-
Bawaslu Kota Serang menemukan ketidakakuratan data pemilih signifikan saat Coktas, termasuk "data zombie" (orang hidup tercatat mati dan sebaliknya).
-
Temuan menunjukkan integrasi data antar lembaga (Kemlu, BPS, BPJS) lemah, menyebabkan data pemilih lama "menumpang" di alamat yang sudah berganti penghuni.
-
KPU Kota Serang perlu konsolidasi dan verifikasi ulang terhadap data raksasa 24.990 jiwa untuk menjaga kualitas DPB serta mencegah manipulasi suara.
SuaraBanten.id - Validitas data pemilih adalah nyawa dari demokrasi. Namun, apa jadinya jika data yang tersaji di atas kertas justru bertolak belakang dengan realitas di lapangan? Isu klasik namun krusial ini kembali menyeruak di Kota Serang, Banten.
Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) setempat menemukan sejumlah fakta mencengangkan usai melakukan pengawasan intensif terhadap proses pencocokan dan penelitian terbatas (Coktas) yang dilakukan KPU.
Koordinator Divisi Pencegahan, Parmas, dan Humas Bawaslu Kota Serang, Dita Yuliafnita, membongkar adanya ketidakakuratan data yang cukup signifikan.
Pengawasan yang menyasar data Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI), data nonaktif, hingga data kematian ini memunculkan fenomena data zombie alias ketidaksinkronan status hidup mati seseorang.
Bagi generasi milenial yang kritis terhadap administrasi negara, temuan ini tentu menjadi catatan merah. Dita mengungkapkan bahwa integrasi data antar lembaga tampaknya masih memiliki celah besar.
"Hasil pengawasan membuktikan masih banyak data yang tidak sesuai fakta. Contohnya, pemilih meninggal dunia yang datanya bersumber dari BPS dan BPJS, saat ditemui ternyata masih hidup," ujar Dita di Serang, Senin (24/11/2025).
Bayangkan potensi kekacauan yang terjadi jika warga yang masih hidup dan memiliki hak pilih justru dicoret hanya karena kesalahan input data administratif. Tidak hanya itu, Dita juga menyoroti carut-marut data dari Kemlu.
Banyak alamat yang tertera dalam basis data KPU ternyata sudah beralih kepemilikan. Penghuni rumah sudah berganti, namun data pemilih lama masih menumpang di alamat tersebut.
Sebagai konteks, KPU Kota Serang sebelumnya menerima limpahan data raksasa dari KPU RI sebanyak 24.990 jiwa untuk dilakukan Coktas. Data tersebut terdiri dari:
Baca Juga: Jalan Masuk Gerbang Badui Hancur, Jaro Oom: Ini Bukan Cuma Soal Wisata, Tapi Kesejahteraan
- 11.154 Pemilih Baru
- 2.135 Data DP4 (Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilihan) tersaring
- 788 Data dari Kemlu
Volume data yang besar ini menuntut kerja ekstra teliti. Jika tidak diawasi ketat, potensi manipulasi atau hilangnya hak suara warga sangat terbuka lebar.
Jika Dita menemukan orang hidup didata meninggal, Ketua Bawaslu Kota Serang, Agus Aan Hermawan, justru menemukan sebaliknya saat melakukan uji petik mandiri pada pekan kedua November 2025.
"Saat uji petik, ada data yang tertulis sebagai pemilih baru, namun saat dicek ke rumahnya ternyata sudah meninggal dunia. Perlu konsolidasi data yang lebih valid agar kualitas DPB terjaga," pungkas Agus Aan. [Antara].
Berita Terkait
-
Jalan Masuk Gerbang Badui Hancur, Jaro Oom: Ini Bukan Cuma Soal Wisata, Tapi Kesejahteraan
-
17 Tahun Mengabdi di Pelosok Pandeglang: Kisah Armani, 'Oemar Bakri' Nyata
-
Tiga Ancaman Serius BMKG Hari Ini: Panas Membakar, Petir Menyambar, hingga Banjir Mengintai
-
Sungai Cikalumpang Ngamuk, Ribuan Warga Serang Terkepung Banjir!
-
Polemik Mereda, PCNU Serang Minta Tertibkan THM Ilegal hingga Siap Dampingi Pekerja
Terpopuler
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak
- Ini 3 Pilihan Terbaik HP Snapdragon Termurah dengan Layar AMOLED
- Lagu Runaway Menggema di SUGBK, Jadi Penutup Konser Kanye West di Jakarta
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
Nekat Angkut 32 Ribu Benur Lobster Tanpa Izin, Pria Asal Sukabumi Dihentikan Polisi di Lebak
-
Ribuan Buruh Terkena Dampak, PT Parkland World Indonesia di Lebak PHK 1.100 Karyawan
-
Dugaan Pemerasan dan Bullying Intimidasi Siswi SMPN 10 Ciputat, Polisi Mulai Investigasi
-
Dorong Transformasi Digital, Pemkot Tangsel Latih Pemuda Masjid Kuasai Coding dan Konten Kreatif
-
ASDP Kawal Maksimal Klaim Asuransi dan Penggantian Kerugian Korban Kebakaran KMP Batumandi