Andi Ahmad S
Senin, 05 Januari 2026 | 15:14 WIB
Pengelolaan sampah di TPA Rawa Kucing bakal menggunakan RDF yang bisa mengubah sampah menjadi energi alternatif serupa batu bara. [Wivy Hikmatullah/SuaraBanten.id]
Baca 10 detik
  • DLH Kota Tangerang memastikan TPA Rawa Kucing tetap memiliki daya tampung memadai pada 2026 melalui berbagai kebijakan strategis serta penerapan sistem pengelolaan sampah modern guna mencegah pencemaran lingkungan secara maksimal.

  • Penerapan sistem sanitary landfill dan penggunaan geomembran dilakukan untuk menata ulang gunungan sampah, sehingga hanya lahan aktif yang dibuka guna mengoptimalkan operasional serta memperpanjang masa pakai TPA Rawa Kucing.

  • Pemerintah Kota Tangerang optimis menghindari kelebihan muatan dengan menambah anggaran alat berat dan berkoordinasi bersama Kementerian Lingkungan Hidup guna menutup lahan nonaktif demi meningkatkan kualitas pengelolaan sampah di daerah.

SuaraBanten.id - Isu pengelolaan sampah seringkali menjadi momok menakutkan bagi kota-kota metropolitan. Bayangan tentang TPA yang overload hingga sampah menumpuk di jalanan tentu bikin merinding. Namun, warga Kota Tangerang, Banten, tampaknya bisa sedikit bernafas lega di awal tahun ini.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang membawa kabar optimis bahwa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing dipastikan masih memiliki "napas" panjang untuk menampung sampah warga sepanjang tahun 2026. Klaim ini bukan tanpa dasar, melainkan didukung oleh strategi modern yang matang.

Penasaran bagaimana cara Pemkot Tangerang menyiasati gunungan sampah agar tidak meledak? Berikut adalah 4 fakta menarik terkait strategi pengelolaan sampah di TPA Rawa Kucing tahun ini:

1. Jaminan Anti 'Over Capacity' di 2026

Fakta pertama yang paling melegakan adalah optimisme pemerintah daerah. Kepala DLH Kota Tangerang, Wawan Fauzi, menegaskan bahwa TPA Rawa Kucing tidak akan mengalami kelebihan kapasitas tahun ini. Hal ini menepis kekhawatiran warga akan krisis sampah.

”Kami sangat optimistis TPA Rawa Kucing tidak akan dalam kondisi over capacity terutama adanya penataan dan penambahan alat berat yang sudah direncanakan. TPA Rawa Kucing bisa beroperasi lebih maksimal lagi dibandingkan dengan sekarang,” tegas Wawan.

2. Adopsi Teknologi Sanitary Landfill

Tidak lagi menggunakan cara kuno main tumpuk sembarangan, TPA Rawa Kucing beralih ke sistem Sanitary Landfill. Bagi Kawan Muda yang peduli lingkungan, ini adalah kabar baik.

Teknik ini bekerja dengan cara mengisolasi sampah dari lingkungan sekitarnya. Tujuannya sangat krusial mencegah air lindi (air sampah) mencemari air tanah dan meminimalisir bau tidak sedap yang bisa mengganggu kesehatan warga sekitar. Sampah ditimbun, dipadatkan, dan ditutup tanah secara berkala.

Baca Juga: Banyak Kota Ketakutan Sampah Meluap, Mengapa Kota Tangerang Justru Optimis TPA-nya Aman?

3. Penataan Ulang dengan Geomembran

Strategi selanjutnya adalah rekayasa teknis menggunakan Geomembran. DLH melakukan penataan ulang zona landfill (area timbunan). Zona-zona yang sudah tidak aktif akan ditutup permanen, sehingga fokus operasional menjadi lebih efisien.

"Jadi nanti hanya landfill aktif yang akan dibuka terus. Pola sistem ini akan berjalan dengan kontrol berkala,” ujar Wawan.
Langkah ini juga dilakukan dengan berkoordinasi langsung bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk memastikan standar keamanan lingkungan terpenuhi.

4. Investasi Alat Berat Baru

Strategi canggih tidak akan berjalan tanpa dukungan "otot" yang kuat. Fakta terakhir adalah keseriusan Pemkot dalam hal anggaran. DLH telah menyiapkan dana khusus untuk belanja modal berupa penambahan unit alat berat.

Armada baru ini nantinya akan bertugas mempercepat proses pemadatan dan penataan sampah, sehingga daya dukung operasional TPA Rawa Kucing bisa terjaga dalam jangka panjang dan tidak terjadi antrean truk sampah yang mengular.

Load More