Andi Ahmad S
Selasa, 30 Desember 2025 | 16:15 WIB
Ilustrasi Cuaca Di Tahun Baru 2026. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • BBMKG Wilayah II mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem berupa hujan sangat lebat dan angin kencang di wilayah Banten mulai tanggal 29 Desember 2025 hingga 3 Januari tahun 2026.

  • Kondisi atmosfer yang labil ini dipicu oleh pengaruh Siklon Tropis Hayley di Samudra Hindia serta aktifnya gelombang Rossby yang meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan di sebagian besar wilayah Banten.

  • Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, serta selalu memantau informasi perkembangan cuaca terkini melalui kanal resmi yang disediakan oleh pihak BMKG.

SuaraBanten.id - Rencana healing atau pesta kembang api di malam pergantian tahun bagi warga Banten dan sekitarnya tampaknya harus disertai kewaspadaan ekstra.

Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II mengeluarkan peringatan dini serius terkait potensi cuaca ekstrem yang akan melanda wilayah Provinsi Banten dalam sepekan ke depan, tepatnya periode 29 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026.

Ancaman ini bukan sekadar hujan biasa, melainkan dampak dari fenomena atmosferik ganda yang sedang aktif di sekitar perairan Indonesia.

Kepala BBMKG Wilayah II, Hartanto, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca buruk ini dipicu oleh Siklon Tropis Hayley yang mengamuk di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur, serta keberadaan Bibit Siklon 90S di barat daya Banten.

Bagi Kawan Muda yang berencana liburan ke pantai, perhatikan data ini baik-baik. Hartanto menjelaskan bahwa siklon ini memiliki energi yang cukup masif.

“Siklon Tropis Hayley terpantau dengan kecepatan angin maksimum sekitar 45 knot atau 83 kilometer per jam dan tekanan minimum 989 hPa. Sistem ini berpotensi meningkat menjadi kategori dua dalam 24 jam ke depan, meskipun bergerak menjauhi wilayah Indonesia,” kata Hartanto.

Meskipun bergerak menjauhi Indonesia, ekor badai dan dinamika atmosfer lainnya seperti gelombang Equator Rossby membuat langit Banten menjadi sangat labil.

“Kombinasi faktor tersebut berpotensi meningkatkan curah hujan dan angin kencang di wilayah Banten dalam sepekan ke depan,” tambahnya.

BBMKG telah memetakan wilayah mana saja yang berpotensi diguyur hujan, mulai dari intensitas sedang hingga sangat lebat yang berpotensi banjir. Berikut rinciannya:

Baca Juga: Warga Banten Wajib Tahu! Ada Aturan Ketat Rayakan Malam Tahun Baru: Langgar Siap-Siap Dibubarkan

Hujan Lebat hingga Sangat Lebat:

Waspada tinggi bagi warga di Kabupaten Pandeglang (barat & utara), Kabupaten Serang (barat & selatan), Kabupaten Lebak (timur & utara), Kabupaten Tangerang bagian selatan, serta Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

Hujan Sedang hingga Lebat:

Berpotensi terjadi di Kabupaten Pandeglang (timur & selatan), Lebak (barat & selatan), Kabupaten Serang (utara & timur), Kota Cilegon, Kota Serang, serta Kota Tangerang.

Malam yang paling dinanti, yakni pergantian tahun, diprediksi akan basah. Hartanto memberikan highlight khusus untuk malam tahun baru.

Hujan lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur Kabupaten Pandeglang bagian barat dan utara serta Kabupaten Serang bagian barat dan selatan.

“Sedangkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diperkirakan terjadi di Kabupaten Pandeglang bagian selatan, Kabupaten Serang bagian utara, Kabupaten Lebak bagian utara, Kota Cilegon, Kota Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan,” jelasnya.

Selain air dari langit, ancaman angin kencang hingga 45 kilometer per jam juga mengintai wilayah pesisir Pandeglang, Lebak, dan Serang. Hal ini tentu berbahaya bagi aktivitas outdoor atau panggung terbuka.

Menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan pohon tumbang, masyarakat diminta tidak panik namun tetap siaga. Langkah antisipatif seperti memangkas pohon rindang di dekat rumah dan membersihkan drainase sangat disarankan.

“Masyarakat diharapkan melakukan langkah antisipatif, mengamankan lingkungan sekitar, serta memantau informasi resmi dari BMKG dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak jelas sumbernya,” ujar Hartanto mengingatkan.

Load More