Pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) yang mengangkut 10 orang (7 kru dan 3 penumpang dari KKP) dinyatakan hilang kontak dan jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Tim SAR telah menemukan serpihan pesawat serta satu jenazah di lokasi kejadian.
Salah satu korban utama dalam kecelakaan ini adalah Capt. Andy Dahananto, seorang pilot senior sekaligus Direktur Operasi IAT. Beliau merupakan lulusan Akademi Penerbangan Juanda yang telah lama tinggal di Tigaraksa, Tangerang, dan memiliki seorang putra yang juga berprofesi sebagai pilot.
Di lingkungan tempat tinggalnya, Capt. Andy dikenal sebagai sosok yang ramah, tegas, dan memiliki jiwa sosial tinggi. Tetangga dan pengurus lingkungan mengenangnya sebagai warga yang sangat peduli terhadap urusan lingkungan (kebersihan dan keamanan) serta selalu ringan tangan dalam membantu warga yang kesulitan.
SuaraBanten.id - Dunia penerbangan Indonesia kembali berduka. Jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1) menyisakan kesedihan mendalam.
Di balik tragedi tersebut, terdapat sosok sentral yang memegang kendali burung besi itu, yakni Capt. Andy Dahananto.
Bukan sekadar pilot biasa, Capt. Andy diketahui menjabat sebagai Direktur Operasi Indonesia Air Transport. Pria yang dikenal berdedikasi tinggi ini diduga gugur bersama enam kru dan tiga penumpang lainnya saat menjalankan tugas.
Kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka bagi industri aviasi, tetapi juga bagi warga Perumahan PWS, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, tempat ia bermukim selama lebih dari tiga dekade.
Bagi warga milenial mungkin sosok pilot seringkali dianggap eksklusif dan jarang bersosialisasi. Namun, stereotip itu patah pada sosok Capt. Andy.
Ketua RT 06, Franciscus Nasir, mengenang mendiang sebagai figur yang sangat membumi. Sejak tinggal di sana pada tahun 1994 atau selama 31 tahun, almarhum dikenal sebagai tetangga yang ringan tangan atau suka membantu.
"Dia cukup lama. Dan beliau adalah sosok kepala keluarga yang sangat ramah dan orangnya tegas. Dan juga cukup sosial, membantu masyarakat ketika ada kesulitan apa saja," ucap Franciscus Nasir mengenang warganya tersebut, Senin (19/1).
Kepedulian Capt. Andy terhadap lingkungan tidak main-main. Di sela-sela kesibukannya yang padat sebagai pimpinan operasional maskapai, ia kerap turun tangan membantu permasalahan warga, mulai dari isu kebersihan hingga keamanan lingkungan perumahan.
Darah penerbangan mengalir deras di keluarga ini. Capt. Andy yang merupakan lulusan Akademi Penerbangan Juanda berhasil mewariskan kecintaannya pada dunia dirgantara kepada generasi penerusnya.
Baca Juga: Tangsel Perketat Pengawasan Darurat Sampah, Pelanggar Berulang Terancam Denda Administratif
Franciscus Nasir menuturkan, bahwa Capt Andy memiliki dua anak, yang satu udah selesai dan jadi pilot juga dari jurusan penerbangan dulu.
Duka juga dirasakan oleh tetangga dekatnya, Subandi Musibah. Ia tak menyangka pertemuan singkatnya dengan Capt. Andy usai pulang dari Jakarta akan menjadi momen terakhir. Subandi mengingat almarhum sempat menanyakan hal-hal sederhana namun hangat.
"Dia sempat menyapa kabar keluarga saya. Seperti gimana kondisi kesehatan hingga tanya soal liburan keluarga. Dia sangat ramah dan baik peduli lingkungan juga," ungkapnya.
Kini, rumah duka di Tigaraksa ramai dikunjungi pejabat pemerintah pusat dan daerah yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Istri dan anak Capt. Andy pun telah bertolak ke Makassar pada Senin dini hari untuk proses identifikasi jenazah.
Tragedi di perbatasan Maros-Pangkep ini melibatkan total 10 orang (7 kru dan 3 penumpang dari KKP). Tim SAR gabungan telah menemukan serpihan pesawat dan satu jenazah yang belum teridentifikasi di lokasi kejadian.
Berikut adalah daftar nama kru yang bertugas bersama Capt. Andy Dahananto:
Berita Terkait
-
Tangsel Perketat Pengawasan Darurat Sampah, Pelanggar Berulang Terancam Denda Administratif
-
Jual Nama Orang Dalam Akpol, Pria 54 Tahun Ditangkap Setelah Aksi Kejar-kejaran Dramatis di Banten
-
Buntut KDRT dan Gugatan Cerai? ART di Serang Jadi Korban Penusukan Brutal
-
3 Spot Trekking Hidden Gem di Lebak Banten buat Healing Low Budget
-
Waspada Pilih Pengasuh! Belajar dari Kasus Penculikan Balita di Serang, Dibawa Kabur Pakai Ojol
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Pemuda di Cikeusal Rudapaksa Siswi SD dan Paksa Korban Curi Emas Orang Tua Lewat Ancaman Video
-
5 Alasan Wajib Nonton Tradisi Seba Baduy: Ada Barongsai, Layar Tancap, Hingga Diplomat 10 Negara
-
Siapa yang Bermain? Polemik Kali Ciputat Jadi Ajang 'Saling Serang' Dewan vs Pengembang
-
Seba Baduy 2026 Mendunia! Diplomat 10 Negara Siap Saksi Ritual Adat dan Budaya Banten
-
'Saya Bukan Minta Uang', Anggota DPRD Lebak Semprot Kadis yang Cuek Saat Koordinasi