracy, Credibility, and Trust. Kegiatan tersebut mempertemukan pelaku industri digital, kreator, media, serta sekitar 250 mahasiswa dari Universitas Paramadina, LSPR Communication and Business Institute, Universitas Pembangunan Jaya, dan Trisakti School of Multimedia.
Baca Juga:Caleg Lebak Ini Terobos Sidang Pleno Sambil Ngamuk, Videonya Viral
Advertising & Promotion Director Agung Sedayu Group Miranda DWK mengatakan, kekuatan konten digital harus berjalan beriringan dengan kualitas pengalaman langsung yang dirasakan masyarakat.
“Ini tuh akan berangkat, selalu akan berangkat dari konten menuju pengalaman,” ujar Miranda, Jumat (26/6/2026).
Menurut dia, komunikasi melalui media sosial memang dapat membantu sebuah brand atau kawasan dikenal lebih luas. Namun, konten tidak akan memberi dampak optimal apabila pengalaman masyarakat setelah datang tidak sesuai dengan informasi yang mereka lihat sebelumnya.
“Konten sebagus apa pun, itu tetap harus diikuti oleh pengalaman nyata yang juga bagus,” katanya.
Miranda menjelaskan, konsistensi antara promosi dan kondisi nyata menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik. Hal tersebut juga berlaku bagi destinasi yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Baca Juga:Gegara Buat Cuitan Kebencian ke Jokowi, Pemuda Ini Langsung Dapat Ganjaran
“Pada saat misalnya kami menyampaikan tentang satu brand, satu produk, di sosial medianya bagus, pada saat orang mengalami pengalaman dengan produk tersebut, ya harus bagus juga. Kalau tidak, menjadi tidak ada manfaatnya,” ucap Miranda.
Baginya, sebuah kawasan yang berhasil bukan hanya menarik pada momen pertama. Kawasan tersebut juga perlu meninggalkan kesan yang membuat pengunjung ingin kembali.
“Media sosial itu tempat membangun impresi awal, tapi pengalaman langsung lah yang akan memperkuatnya,” katanya.
Pandangan ini menjadi relevan di tengah tingginya konsumsi konten digital. Saat ini, masyarakat tidak hanya melihat destinasi dari iklan, tetapi juga dari pengalaman pengguna lain yang dibagikan melalui media sosial.
Mahasiswa Universitas Paramadina, Slavina, turut membagikan kesannya setelah berkunjung ke PIK dan PIK2. Ia menyebut akses transportasi menjadi salah satu aspek yang membuat perjalanan di kawasan tersebut lebih menarik.
“Menurut aku, PIK bagus banget. Pertama kali aku ke PIK ke sini naik busway, terus lanjut transportasi untuk keliling sampai PIK2,” ujar Slavina.