- Pemprov Banten berkomitmen memfasilitasi ritual Ngaruat Gunung masyarakat adat Baduy di Sanghyang Sirah dan Gunung Honje.
- Sebanyak 1.552 warga Baduy menyampaikan amanat pelestarian alam kepada Gubernur Banten saat acara Seba Baduy 2026.
- Ritual tersebut merupakan upaya masyarakat adat menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah ulayat maupun kawasan penting lainnya.
SuaraBanten.id - Komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten untuk menghargai dan mendukung kearifan lokal masyarakat adat kembali ditunjukkan.
Pemprov Banten secara tegas mendukung pelaksanaan ritual Ngaruat Gunung atau Ngaraksa Gunung Ngarawat Alam yang akan digelar oleh masyarakat adat Baduy di sejumlah titik sakral, termasuk kawasan Sanghyang Sirah dan Gunung Honje.
Dukungan ini ditegaskan oleh Gubernur Banten, Andra Soni, usai menerima amanat pelestarian alam dari 1.552 warga adat Baduy dalam puncak prosesi Seba Baduy 2026 yang mengusung tema “Ngajaga Amanat, Ngarumat Jagat” di Gedung Negara, Kota Serang, Sabtu malam.
Kehadiran 1.552 warga Baduy dalam tradisi Seba, yang secara langsung menyampaikan pesan kepada pemerintah daerah, menunjukkan betapa pentingnya isu pelestarian alam bagi mereka.
Baca Juga:Waspada! 24 Warga Badui Digigit Ular Mematikan Sejak Awal Tahun
Masyarakat Baduy, dengan cara hidupnya yang selaras dengan alam, adalah penjaga ekosistem yang patut menjadi inspirasi.
Gubernur Banten, Andra Soni, menegaskan komitmen Pemprov untuk memfasilitasi pelaksanaan ritual Ngaruat Gunung tersebut.
"Melalui Dinas Lingkungan Hidup, kita akan berkoordinasi dengan Kabupaten Lebak dan Pandeglang terkait apa yang disampaikan. Termasuk harapan mereka untuk melaksanakan ritual di Sanghyang Sirah dan Gunung Honje, mudah-mudahan bisa kita fasilitasi,” ujar Andra Soni.
Gubernur sangat mengapresiasi ketaatan warga Kanekes yang teguh memegang amanah leluhur dalam menjaga keseimbangan alam. Filosofi mereka yang berbunyi gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak (gunung jangan dihancurkan, lembah jangan dirusak) dinilai selaras dengan program pemerintah dalam melestarikan lingkungan hidup.
Sementara itu, Kepala Desa Kanekes sekaligus Jaro Pamarentah, Jaro Oom, menjelaskan bahwa kehadiran warga Badui menemui Bapak Gede (Gubernur) merupakan bagian dari prosesi adat pascapanen (ngalaksa) untuk menyampaikan mandat dari lembaga adat dan instruksi Puun Badui
Baca Juga:Datangi Gubernur, Ribuan Warga Badui Desak Kelestarian Hutan Lindung Banten Tetap Terjaga
Menurut Jaro Oom, pesan untuk menjaga keselarasan antara manusia dan alam ini tidak hanya dikhususkan bagi tanah ulayat, melainkan juga wilayah-wilayah penting di luarnya.
Wilayah tersebut meliputi Sanghyang Sirah, Ujung Kulon, Gunung Honje, Ujung Genteng, Tanjung Lesung, hingga kawasan Gunung Jagabrekat yang membentang dari Gunung Karang, Gunung Sanggabuana di Jawa Barat, hingga Gunung Liman di Jawa Timur.
“Kami menegaskan komitmen untuk terus menjalankan aturan adat. Kami menjalankan ritual sakral untuk menyelamatkan gunung, sungai, dan hutan. Kami ngaraksa gunung ngarawat alam,” tegas Jaro Oom.
Pelaksanaan ritual di luar wilayah ulayat ini rencananya akan dilakukan secara rutin oleh masyarakat Badui sebagai bentuk komitmen nyata dalam merawat bumi demi keberlanjutan generasi mendatang. [Antara].