Banjir akibat curah hujan tinggi merendam 269 hektar sawah di Kabupaten Lebak, dengan 50 hektar dipastikan gagal panen (puso) dan 73 hektar lainnya terancam. Kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp500 juta, di mana beberapa wilayah terendam air setinggi 1,5 meter selama dua pekan.
Banjir ini terjadi saat usia padi rata-rata mencapai 80 hari setelah tanam, yang seharusnya siap dipanen pada Februari 2026. Hal ini menyebabkan para petani kehilangan potensi hasil produksi tepat sebelum masa panen tiba.
Pemerintah Kabupaten Lebak merespons dengan menyiapkan bantuan benih dan pupuk untuk percepatan tanam ulang, serta melakukan langkah preventif berupa normalisasi saluran air untuk meminimalisir luapan banjir susulan di masa mendatang.
SuaraBanten.id - Harapan petani di Kabupaten Lebak, Banten, untuk menikmati hasil panen raya di awal tahun harus pupus seketika.
Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut tanpa henti dalam beberapa hari terakhir memicu banjir besar yang tidak hanya merendam pemukiman, tetapi juga menenggelamkan lumbung pangan warga.
Data terbaru yang dirilis oleh Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak pada Rabu (21/1) menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Sebanyak 269 hektare lahan persawahan produktif kini tergenang air.
Situasi ini menjadi pukulan telak bagi sektor ketahanan pangan lokal, mengingat sebagian besar padi yang terendam sudah memasuki fase krusial menjelang panen.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, membeberkan fakta pahit di lapangan. Berdasarkan asesmen timnya, puluhan hektare lahan sudah dipastikan mati total alias puso.
"Dari luas 269 hektare itu di antaranya yang dinyatakan puso atau gagal panen seluas 50 hektare dan 73 hektare terancam puso," kata Rahmat Yuniar, dilansir dari Antara.
Tragisnya, padi-padi yang menjadi korban banjir ini rata-rata sudah berusia 80 hari setelah tanam (HST). Artinya, bulir padi sudah mulai berisi dan dipastikan Februari mendatang sudah memasuki musim panen. Namun, alih-alih menguning, tanaman tersebut kini membusuk di bawah rendaman air.
Kemungkinan besar banjir terus meluas, karena hingga kini curah hujan cukup tinggi, bahkan sepanjang Rabu sejak dini hari hingga siang ini masih berlangsung. Hal ini membuat angka luasan terdampak berpotensi terus bertambah.
Bencana banjir lahan pertanian ini tersebar di beberapa lumbung padi Lebak, yakni Kecamatan Cilograng, Cibadak, Malingping, dan Wanasalam. Namun, kondisi paling ekstrem dilaporkan terjadi di Desa Cisangu, Kecamatan Cibadak.
Baca Juga: Siapa Pelakunya? Teka-teki Pembongkaran Makam Warga di Jawilan, Polisi Buru Jejak yang Tertinggal
Di wilayah ini, seluas 50 hektare sawah terendam air setinggi 1,5 meter. Yang membuat situasi semakin parah, genangan ini sudah berlangsung selama 15 hari tanpa surut signifikan, mengakibatkan batang tanaman padi mati total karena kehabisan oksigen dan membusuk.
Kerugian materiil yang diderita petani pun tidak main-main. Distan Lebak telah melakukan kalkulasi kasar mengenai dampak ekonomi dari bencana ini.
"Kami memperkirakan kerugian puso itu Rp500 juta dari seluas 50 hektare dengan biaya produksi Rp10 juta per hektare," kata Rahmat merinci beban yang harus ditanggung petani.
Rahmat menegaskan bahwa pemerintah daerah menyiapkan penyaluran bantuan sarana produksi berupa benih padi dan pupuk kepada petani yang dinyatakan gagal panen.
Penyaluran bantuan sarana produksi tersebut diharapkan petani bisa melakukan percepatan tanam pada Februari mendatang, menggantikan tanaman yang mati.
Selain bantuan logistik, strategi teknis juga disiapkan. Pihaknya juga mengantisipasi banjir dengan melibatkan petani untuk menormalisasikan saluran air, agar tidak menimbulkan luapan air ke areal persawahan jika curah hujan tinggi kembali terjadi.
Berita Terkait
-
Siapa Pelakunya? Teka-teki Pembongkaran Makam Warga di Jawilan, Polisi Buru Jejak yang Tertinggal
-
Mengenang Capt. Andy Dahananto: Dikenal Ramah dan Sosialis di Mata Warga Tigaraksa
-
Jual Nama Orang Dalam Akpol, Pria 54 Tahun Ditangkap Setelah Aksi Kejar-kejaran Dramatis di Banten
-
Buntut KDRT dan Gugatan Cerai? ART di Serang Jadi Korban Penusukan Brutal
-
3 Spot Trekking Hidden Gem di Lebak Banten buat Healing Low Budget
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Tak Nyangka Diberi Rumah dan Mobil, Atlet Difabel Handayani: Ini Motivasi Buat Terus Berprestasi
-
Dari Serang, Jakarta hingga Sukabumi: Kronologi Polresta Serang Kota Gagalkan Peredaran 8,8 Kg Sabu
-
1.100 Korban PHK PT PWI 6 Rangkasbitung Diprioritaskan Masuk Perusahaan Baru
-
Operasi Patuh Maung 2026 di Banten, Ini Daftar Titik yang Perlu Diwaspadai Pengendara
-
Nekat Angkut 32 Ribu Benur Lobster Tanpa Izin, Pria Asal Sukabumi Dihentikan Polisi di Lebak