- Petani di Kecamatan Tanara dan Tirtayasa mengeluhkan kondisi Sungai Ciujung yang tercemar limbah sejak dua minggu terakhir.
- Pencemaran air menyebabkan penurunan hasil panen padi secara drastis serta peningkatan biaya perawatan tanaman bagi para petani.
- Kondisi air yang berbau dan menghitam menghalangi petani menanam sayuran untuk pendapatan tambahan kebutuhan hidup sehari-hari.
SuaraBanten.id - Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, mungkin pribahasa itu lah yang cocok menggambarkan kondisi para petani di wilayah Kabupaten Serang bagian Utara atau tepatnya di Kecamatan Tanara dan Kecamatan Tirtayasa.
Bukan tanpa sebab, lahan garapan mereka yang berdampingan dengan aliran Sungai Ciujung adalah alasannya. Pasalnya, kondisi aliran sungai sepanjang 142 kilometer tersebut saat ini diduga tercemar limbah. Airnya berubah menjadi hitam dan mengeluarkan bau tak sedap.
Salah seorang petani asal Desa Laban, Kecamatan Tirtayasa, Roni (58) mengaku, sawah garapan seluas 1 hektar miliknya tergantung pada air yang berasal dari Sungai Ciujung sejak berpuluh-puluh tahun silam.
Namun, sudah lebih 2 Minggu ini, kondisi Sungai Ciujung kembali mengalami perubahan warna menjadi hitam dan berbau tak sedap. Meski menurutnya, situasi tersebut sudah kerap dirasakan olehnya semenjak banyak berdiri pabrik-pabrik di Kabupaten Serang bagian Timur.
"Udah lama kondisinya suka begitu (Sunga Ciujung berwarna hitam dan berbau tak sedap). Udah puluhan tahun. Jadi kayak tahunan aja, apalagi kalau kemarau, jadi item," kata Roni ditemui disela-sela aktivitasnya di sawah di Desa Laban, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Kamis (18/6/2026).
Diakui Roni, kondisi air Sungai Ciujung yang berwarna hitam dan berbau tak sedap membuat hasil panen padi di lahan miliknya mengalami penurunan drastis. Tak hanya itu, ia pun terpaksa harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli obat untuk tanaman padi miliknya agar lebih tahan terhadap penyakit, terutama yang diakibatkan oleh air yang diduga tercemar limbah tersebut.
"Emang bau, tapi kalau bau sih ga terlalu masalah sebetulnya buat padi. Biasanya kalau airnya bagus itu panen bisa sampai 7 ton, tapi kalau kondisi air begini paling 4 ton, paling tinggi 5 ton. Jauh emang hasilnya," ungkap Roni.
"Ini saya aja harus beli obat buat padi bisa sampai Rp3 juta. Kalau air bagus sih ya paling Rp1, 5 juta abisnya, imbuhnya.
Tak hanya itu, tercemarnya Sungai Ciujung turut mempengaruhi terhadap perekonomian kehidupannya. Sebab, sawah garapan seluas 1 hektar merupakan sumber penghidupan bagi Roni dan keluarganya sejak puluhan tahun silam.
Baca Juga: Ibu Rumah Tangga Jadi Pengedar, Ambil 3.453 Paket Sabu di Tong Sampah Minimarket Bojonegara
Kata Roni, kondisi Sungai Ciujung yang menghitam dan berbau tak sedap membuat dirinya tak bisa mencari uang tambahan dengan menanam sayur-sayuran di lahan garapannya untuk kebutuhan belanja sehari-hari.
"Aturan kita bisa nanam sayuran buat belanja sehari-hari jadi ga bisa nanam. Sementara padi kan panennya lama, bisa 4 bulan. Kalau kita nanam kacang atau timun paling 40 hari udah bisa panen, kita masih bisa terus metik tuh selama 3 bulan sebelum pohonnya mati. Jadi lumayan buat belanja sehari-hari, sambil nunggu padi panen," terang Roni.
"Tapi sekarang udah ga bisa (nanam sayuran) karena air kalinya tercemar. Kalau sayuran kayak kacang, timun, tomat, cabe itu 2 hari langsung mati pohonnya," keluh Roni.
Disampaikan Roni, kondisi air Sungai Ciujung yang berubah menjadi hitam dan berbau tak sedap bukan hanya menyulitkan dirinya sebagai petani, namun turut berdampak pada kehidupan sehari-hari yang ingin mendapatkan hidup dengan nyaman karena bau yang ditimbulkan mengganggu saat siang dan malam hari.
"Kita udah dirugikan dari tanaman, terus baunya menyengat kemana-mana," tandasnya.
Kontributor : Yandi Sofyan
Berita Terkait
-
Ibu Rumah Tangga Jadi Pengedar, Ambil 3.453 Paket Sabu di Tong Sampah Minimarket Bojonegara
-
Sungai Ciujung Menghitam dan Berbau Menyengat, Warga Serang: Mau Tidur Saja Enggak Nyaman
-
Libur Sekolah Dongkrak Mobilitas Udara, Jutaan Penumpang Diprediksi Padati Bandara
-
Anak Korban Pembunuhan di Gelam Serang Murka: Ibu Saya Tak Minta Uang, Justru Dia yang Matre
-
Gagal Masuk Negeri? Jangan Cemas, 800 Lebih Sekolah Swasta di Banten Kini Gratis
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
Terkini
-
Ibu Rumah Tangga Jadi Pengedar, Ambil 3.453 Paket Sabu di Tong Sampah Minimarket Bojonegara
-
Sungai Ciujung Menghitam dan Berbau Menyengat, Warga Serang: Mau Tidur Saja Enggak Nyaman
-
Sering Kirim Santri ke Luar Negeri, Ponpes Darul Quran Tangerang Dibekali Ini
-
Libur Sekolah Dongkrak Mobilitas Udara, Jutaan Penumpang Diprediksi Padati Bandara
-
Pertamax Naik Rp4.000 Per Liter, Warga Tangerang Ramai-ramai Turun Kelas ke Pertalite