Andi Ahmad S
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:02 WIB
Ilustrasi tumpukan sampah di Banten. [Suara.com/Aldie]
Baca 10 detik

Warga Kecamatan Taktakan menggelar aksi demonstrasi menolak kiriman sampah dari Kota Tangerang Selatan ke TPAS Cilowong karena menyebabkan pencemaran lingkungan, bau menyengat, serta mengganggu aktivitas harian akibat hilir mudik truk.

Koordinator aksi dan warga merasa kecewa karena Pemerintah Kota Serang dinilai hanya mementingkan keuntungan finansial tanpa mempedulikan kesehatan masyarakat dan dampak buruk polusi sampah yang merugikan wilayah pemukiman sekitar.

Menanggapi protes warga, Pemerintah Kota Serang memutuskan menghentikan sementara pengiriman sampah untuk evaluasi kerja sama, sembari menegaskan bahwa kebijakan tersebut masih dalam tahap uji coba dan belum menerima kucuran anggaran.

SuaraBanten.id - Isu lingkungan kembali memicu konflik sosial di Banten. Pada Selasa (6/1/2026), ratusan warga Kecamatan Taktakan, Kota Serang, tumpah ruah ke jalan menggelar aksi demonstrasi di depan kantor kecamatan.

Pemicunya satu, mereka menolak wilayahnya dijadikan tempat pembuangan sampah kiriman dari Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

Warga merasa dikorbankan demi pendapatan daerah, sementara lingkungan tempat tinggal mereka tercemar bau busuk. Penasaran bagaimana duduk perkaranya?

Berikut adalah 4 fakta menarik di balik polemik sampah Serang-Tangsel ini:

1. Spanduk Menohok: "Jangan Bunuh Kami dengan Sampah"

Aksi warga Taktakan tidak main-main. Mereka membawa spanduk dengan tulisan-tulisan satir dan menohok yang menggambarkan penderitaan mereka.

Salah satu spanduk bertuliskan "Jangan bunuh kami dengan sampah" dan "Taktakan mambu sampah dulur" (Taktakan bau sampah, saudara).

Koordinator aksi, Yudha, menegaskan bahwa kebijakan ini sangat merugikan warga di sepanjang jalur lintasan truk. "Kampung kita tercinta, Taktakan kini dicemari sampah. Mereka tidak memikirkan sengsaranya rakyat," ujarnya dengan nada kecewa.

2. The Money Trail: Deal Bernilai Ratusan Miliar

Baca Juga: Ratusan Warga Serang Tolak Jadi 'Tempat Sampah' Kota Tangsel

Di balik bau sampah yang menyengat, ternyata ada deal angka yang fantastis. Pemerintah Kota (Pemkot) Serang menjalin kerja sama dengan Pemkot Tangsel untuk menampung sekitar 500 ton sampah per hari di TPAS Cilowong.

Sebagai imbalannya, Kota Serang diproyeksikan menerima Bantuan Keuangan Khusus sebesar Rp65 miliar per tahun serta potensi retribusi sebesar Rp57 miliar. Angka ini yang membuat warga menuding pemerintah hanya memikirkan keuntungan semata tanpa peduli dampak sosialnya.

3. Bau Menyengat Bikin Warga 'Muter-muter'

Ella, salah seorang warga, menumpahkan kekesalannya. Menurutnya, penolakan warga bukan tanpa alasan. Bau busuk dari sampah kiriman tersebut sangat menyengat dan mengganggu aktivitas harian. Warga merasa pemerintah daerah tidak tegas dan hanya memberikan janji manis.

"Intinya kita kecewa sama pemimpin di sini, apapun keputusannya isinya muter-muter itu aja. Intinya rakyat Taktakan itu menolak ya," tegas Ella.

4. Plot Twist: Pemkot Akhirnya "Pause" Kiriman Sampah

Load More