Andi Ahmad S
Senin, 19 Januari 2026 | 17:36 WIB
Tim SAR gabungan menemukan serpihan pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung [SuaraSulsel.id/Basarnas]
Baca 10 detik

Pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) yang mengangkut 10 orang (7 kru dan 3 penumpang dari KKP) dinyatakan hilang kontak dan jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Tim SAR telah menemukan serpihan pesawat serta satu jenazah di lokasi kejadian.

Salah satu korban utama dalam kecelakaan ini adalah Capt. Andy Dahananto, seorang pilot senior sekaligus Direktur Operasi IAT. Beliau merupakan lulusan Akademi Penerbangan Juanda yang telah lama tinggal di Tigaraksa, Tangerang, dan memiliki seorang putra yang juga berprofesi sebagai pilot.

Di lingkungan tempat tinggalnya, Capt. Andy dikenal sebagai sosok yang ramah, tegas, dan memiliki jiwa sosial tinggi. Tetangga dan pengurus lingkungan mengenangnya sebagai warga yang sangat peduli terhadap urusan lingkungan (kebersihan dan keamanan) serta selalu ringan tangan dalam membantu warga yang kesulitan.

SuaraBanten.id - Dunia penerbangan Indonesia kembali berduka. Jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1) menyisakan kesedihan mendalam.

Di balik tragedi tersebut, terdapat sosok sentral yang memegang kendali burung besi itu, yakni Capt. Andy Dahananto.

Bukan sekadar pilot biasa, Capt. Andy diketahui menjabat sebagai Direktur Operasi Indonesia Air Transport. Pria yang dikenal berdedikasi tinggi ini diduga gugur bersama enam kru dan tiga penumpang lainnya saat menjalankan tugas.

Kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka bagi industri aviasi, tetapi juga bagi warga Perumahan PWS, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, tempat ia bermukim selama lebih dari tiga dekade.

Bagi warga milenial mungkin sosok pilot seringkali dianggap eksklusif dan jarang bersosialisasi. Namun, stereotip itu patah pada sosok Capt. Andy.

Ketua RT 06, Franciscus Nasir, mengenang mendiang sebagai figur yang sangat membumi. Sejak tinggal di sana pada tahun 1994 atau selama 31 tahun, almarhum dikenal sebagai tetangga yang ringan tangan atau suka membantu.

"Dia cukup lama. Dan beliau adalah sosok kepala keluarga yang sangat ramah dan orangnya tegas. Dan juga cukup sosial, membantu masyarakat ketika ada kesulitan apa saja," ucap Franciscus Nasir mengenang warganya tersebut, Senin (19/1).

Kepedulian Capt. Andy terhadap lingkungan tidak main-main. Di sela-sela kesibukannya yang padat sebagai pimpinan operasional maskapai, ia kerap turun tangan membantu permasalahan warga, mulai dari isu kebersihan hingga keamanan lingkungan perumahan.

Darah penerbangan mengalir deras di keluarga ini. Capt. Andy yang merupakan lulusan Akademi Penerbangan Juanda berhasil mewariskan kecintaannya pada dunia dirgantara kepada generasi penerusnya.

Baca Juga: Tangsel Perketat Pengawasan Darurat Sampah, Pelanggar Berulang Terancam Denda Administratif

Franciscus Nasir menuturkan, bahwa Capt Andy memiliki dua anak, yang satu udah selesai dan jadi pilot juga dari jurusan penerbangan dulu.

Duka juga dirasakan oleh tetangga dekatnya, Subandi Musibah. Ia tak menyangka pertemuan singkatnya dengan Capt. Andy usai pulang dari Jakarta akan menjadi momen terakhir. Subandi mengingat almarhum sempat menanyakan hal-hal sederhana namun hangat.

"Dia sempat menyapa kabar keluarga saya. Seperti gimana kondisi kesehatan hingga tanya soal liburan keluarga. Dia sangat ramah dan baik peduli lingkungan juga," ungkapnya.

Kini, rumah duka di Tigaraksa ramai dikunjungi pejabat pemerintah pusat dan daerah yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Istri dan anak Capt. Andy pun telah bertolak ke Makassar pada Senin dini hari untuk proses identifikasi jenazah.

Tragedi di perbatasan Maros-Pangkep ini melibatkan total 10 orang (7 kru dan 3 penumpang dari KKP). Tim SAR gabungan telah menemukan serpihan pesawat dan satu jenazah yang belum teridentifikasi di lokasi kejadian.

Berikut adalah daftar nama kru yang bertugas bersama Capt. Andy Dahananto:

Load More