Tradisi Menyulut Meriam Masjid Al A'raf Rangkasbitung, Pertanda Buka Puasa

"Mungkin di Banten hanya ada di Rangkasbitung setiap Ramadhan masih lestari tradisi dentuman suara meriam," kata Opik.

Hairul Alwan
Kamis, 06 Mei 2021 | 17:27 WIB
Tradisi Menyulut Meriam Masjid Al A'raf Rangkasbitung, Pertanda Buka Puasa
Opick penyulut meriam di Masjid Agung Al Araf Rangkasbitung [Antara]

Namun, kata dia, meriam locok sudah diganti dengan pipa dan panjang dua meter, yang juga menggunakan bahan peledak dari karbit dan air.

Petugas penyulut meriam juga tidak dilengkapi alat peredam suara dan berpotensi mengalami gangguan pendengaran, karena bisa merusak bagian gendang telinga akibat hentakan ledakan keras.

Apabila gendang telinga itu mengalami gangguan, katanya, tentu secara otomatis akan berdampak terhadap gangguan pendengaran telinga atau torek.

"Kami menyulut meriam itu tentu dengan hati-hati mulai mengisi bahan peledak dari karbit hingga menyulut api ke lubang meriam agar tidak mengalami kecelakaan," katanya.

Baca Juga:4 Stasiun KRL ke Lebak Tak Layani Penumpang, Termasuk Rangkasbitung

Menurut dia, dirinya merasa senang menyulut hingga terdengar dentuman suara meriam, karena banyak masyarakat setempat yang berkumpul di masjid dapat buka puasa bersama.

Selain itu juga banyak orang tua hingga kalangan anak-anak muda rindu untuk mendengarkan dentuman suara meriam yang berlangsung selama satu sampai dua detik itu.

Mereka orang tua dan kalangan generasi berkumpul di depan masjid untuk mendengar dentuman suara meriam.

Dentuman suara meriam itu, kata dia, hanya setiap tahun satu kali dilakukan pada Bulan Ramadhan dan masyarakat sangat merindukan tradisi unik tersebut.

"Kami tetap berani melaksanakan tugas yang berisiko, karena tidak ada petugas lain yang menjadi penyulut meriam," pungkas Opik.

Baca Juga:Sejarah Kabupaten Lebak Berdiri, Dulu Berjuluk Jagat Kidul Banten

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini