-
Daya Tampung Aman 2026 DLH Kota Tangerang memastikan kapasitas TPA Rawa Kucing tetap memadai pada 2026 melalui berbagai kebijakan strategis dan optimalisasi lahan agar tidak terjadi kelebihan muatan sampah di lokasi tersebut.
-
Penerapan Teknologi Modern Pemkot menerapkan sistem sanitary landfill dan penggunaan geomembran untuk mengisolasi sampah. Teknik ini bertujuan mencegah pencemaran lingkungan sekaligus menata ulang area pembuangan agar operasional lebih terkontrol dan efektif.
-
Penguatan Sarana dan Koordinasi Langkah konkret dilakukan dengan menambah alat berat serta berkoordinasi bersama Kementerian Lingkungan Hidup untuk menutup landfill tidak aktif, guna memperpanjang usia pakai dan meningkatkan kualitas layanan pembuangan.
SuaraBanten.id - Isu pengelolaan sampah seringkali menjadi momok menakutkan bagi kota-kota metropolitan penyangga ibu kota. Bayangan tentang gunungan sampah yang longsor atau bau tak sedap yang menyengat kerap menghantui warga.
Namun, ada kabar melegakan bagi warga Kota Tangerang, Banten. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang membawa angin segar dengan mengklaim bahwa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing dipastikan masih memiliki daya tampung yang memadai untuk beroperasi sepanjang tahun 2026.
Optimisme ini bukan tanpa dasar. Kepala DLH Kota Tangerang, Wawan Fauzi, menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam menunggu TPA penuh.
Pemerintah Kota telah menyiapkan serangkaian kebijakan strategis dan upgrade teknologi untuk memastikan umur teknis TPA bisa diperpanjang secara maksimal pada tahun ini.
Baca Juga:Pemkot Tangsel Mampu Benahi Permasalahan Sampah, Pengamat: Ancaman Pidana Lingkungan Masih Prematur
Pemkot Tangerang mulai meninggalkan cara konvensional dan beralih ke sistem pengelolaan sampah modern berbasis sanitary landfill.
Secara sederhana, teknik ini bekerja dengan cara mengisolasi sampah dari lingkungan sekitarnya. Tujuannya sangat krusial, yakni mencegah air lindi (air sampah) mencemari air tanah, serta meminimalisir polusi udara yang bisa mengganggu kesehatan warga sekitar.
Tak hanya itu, DLH juga melakukan penataan ulang area timbunan menggunakan teknologi geomembran. Strategi ini melibatkan penutupan beberapa zona landfill yang sudah tidak aktif agar gas metana bisa dikelola dan bau tidak menyebar.
"Jadi nanti hanya landfill aktif yang akan dibuka terus. Pola sistem ini akan berjalan dengan kontrol berkala,” ujar Wawan Fauzi, dilansir dari Antara, Jumat 2 Januari 2026.
Langkah strategis ini juga didukung oleh koordinasi yang kuat dengan pemerintah pusat. Pemkot Tangerang telah menggandeng Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk melakukan supervisi penutupan operasionalisasi beberapa landfill pasif di Rawa Kucing. Hal ini memastikan bahwa prosedur yang dilakukan sesuai dengan standar lingkungan nasional.
Baca Juga:Rencana Malam Tahun Baru di Banten? Simak Daftar Wilayah yang Terancam Angin Kencang
Selain aspek teknis, DLH juga memperkuat otot operasional di lapangan. Anggaran khusus telah disiapkan untuk belanja modal berupa penambahan sejumlah unit alat berat baru.
Armada ini nantinya akan bertugas mempercepat proses cover soil dan pemadatan sampah, sehingga daya dukung operasional TPA Rawa Kucing bisa terjaga dalam jangka panjang.
”Kami sangat optimistis TPA Rawa Kucing tidak akan dalam kondisi over capacity terutama adanya penataan dan penambahan alat berat yang sudah direncanakan. TPA Rawa Kucing bisa beroperasi lebih maksimal lagi dibandingkan dengan sekarang,” tegas Wawan.