SuaraBanten.id - Perjuangan Saqila Maulidya (4) melawan kanker mata ganas tidak hanya menjadi cerita tentang ketabahan seorang anak. Lebih dari itu, kisahnya adalah sebuah cermin pahit tentang bagaimana warga kecil bisa tersesat di dalam labirin birokrasi kesehatan, hingga akhirnya menemukan secercah harapan bukan dari sistem yang mapan, melainkan dari tangan-tangan relawan yang hadir.
Putri dari pasangan Sanari (27) dan Imroatun Solehah (24) warga Kampung Pagenjahan, Desa Pagenjahan, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten ini awalnya harus menghadapi tembok tinggi saat vonis dugaan tumor pertama kali dijatuhkan sebelum mengetahui putrinya mengidap kangker.
Ketakutan, kebingungan, dan yang paling krusial, ketiadaan dokumen administrasi seperti Kartu Keluarga dan BPJS, membuat langkah mereka untuk mencari pengobatan terhenti bahkan sebelum benar-benar dimulai.
“Saya nggak percaya, seumur hidup belum pernah ngalamin begini,” kenang Iim, ibunda Saqila, saat mengingat momen pertama kali mendengar diagnosis dokter.
Pukulan itu terasa semakin berat karena tanpa BPJS, pintu rumah sakit rujukan terasa begitu jauh.
Mereka baru bisa mengurus semua administrasi dua bulan setelah diagnosis awal, sebuah jeda waktu yang sangat berharga dalam pertarungan melawan kanker.
Setelah akhirnya mendapat rujukan berjenjang dari Puskesmas Kronjo hingga RSCM Jakarta, vonis kanker itu pun resmi diberikan.
Namun, birokrasi dan ketidaktahuan membuat mereka kembali gamang. Penjelasan dokter mengenai proses operasi yang rumit justru menenggelamkan mereka dalam ketakutan yang lebih dalam.
“Kita orang awam, nggak ngerti peraturan rumah sakit. Jadi sempat berhenti,” tutur Iim, mengakui keputusasaan mereka saat itu.
Baca Juga: Ibu Hamil di Cibodas Tidur Pakai Masker Tiga Lapis, Akibat Pembakaran Sampah Ilegal di Cibodas
Saat mereka berhenti, kanker terus berjalan. Kondisi Saqila memburuk drastis, matanya membesar, dan tangis kesakitan tak lagi bisa ditahan.
Di titik terendah inilah, Sanari dan Iim memutuskan untuk berjuang sendiri. Mereka menyewa mobil pribadi, menghabiskan tabungan, bahkan memilih untuk tidak melapor ke aparat desa karena merasa bisa menanggung beban itu berdua.
Harapan baru datang bukan dari program pemerintah yang proaktif, melainkan dari informasi mulut ke mulut yang sampai ke telinga para relawan Yayasan RC Badak.
Yayasan inilah yang kemudian menjemput Saqila dan keluarganya, memberikan mereka tempat bernaung di rumah singgah kanker, hanya beberapa ratus meter dari Kantor Pemkab Tangerang.
Setelah kisah Saqila mulai terangkat berkat peran para relawan, barulah perhatian dari pemerintah mulai berdatangan.
Pemerintah desa hingga Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, turun tangan memberikan bantuan.
Berita Terkait
-
Ibu Hamil di Cibodas Tidur Pakai Masker Tiga Lapis, Akibat Pembakaran Sampah Ilegal di Cibodas
-
Oknum Ketua RT dan RW Pemeras Kontraktor di Tangerang Terancam 9 Tahun Penjara
-
Premanisme Berkedok Jabatan, Oknum RT RW Palak Kontraktor Proyek Miliaran di Tangerang
-
Polisi Ungkap Ciri-ciri Mayat Wanita dalam Drum yang Ditemukan di Sungai Cisadane
-
Dana BOS 7 Sekolah di Tangerang Rp878 Juta Jadi Temuan BPK, Kadindik Bilang 'Salah Admin'
Terpopuler
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Bedak Apa yang Bikin Muka Glowing? Ini 7 Rekomendasi Andalannya
- 7 Sepatu Running Adidas dengan Sol Paling Empuk dan Stabil untuk Pelari
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
Pilihan
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
-
Liburan Keluarga Berakhir Pilu, Bocah Indonesia Ditabrak Mati di Singapura
-
Viral Oknum Paspampres Diduga Aniaya Driver Ojol di Jakbar, Dipicu Salah Titik dan Kata 'Monyet'
-
Hasil Rapat DPR: Pasien PBI BPJS Tetap Dilayani, Pemerintah Tanggung Biaya Selama 3 Bulan
-
OJK Bongkar Skandal Manipulasi Saham, PIPA dan REAL Dijatuhi Sanksi Berat
Terkini
-
Misteri Bau Menyengat di Kali Serpong Terjawab, Ini Penyebabnya
-
Sungai di Serpong Berbusa dan Berbau Tajam, Diduga Tercemar Limbah Kimia Industri
-
Puluhan Ribu Peserta BPJS PBI di Tangerang Dinonaktifkan, DPRD: Pemkot Harus Hadir
-
Banten Kembangkan Pariwisata Olahraga, Infrastruktur Jadi Tantangan Utama
-
Anggota Komisi VII DPR RI Minta Kota Mandiri Integrasikan Pariwisata dengan UMKM Lokal