-
Tragedi Pembunuhan Anak Politikus PKS Maman Suherman, politikus PKS, berduka atas kematian tragis anaknya, Axle (9), yang menjadi korban pembunuhan di Cilegon. Awalnya, ia mengira luka parah sang anak disebabkan karena jatuh dari tangga rumahnya.
-
Kronologi Penemuan dan Kepanikan Ayah Melalui panggilan video dari sang kakak, Maman mengetahui kondisi Axle yang bersimbah darah. Meski sempat memberikan bantuan pernapasan dan membawa korban ke rumah sakit, nyawa Axle tidak dapat tertolong lagi.
-
Penangkapan Pelaku dan Tuntutan Keadilan Polisi berhasil menangkap pelaku berinisial HA di Cilegon saat sedang mencuri. Maman mendesak agar pelaku dihukum seberat-beratnya, termasuk hukuman mati, sesuai aturan hukum yang berlaku demi keadilan bagi almarhum.
SuaraBanten.id - Politikus PKS, Maman Suherman sekaligus ayah dari Muhamad Axle Haman Miller (9) membeberkan dirinya sempat tak menyangka anaknya menjadi korban pembunuhan lantaran mengira hanya jatuh dari tangga di kediamannya di Perumahan BBS 3, Ciwaduk, Kota Cilegon, Banten pada Selasa (16/12/2025) lalu.
Hal itu disampaikan Maman saat menceritakan detik-detik mencekam dalam hidupnya kepada awak media, Rabu (7/1/2026) kemarin. Diakui Maman, saat itu dirinya tengah berada di kantor sebelum menerima kabar dari anaknya yang lain Dafara (11) bahwa adiknya Axle (9) berdarah.
"Jadi jam 14.10 WIB mendapat telepon video call dari anak sata, dia teriak 'Axle berdarah'. Saya kaget, teriak, saya masih dalam kantor nih, saya pikir Axle ini jatuh dari tangga," kata Maman.
Maman mengaku, saat itu dirinya pun langsung panik usai melihat kondisi Axle usai ditunjukkan oleh kakaknya lewat panggilan video. Sehingga ia pun bergegas pulang dari kantor menuju kediamannya.
Baca Juga:TPAS Cilowong Tutup buat Tangsel, Tapi Aman buat Pemkab Serang; Ada Apa dengan Sampah Tetangga?
"Saya ambil kunci (mobil) di meja resepsionis dan langsung tanpa, hanya dalam waku 4 menit dari sini (Citangkil) ke rumah (Ciwaduk). Karena saya udah ga kontrol bawa kendaraan karena saking paniknya," ujarnya.
Sampai di rumah, kata Maman, hal pertama yang diperhatikan olehnya adalah teras rumah tetangganya lantaran masih berpikiran kalau anaknya berdarah karena jatuh.
"Ketika pintu gerbang dibuka, itu dibukain sama anak saya, saya ga lihat kemana-mana, tapi tertuju ke lantai dasar (rumah) tetangga karena saya pikir jatuh karena saking kalutnya," ungkap Maman.
Dikatakan Maman, dirinya bergegas masuk ke rumah dan menuju lantai 2 yang merupakan lokasi kamar tidur korban. Saat itu korban ditemukan dalam keadaan setengah tertelungkup penuh darah.
"Saya liat ke atas (lantai 2) di depan lemari tempat dia (korban) shalat, dan di situlah juga dia dalam keadaan terbaring agak tertelungkup dikit, mukanya agak miring. Saya balikin mukanya, saya tiup untuk bantu pernapasan," tuturnya.
Baca Juga:GMNI Tangerang Tolak Keras Wacana Pilkada Dipilih DPRD: Rakyat Bukan Penonton
"Saya giniin, dibopong, diangkat dan pas tangga ketiga itu merosot karena darah, sata minta bantuan anak minta dilurusin (tubuh korban) biar ga jatuh, terus saya bawa ke mobi. Anak saya (Dafara) suruh masuk dan kepala almarhun itu saya taruh dilahunan (pangkuan) kakaknya," imbuh Maman.
Diakui Maman, dirinya baru sadar anaknya mengalami pendarahan hebat bukan karena terjatuh dari tangga saat kakak korban melihat luka sayatan di tubuh korban ketika perjalanan menuju Rumah Sakit Bethsaida, Kota Cilegon.
"Dalam perjalanan ke rumah sakit itu saya baru ngeuh, baru sadar pas anak saya cerita 'Pah ini ada sayatan'," ucap Maman mencoba menirukan perkataan kakak korban.
Disampaikan Maman, korban tidak lama mendapat perawatan di rumah sakit dikarenakan sudah dalam keadaan meninggal dunia sehingga membuatnya menangis histeris harus menerina kenyataan pahit tersebut.
"Saya hanya meyakini gimana caranya nyelamatin anak, dan ketika itu anak saya sudah ga ada pun saya ga tau. Pada saat di sana (rumah sakit) beberapa menit kemudian, pihak Rumah Sakit Bethsaida ga mau menyebutkan ke saya, tidak menyebut meninggal dunia, tapi (bilang) sudah tidak ada," ungkap Maman.
"Dari situ saya langsung histerus, gimana ya namanya kehilangan anak, merasakan kepedihan, stres, panik itu bercampur aduk," sambung dia.