- Berdasarkan IBM Cost of a Data Breach Report, rata-rata kerugian akibat kebocoran data mencapai USD 4,99 juta akibat kelalaian pemeliharaan sistem.
- Kurangnya pembaruan perangkat lunak, cadangan data yang buruk, dan jaringan berantakan memicu risiko peretasan serta penghentian aktivitas bisnis perusahaan.
- Pemanfaatan layanan IT support dari Edavos membantu menjaga perangkat dan jaringan tetap stabil tanpa beban rekrutmen staf teknis internal.
SuaraBanten.id - Kebutuhan IT support untuk perusahaan sering baru disadari saat server mendadak mati dan menghentikan seluruh aktivitas bisnis Anda.
Bayangkan kerugian puluhan juta rupiah melayang hanya karena satu perangkat jaringan gagal berfungsi tanpa ada penanganan teknis.
Hingga saat ini, masih banyak pemilik usaha yang menganggap pengelolaan sistem komputer sebagai urusan belakang yang cukup ditangani seadanya. Padahal, celah keamanan sekecil apa pun bisa membocorkan file rahasia klien dalam hitungan detik.
8 Alasan Pentingnya Jasa IT Support
Berdasarkan data IBM Cost of a Data Breach Report, rata-rata kerugian akibat kebocoran data mencapai angka USD 4,99 juta akibat kelalaian pemeliharaan sistem.
Oleh karena itu, pahami beberapa alasan lain yang bisa Anda pertimbangkan sebelum merekrut jasa IT terdekat dan tepercaya:
1. Software Tanpa Pembaruan Rutin
Sistem operasi dan aplikasi bisnis yang kedaluwarsa menyimpan celah keamanan berbahaya. Produsen software merilis patching secara berkala guna menambal celah yang peretas temukan. Ketika Anda menunda pembaruan ini, peretas dapat menyusup dengan mudah memakai skrip otomatis.
Oleh karena itu, tanpa keamanan data bisnis yang terbarukan, malware jenis ransomware bisa mengunci seluruh database usaha Anda kapan saja dan meminta tebusan besar.
2. Backup
Baca Juga: Nekat Banget! 990 Besi di Atas Trailer Digondol Pakai Mobil Crane
Banyak bisnis merasa aman hanya karena menyimpan file transaksi pada satu hard disk eksternal atau Google Drive gratisan. Masalah timbul saat perangkat fisik tersebut rusak, hilang, atau akun terinfeksi virus. Tanpa prosedur backup otomatis, pemulihan data mustahil dilakukan.
3. Jaringan Berantakan
Penataan kabel LAN yang semrawut di ruang server serta konfigurasi router Wi-Fi yang asal-asalan menciptakan titik kemacetan data (bottleneck). Kondisi ini merusak efisiensi operasional harian para staf karena koneksi sering putus-nyambung. Kondisi ini rentan disadap oleh pihak luar.
4. Staf Non-IT
Meminta staf keuangan, admin, atau pemasaran memperbaiki printer mati dan server down merupakan pemborosan fokus kerja. Selain hasil perbaikan tidak sesuai standar teknis, tindakan coba-coba tersebut justru berisiko merusak komponen fisik maupun sistem operasional secara menyeluruh.
5. Hak Akses Data Terlalu Longgar
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Elemen Shio Paling Terkuat dan Paling Dominan dalam Feng Shui, Kenali 5 Unsurnya
- Transjakarta Resmi Hapus 3 Rute Bus Penghubung Rusun, Warga Diminta Pakai Rute Alternatif
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat
- 5 Novel Sejarah untuk Menelusuri Jejak G30S/PKI, Jangan Lupakan Masa Lalu!
Pilihan
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
Terkini
-
Polda Banten Ungkap Identitas Mayat Terapung di Perairan Lampung
-
Mayat Perempuan Ditemukan di Kebun Warga di Serang, Polisi Selidiki Penyebab Kematian
-
Klarifikasi Pengelola TPST Abu & Co di Tangsel, Mengaku Belum Mengantongi Izin dan Dokumen IPAL
-
Kejar PAD Rp520 Juta dari Sektor Parkir 2026, Dishub Kota Tangsel Imbau Pengelola Taat Regulasi
-
Realisasi Pajak Parkir Capai Rp15 Miliar, Bapenda Kota Tangsel Siapkan 6 Jurus Optimalkan PAD