- Pasutri Andriyatna dan Yanah Susanti terpaksa tidur di emperan toko kawasan Ramanuju, Kota Cilegon, karena menunggak biaya kontrakan.
- Kondisi ekonomi sulit akibat suami hanya berpenghasilan minim serta kehamilan tujuh bulan Yanah memicu perhatian Dinas Sosial setempat.
- Dinas Sosial Kota Cilegon telah memberikan penanganan kesehatan serta menempatkan pasutri tersebut di rumah singgah untuk sementara waktu.
SuaraBanten.id - Sebuah kisah memilukan yang menyoroti kerentanan sosial dan ekonomi di perkotaan kembali terungkap di Kota Cilegon.
Sepasang suami istri (pasutri) bernama Andriyatna dan Yanah Susanti terpaksa harus tidur di emperan toko dengan alas seadanya lantaran terusir dari kontrakan karena menunggak pembayaran.
Yang lebih menyayat hati, kondisi sang istri, Yanah Susanti, diketahui sedang hamil 7 bulan. Insiden ini memicu simpati publik dan menuntut respons cepat dari pemerintah daerah.
Hidup di kota besar seringkali diwarnai kerasnya persaingan dan biaya hidup yang tinggi. Bagi Andriyatna dan Yanah Susanti, tantangan ini semakin berat.
Baca Juga:Fakta di Balik Dugaan Kekerasan Seksual Anak di Lebak: Pelaku dan Korban Alami Keterbatasan Mental
Keterbatasan ekonomi membuat mereka menunggak pembayaran kontrakan, hingga akhirnya terusir dan harus tidur di emperan toko. Kondisi ini sudah sangat sulit, namun menjadi berlipat ganda dengan kehamilan Yanah Susanti yang memasuki usia 7 bulan.
Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Cilegon Hj Lia Nurlia Mahatma membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, saat ini pasutri tersebut sudah ditempatkan sementara waktu di rumah singgah usai mendapatkan pelayanan kesehatan di puskesmas setempat.
"Kita sudah assesment, kita sudah memberikan pelayanan seperti makan sehari-hari. Istrinya itu KTP-nya dari Jayanti, Tangerang dan kebetulan sedang hamil 7 bulan, sudah kita bantu pemeriksaan kehamilannya di puskesmas dan mita antarkan ke rumah singgah untuk tinggal sementara. Kalau suaminya asli Cilegon," kata Hj Lia melalui sambungan telepon, Rabu (29/4/2026).
Dari hasil penelusuran, disampaikan Hj Lia, pasutri tersebut telah tidur di emperan toko martabak samping rel kereta api di daerah Ramanuju, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon, selama 3 hari lantaran terusir karena tak sanggup bayar kontrakan sebesar Rp150ribu per bulan.
Sebab, lanjutnya, sang suami tidak memiliki pekerjaan tetap dan hanya menjadi tukang parkir serabutan di Ramayana Kota Cilegon dengan penghasilan sebesar Rp20ribu per hari.
Baca Juga:Siapa Syekh Yusuf? Kenalan dengan Pahlawan Lintas Benua Asal Banten
"Jadi mereka tadinya ngontrak, sebulan Rp150 ribu, cuma mungkin karena ada hal-hal tertentu sehingga terusir, dan ada ketidak nyamanan para tetangga mungkin akhirnya kita amankan, kita assesment. Dan informasinya, penghasilan suaminya itu hanya Rp20ribu sehari, hanya cukup untuk makan saja sehingga mengalami peristiwa itu," ungkap Hj Lia.
Hj Lia mengaku, pihaknya sempat memberikan saran kepada pasutri tersebut untuk kembali ke keluarga dikarenakan sang istri masih memiliki keluarga di Tangerang, namun ditolak dengan alasan tertentu.
"Karena istrinya ini masih punya keluarga, dia juga punya anak dari hasil pernikahan yang pertama, tapi anaknya tinggal sama neneknya di Tangerang. Kita bujuk, kenapa ga tinggal sama keluarga dulu, tapi istrinya ga mau," ucapnya.
"Yaudah kita bujuk untuk tetap tinggal dulu di rumah singgah," imbuh Hj Lia.
Untuk itu, dikatakan Hj Lia, saat ini pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Baznas Kota Cilegon untuk membantu pasutri terlantar tersebut agar mendapatkan bantuan berupa biaya untuk mengontrak rumah. Hal itu dilakukan karena adanya keterbatasan anggaran yang tidak memungkinkan keduanya tinggal lebih lama di rumah singgah milik Dinsos Kota Cilegon.
"SOP di Dinsos itu tinggal di rumah singgah cuma 7 hari, kalau selamanya kita juga ada keterbatasan anggaran. Pada prinsipnya, kita sudah memberikan pelayanan, kita koordinasi dengan Baznas untuk diberi bantuan biaya ngontrak beberapa bulan, yang penyebabnya ada dulu lah, kita sedang upayakan. Mudah-mudahan tidak ada masalah, dalam arti mereka betah tinggal sementara di rumah singgah," tandasnya.