"Ada tiga orang warga saya, enggak ada yang tau semua yang ada di Lingkungan Cikuasa warga yang tanda tangan itu tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk RT/RW," ungkapnya.
Bahkan, ia juga mengungkapkan proses terjadinya dukungan tersebut dilakukan secara sembunyi sembunyi, bahkan terkesan seperti penculikan.
"Itu diambil satu persatu orangnya, ada yang ngejemput di rumahnya terus dibawa keluar di warung katanya gitu, suruh menandatangani pendukungan gereja di atas materai, ngasi potokopi KK sama KTP," jelasnya.
Selain itu, Ia juga mengungkapkan bahwa warga yang dimintai tanda tangannya untuk pembangunan gereja merupakan warga yang kurang pemahaman soal agama, bahkan terdapat warga yang tidak bisa membaca.
"Mereka menculik warga kami, artinya mengajak tanpa musyawarah, tanpa sepengetahuan RT/RW. Makanya yang diajak itu orang-orang yang kurang pengetahuan soal agama," ungkap Fahyudi.
"Mereka (Warga) enggak punya HP, orang orang awam lah orang-orang enggak tau sebenernya mah, istilahnya kurang pemahaman lah gitu tuh, warga saya ada yang enggak bisa baca tapi dibacain," sambungnya.
Kata Fahyudi, warga dijemput dari kediamannya lalu dibawa ke suatu tempat kemudian menandatangani surat dukungan tersebut. Setelahnya, diberikan uang senilai Rp1 juta.
"Nah, dikasih uang Rp1 juta. Bahasanya untuk pendukungan persetujuan pembangunan gereja, tapi kalo ditelusuri satu satu itu macem-macem, ada yang untuk santunan yatimlah, ini dan itu," terangnya.
Meski demikian, Fahyudi menyebut kini warganya yang sempat memberikan dukungan pembangunan gereja telah mencabut kembali dukungannya. Bahkan, sekarang berbalik menandatangani dukungan penolakan bersama ribuan masyarakat lainnya di luar Kelurahan Gerem, Grogol, Kota Cilegon.
Baca Juga:Ternyata Ada 3 Alasan Penolakan Gereja di Cilegon, Salah Satunya Kisah Ulama Digantung
"Sekarng udah mencabut dukungan atas inisiatif sendiri minta penolakan, dan minta pencabutan persetujuan untuk gereja itu," ujarnya.