Warga Kecamatan Taktakan menggelar aksi demonstrasi menolak kiriman sampah dari Kota Tangerang Selatan ke TPAS Cilowong karena menyebabkan pencemaran lingkungan, bau menyengat, serta mengganggu aktivitas harian akibat hilir mudik truk.
Koordinator aksi dan warga merasa kecewa karena Pemerintah Kota Serang dinilai hanya mementingkan keuntungan finansial tanpa mempedulikan kesehatan masyarakat dan dampak buruk polusi sampah yang merugikan wilayah pemukiman sekitar.
Menanggapi protes warga, Pemerintah Kota Serang memutuskan menghentikan sementara pengiriman sampah untuk evaluasi kerja sama, sembari menegaskan bahwa kebijakan tersebut masih dalam tahap uji coba dan belum menerima kucuran anggaran.
SuaraBanten.id - Isu lingkungan kembali memicu konflik sosial di Banten. Pada Selasa (6/1/2026), ratusan warga Kecamatan Taktakan, Kota Serang, tumpah ruah ke jalan menggelar aksi demonstrasi di depan kantor kecamatan.
Pemicunya satu, mereka menolak wilayahnya dijadikan tempat pembuangan sampah kiriman dari Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Warga merasa dikorbankan demi pendapatan daerah, sementara lingkungan tempat tinggal mereka tercemar bau busuk. Penasaran bagaimana duduk perkaranya?
Berikut adalah 4 fakta menarik di balik polemik sampah Serang-Tangsel ini:
1. Spanduk Menohok: "Jangan Bunuh Kami dengan Sampah"
Aksi warga Taktakan tidak main-main. Mereka membawa spanduk dengan tulisan-tulisan satir dan menohok yang menggambarkan penderitaan mereka.
Salah satu spanduk bertuliskan "Jangan bunuh kami dengan sampah" dan "Taktakan mambu sampah dulur" (Taktakan bau sampah, saudara).
Koordinator aksi, Yudha, menegaskan bahwa kebijakan ini sangat merugikan warga di sepanjang jalur lintasan truk. "Kampung kita tercinta, Taktakan kini dicemari sampah. Mereka tidak memikirkan sengsaranya rakyat," ujarnya dengan nada kecewa.
2. The Money Trail: Deal Bernilai Ratusan Miliar
Baca Juga: Ratusan Warga Serang Tolak Jadi 'Tempat Sampah' Kota Tangsel
Di balik bau sampah yang menyengat, ternyata ada deal angka yang fantastis. Pemerintah Kota (Pemkot) Serang menjalin kerja sama dengan Pemkot Tangsel untuk menampung sekitar 500 ton sampah per hari di TPAS Cilowong.
Sebagai imbalannya, Kota Serang diproyeksikan menerima Bantuan Keuangan Khusus sebesar Rp65 miliar per tahun serta potensi retribusi sebesar Rp57 miliar. Angka ini yang membuat warga menuding pemerintah hanya memikirkan keuntungan semata tanpa peduli dampak sosialnya.
3. Bau Menyengat Bikin Warga 'Muter-muter'
Ella, salah seorang warga, menumpahkan kekesalannya. Menurutnya, penolakan warga bukan tanpa alasan. Bau busuk dari sampah kiriman tersebut sangat menyengat dan mengganggu aktivitas harian. Warga merasa pemerintah daerah tidak tegas dan hanya memberikan janji manis.
"Intinya kita kecewa sama pemimpin di sini, apapun keputusannya isinya muter-muter itu aja. Intinya rakyat Taktakan itu menolak ya," tegas Ella.
4. Plot Twist: Pemkot Akhirnya "Pause" Kiriman Sampah
Berita Terkait
-
Ratusan Warga Serang Tolak Jadi 'Tempat Sampah' Kota Tangsel
-
Tim Forensik Ungkap Penyebab Kematian Anak Politikus PKS: Ada Dua Luka Tusuk Fatal
-
Kalah Judi Kripto hingga Terlilit Utang Ratusan Juta, Alasan HA Tega Bunuh Anak Politikus PKS
-
Motif Pelaku Tega Habisi Nyawa Bocah 9 Tahun di Cilegon: Berawal dari Bel Rumah yang Tak Terjawab
-
4 Fakta TPA Rawa Kucing Tangerang Masih Aman Tampung Sampah di 2026
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
Terkini
-
Pria Tewas Terjatuh dari Lantai 4 Mall Ramayana Serang Usai Pesta Miras
-
Temuan Jenazah di Pulau Enggano Belum Terkonfirmasi, DVI Masih Uji DNA Korban KM Arupadhatu 1
-
Dukung Olahraga Nasional, BRI Raih Indonesia Sports Industry of the Year 2026
-
Hari Kedelapan Pencarian KM Arupadhatu 1: Tim SAR Sisir 500 Meter dari Krakatau, Hasil Masih Nihil
-
Pencarian Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau: SAR Sisir Laut hingga Bengkulu dan Enggano