Di tempat yang sama, Nurhidayat yang mengaku sebagai wakil ketua RT setempat menjelaskan, ada sekira 200 KK di lingkungannya yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau.
“Tiap tahun kekeringan, di sini ada 200 KK tiap tahun kekeringan,” jelasnya.
Nurhidayat menerangkan, sehari-hari warga di lingkungannya itu menggunakan air bersih dari sumur galian. Tetapi, setiap musim kemarau sumur warga itu mengering.
“Kalau lagi kekeringan warga manfaatin air kali untuk nyuci, tapi nggak bisa dipakai minum karena udah tercampur limbah dari Lubana Sengkol,” terangnya.
Baca Juga:Rekomendasi NasDem Berlabuh ke Riza Patria-Marsehel Widianto
Cuci Pakaian di Saluran Kali Pembuangan
Cerita warga Setu Kota Tagerang Selatan (Tangsel) yang kekeringan dampak dari kemarau cukup miris. Mereka terpaksa mencuci baju di aliran kali saluran pembuangan tempat wisata Lubana Sengkol.
Aktivitas mencuci di saluran kali pembuangan ini dilakukan oleh warga RT 06 RW 02 Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangsel.
Mereka terpaksa mencuci di saluran kali pembuangan itu lantaran sumur di rumah sudah mengering. Jangankan untuk mencuci, untuk kebutuhan minum air bersih saja tidak ada.
Warga yang mengaku bernama Yoyoh (46) bercerita soal aktivitasnya mencuci baju di saluran kali pembuangan Lubana Sengkol itu.
Baca Juga:Rekomendasi NasDem Berlabuh Riza Patria-Marsehel Widianto
Yoyoh secara gamblang mengaku, sudah tahu bahwa air yang digunakan untuk mencuci baju keluarganya itu tak bersih, pembuangan dari tempat wisata.