Andi Ahmad S
Jum'at, 19 Juni 2026 | 22:48 WIB
Saluran irigasi air dari Sungai Ciujung yang diduga tercemar saat mengairi persawahan di wilayah Kecamatan Tirtayasa [Yandi Sofyan/SuaraBanten]
Baca 10 detik
  • Petani di Kecamatan Tanara dan Tirtayasa mengeluhkan kondisi Sungai Ciujung yang tercemar limbah sejak dua minggu terakhir.
  • Pencemaran air menyebabkan penurunan hasil panen padi secara drastis serta peningkatan biaya perawatan tanaman bagi para petani.
  • Kondisi air yang berbau dan menghitam menghalangi petani menanam sayuran untuk pendapatan tambahan kebutuhan hidup sehari-hari.

SuaraBanten.id - Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, mungkin pribahasa itu lah yang cocok menggambarkan kondisi para petani di wilayah Kabupaten Serang bagian Utara atau tepatnya di Kecamatan Tanara dan Kecamatan Tirtayasa.

Bukan tanpa sebab, lahan garapan mereka yang berdampingan dengan aliran Sungai Ciujung adalah alasannya. Pasalnya, kondisi aliran sungai sepanjang 142 kilometer tersebut saat ini diduga tercemar limbah. Airnya berubah menjadi hitam dan mengeluarkan bau tak sedap.

Salah seorang petani asal Desa Laban, Kecamatan Tirtayasa, Roni (58) mengaku, sawah garapan seluas 1 hektar miliknya tergantung pada air yang berasal dari Sungai Ciujung sejak berpuluh-puluh tahun silam.

Namun, sudah lebih 2 Minggu ini, kondisi Sungai Ciujung kembali mengalami perubahan warna menjadi hitam dan berbau tak sedap. Meski menurutnya, situasi tersebut sudah kerap dirasakan olehnya semenjak banyak berdiri pabrik-pabrik di Kabupaten Serang bagian Timur.

"Udah lama kondisinya suka begitu (Sunga Ciujung berwarna hitam dan berbau tak sedap). Udah puluhan tahun. Jadi kayak tahunan aja, apalagi kalau kemarau, jadi item," kata Roni ditemui disela-sela aktivitasnya di sawah di Desa Laban, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Kamis (18/6/2026).

Diakui Roni, kondisi air Sungai Ciujung yang berwarna hitam dan berbau tak sedap membuat hasil panen padi di lahan miliknya mengalami penurunan drastis. Tak hanya itu, ia pun terpaksa harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli obat untuk tanaman padi miliknya agar lebih tahan terhadap penyakit, terutama yang diakibatkan oleh air yang diduga tercemar limbah tersebut.

"Emang bau, tapi kalau bau sih ga terlalu masalah sebetulnya buat padi. Biasanya kalau airnya bagus itu panen bisa sampai 7 ton, tapi kalau kondisi air begini paling 4 ton, paling tinggi 5 ton. Jauh emang hasilnya," ungkap Roni.

"Ini saya aja harus beli obat buat padi bisa sampai Rp3 juta. Kalau air bagus sih ya paling Rp1, 5 juta abisnya, imbuhnya.

Tak hanya itu, tercemarnya Sungai Ciujung turut mempengaruhi terhadap perekonomian kehidupannya. Sebab, sawah garapan seluas 1 hektar merupakan sumber penghidupan bagi Roni dan keluarganya sejak puluhan tahun silam.

Baca Juga: Ibu Rumah Tangga Jadi Pengedar, Ambil 3.453 Paket Sabu di Tong Sampah Minimarket Bojonegara

Kata Roni, kondisi Sungai Ciujung yang menghitam dan berbau tak sedap membuat dirinya tak bisa mencari uang tambahan dengan menanam sayur-sayuran di lahan garapannya untuk kebutuhan belanja sehari-hari.

"Aturan kita bisa nanam sayuran buat belanja sehari-hari jadi ga bisa nanam. Sementara padi kan panennya lama, bisa 4 bulan. Kalau kita nanam kacang atau timun paling 40 hari udah bisa panen, kita masih bisa terus metik tuh selama 3 bulan sebelum pohonnya mati. Jadi lumayan buat belanja sehari-hari, sambil nunggu padi panen," terang Roni.

"Tapi sekarang udah ga bisa (nanam sayuran) karena air kalinya tercemar. Kalau sayuran kayak kacang, timun, tomat, cabe itu 2 hari langsung mati pohonnya," keluh Roni.

Disampaikan Roni, kondisi air Sungai Ciujung yang berubah menjadi hitam dan berbau tak sedap bukan hanya menyulitkan dirinya sebagai petani, namun turut berdampak pada kehidupan sehari-hari yang ingin mendapatkan hidup dengan nyaman karena bau yang ditimbulkan mengganggu saat siang dan malam hari.

"Kita udah dirugikan dari tanaman, terus baunya menyengat kemana-mana," tandasnya.

Kontributor : Yandi Sofyan

Load More