Perajin batik lainnya, Dedi mengaku saat ini permintaan konsumen meningkat tajam dari sebelumnya omzet Rp3 juta, namun kini bisa mencapai Rp20 juta.
Kebanyakan permintaan batik itu melalui jejaring internet secara online yang menjadi andalan, bahkan siang tadi mengirim pesanan ke wilayah Serang.
Selain itu juga saat ini permintaan untuk Plaza Komoditi Lebak cukup banyak hingga 50 potong.
"Kami berharap omzet pendapatan kembali normal usai pandemi, " kata Dedi.
Baca Juga:PAUD Anyelir Karang Tengah Tangerang Disegel, Dugaan Pungli Diungkap Security
Hal serupa juga diungkapkan Yusup, pengelola Rumah Batik Lebak Sehati mengatakan, permintaan konsumen kembali meningkat dari 20 potong kini menjadi 80 potong.
Kebanyakan konsumen di sini dari kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS), BUMN dan BUMD. Produksi batik Lebak memiliki 12 motif antara lain motif Seren Taun, Sawarna, Gula Sakojor, Pare Sapocong, Kahirupan Baduy, Leuit Sijimat, Rangkasbitung, Caruluk Saruntuy, Lebak Bertauhid, Angklung Buhun, Kalimaya, dan Sadulur.
"Kami mengapresiasi kebijakan pemerintah daerah mewajibkan ASN memakai batik Lebak," kata Yusuf.
Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, Abdul Waseh Rahmat mengatakan pemerintah daerah mendorong pelaku usaha batik lokal agar meningkatkan kualitas sehingga bisa bersaing pasar.
Saat ini, mereka pelaku kerajinan batik Lebak tumbuh dan berkembang. Bahkan, kini permintaan batik Lebak di Plaza Komoditi meningkat, terlebih dengan beroperasinya jalan tol Rangkasbitung-Serang.
Baca Juga:Menguak Dugaan Pungutan Liar di Karang Tengah Tangerang, Ini Pengakuan Security Komplek
"Kami terus membina dan menampung hingga mempromosikan batik Lebak, karena dapat menyumbangkan ekonomi masyarakat setempat," kata Abdul Waseh.