-
Armani, guru berdedikasi, mengajar seorang diri selama 17 tahun di SD Sorongan 2 Banten dengan kondisi bangunan seadanya dan akses jalan sangat sulit.
-
Demi mengajar, Armani rela menempuh perjalanan motor hampir 2 jam dan berjalan kaki 3 km. Ia mengajar 24 siswa di satu ruang kelas.
-
Meskipun pernah hanya digaji Rp150.000 dari dana BOS, semangat Armani tetap tinggi didorong antusiasme siswa. Ia kini berstatus guru PPPK.
SuaraBanten.id - Menjadi guru adalah panggilan jiwa. Jika seorang menjadi guru karena panggilan jiwanya, maka tak ada alasan baginya untuk berhenti mengajar dan mendidik siswanya agar menjadi manusia yang berguna bagi orang lain.
Dan sosok Armani (43), mungkin salah satu di antaranya. Bagaimana tidak, selama hampir 17 tahun dirinya memilih mengajar seorang diri di wilayah pelosok Banten. Armani jadi satu-satunya guru di SE Sorongan 2 kelas jauh, dengan kondisi bangunan seadanya dan akses jalan yang sulit.
Sejak menjadi guru honorer pada tahun 2008 silam, Armani harus rela menempuh perjalanan nyaris 2 jam setiap akan mengajar dari kediamannya di Kampung Karim, Desa Mendung, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, menggunakan sepeda motor. Kemudian menempuh perjalanan kaki sejauh 3 kilometer untuk sampai di sekolah.
"Biasanya berangkat jam 6 atau setengah 7, nanti sampai di sekolah itu sekitar jam 8," kata Armani bercerita, Jumat (28/11/2025) lalu.
Sekolah tempatnya mengajar hanya berupa ruangan berukuran 4x5 meter berbahan kayu hasil swadaya masyarakat yang dibangun pada tahun 2008 silam.
Akses yang sulit dengan medan berat bila dilalui oleh anak-anak di Kampung Batu Payung, Desa Cibingbin, Kecamatan Cibaliung, Pandeglang, menjadi alasan dibangunnya sekolah tersebut.
"Medannya berat, melalui tanah berlumpur dan menyeberangi 2 sungai, salah satunya ga ada jembatan. Kalau hujan deras, jalan sudah pasti licin sekali," ujarnya.
Dulu, bangunan SD Sorongan 2 kelas jauh disebut lebih mirip kandang ayam. Baru pada tahun 2017 mulai ada perbaikan secara perlahan hingga seperti sekarang ini. Bangunan sekolah itu hanya memiliki satu ruang kelas dengan menampung sebanyak 24 siswa aktif dari kelas 1 sampai dengan kelas 6.
Bahkan, ketika ingin beristirahat, Armani terpaksa harus menumpang duduk di teras rumah warga yang berada paling dekat dengan sekolah lantaran tidak tersedianya ruag guru di sekolah tersebut.
Baca Juga: 4 Rekomendasi Wisata Pandeglang Banten untuk Family Time Akhir Tahun
"Dulu mirip kandang ayam saja bentuknya, baru 2017 ada pembangunan jadi lebih baik. Tapi tetap kayu dan hanya 1 ruang kelas. Ruang guru gak ada, kalau mau istirahat ya numpang di teras (rumah) warga," ucap Armani.
Keterbatasan fasilitas pendidikan tak menyurutkan semangat Armani untuk terus mengajar. Terlebih menurut Armani, antusias anak didiknya untuk bisa bersekolah menjadi alasan dirinya tak pernah berpikir untuk berhenti.
Saat ini status Armani sudah diangkat menjadi guru PPPK usai dilantik pada 2023 lalu. Sebelumnya, Armani harus rela menerima honor dari dana BOS sebesar Rp150.000 per bulan sejak memutuskan menjadi guru honorer pada tahun 2008 silam.
"Kalau saya datang, anak-anak sudah nunggu. Itu yang bikin saya bertahan. Selama anak-anak masih semangat belajar, saya akan tetap mengajar. Kalau nanti kondisi fisik sudah tidak memungkinkan, mungkin baru saya minta pindah," kata Armani.
"Dari 2008 ngajar sampai 2022 itu honornya Rp150.000, itu dari dana BOS. Paling tinggi pernah terima itu Rp600.000. Alhamdulillah saya diangkat PPPK pada 2023," imbuhnya.
Harus mengajar seorang diri di dalam 1 ruang kelas dengan tingkatan kelas yang berbeda membuat Armani pun terpaksa harus menerapkan sistem pembelajaran tematik sembari menyesuaikan materi berdasarkan tingkatan kelas masing-masing siswa.
Berita Terkait
-
4 Rekomendasi Wisata Pandeglang Banten untuk Family Time Akhir Tahun
-
Bukan Sekadar Cat: 'Sekolah Terang, Tangerang Cerdas' PIK2 Sulap Harapan Jadi Kenyataan
-
17 Tahun Mengabdi di Pelosok Pandeglang: Kisah Armani, 'Oemar Bakri' Nyata
-
Gizi Siswa Terancam? Penyaluran MBG di Pandeglang Disetop, BGN Ungkap Alasan Mengejutkan
-
Dari Sekolah Roboh hingga Bus Pelajar, ASGPIK 2 Hadirkan Harapan Baru untuk Pendidikan Tangerang
Terpopuler
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
- Viral Pendaki Ditandu Naik Gunung Merbabu, Biaya Capai Rp30 Juta
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa PUSPOM? Panglima TNI: Itu Hoaks
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
MALIKA for Urban Studies Soroti Pelanggaran Fungsi Sungai Cisadane di Tangerang Raya
-
Pemprov Banten Siapkan 600 Siswa Masuk Barak TNI, Pengamat Pendidikan Kritik Program
-
Kolaborasi Lintas Sektor: Pemkot Tangsel Gandeng Kampus dan Swasta Sukseskan Porprov Banten 2026
-
Mengabdi Tanpa Henti, Kisah Guru MDA di Lebak yang Tetap Tersenyum Meski Digaji Rp150 Ribu per Bulan
-
Dokumen Kependudukan Warga Tangerang Jadi Bungkus Gorengan