- Sebanyak 49 siswa MTs Al-Inayah Kota Cilegon diduga mengalami keracunan makanan bergizi gratis pada Kamis malam, 16 April 2026.
- Para siswa mengalami gejala seperti demam, pusing, serta mual dan segera dilarikan ke tiga puskesmas berbeda di Cilegon.
- Polres Cilegon sedang melakukan penyelidikan mendalam melalui pemeriksaan saksi serta uji laboratorium terhadap sampel makanan dan darah korban.
SuaraBanten.id - Puluhan siswa MTs Al-Inayah, Kota Cilegon, Banten dilarikan ke tiga puskesmas di Kota Cilegon, Kamis 16 April 2026 malam. 49 siswa yang diduga keracunan menu makan bergizi gratis (MBG) itu dilarikan ke Puskesmas Cibeber, Jombang dan Cilegon.
Puluhan siswa MTs Al-Inayah itu dilarikan sekira pukul 20.00 WIB. Mereka mengalami gejala demam, pusing setelah mengkonsumsi menu makan bergizi gratis.
Peristiwa tersebut dibenarkan Kapolres Cilegon, AKBP Martua Silitonga. Kata dia, siswa yang mengalami gangguan pencernaan usai menyantap menu MBG dibawa ke sejumlah puskesmas.
"Hasil data, pas kami datang kesana, ada 8 orang yang ada di Puskesmas Cibber. Tetapi Ada juga di Puskemas Jombang dan Puskemas Cilegon," katanya saat dikonfirmasi awak media, Jumat 17 April 2026.
Baca Juga:Jangan Sekadar Formalitas! Wali Kota Cilegon Tegaskan Musrenbang Harus Berdampak
"Yang ada di puskemas Cibeber ada 8 orang, tetapi kami mengecek informasi yang ada di data, kurang lebih ada 49 orang," ungkapnya.
![Siswa MTs Al-Inayah yang diduga keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) menjalani perawatan di Puskesmas Cibeber, Kota Cilegon. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/17/11523-siswa-mts-al-inayah-menjalani-perawatan-di-puskesmas-cibeber-kota-cilegon-istimewa.jpg)
Ia memaparkan, gejala atau gangguan kesehatan yang dialami siswa berbeda-beda. Ada yang mengalami mual, pusing dan juga gejala lainnya. Kapolres Cilegon mengaku menginventarisir siswa yang diduga keracunan.
Menurutnya, ketika korban mengkonsumsi lalu keracunan, kemungkinan tubuh bisa langsung seketika bereaksi dan bisa juga setelahnya.
"Reaksi dari psikologis tubuh setiap orang tergantung waktu. Itu berbeda-beda. Jadi bisa saja setelah mengkonsumsi makanan tersebut, langsung bereaksi seketika tetapi bisa saja kemudian," paparnya.
Lebih lanjut, Silitonga menyebut adanya peristiwa tersebut harus dilakukan uji laboratorium. Karena keracunan tidaknya siswa disesuaikan dengan darah yang diambil.
Baca Juga:PAN Cilegon Target Kader Aktif Bermedsos dan Nyambung dengan Anak Muda
"Kenapa harus uji benar, kandungan di makanan itu, kandungan di bahan baku di makanan itu, mapun dikaitkan konect ngga dia (keracunan), nyambung ngga, dengan apa yang kita ambil dari darah. Karena adik-adik kita bersekolah di madrasah, nanti kita akan berkoordinasi dengan memberikan pelayanan aktif," imbuhnya.
Pihaknya saat ini masih melakukan penyelidikan. Kepolisian akan meminta keterangan sejumlah pihak dan melakukan pemeriksaan uji laboratorium.
Kontributor : Yandi Sofyan