"'Bos Mafia' itu menyuruh korban membuat video persetubuhan dengan ayah/korban," terang Herlia.
Dalam ketakutan videonya tersebar, korban akhirnya menceritakan hal ini kepada ayah tirinya (IS), tidak menyadari bahwa ia sedang berbicara dengan dalang di balik semua ini. IS pun berpura-pura bersimpati.
"Karena takut, korban akhirnya menghubungi IS yang mana adalah ayah tiri korban melalui WhatsApp dan bercerita kalau disuruh bikin itu (video) dan dijawab oleh IS, 'tak usah nanti Apih yang transfer'," imbuh Herlia.
Tentu saja, transfer itu tidak pernah terjadi. Beberapa hari kemudian, "Bos Mafia" kembali menagih video persetubuhan tersebut.
Korban kembali mengadu pada IS. Kali ini, IS memainkan peran utamanya.
"Orang tak dikenal ini kembali menghubungi korban, minta video persetubuhan dengan ayahnya. Dan korban kembali cerita ke IS ini dan saat itu IS bilang, 'yaudah hayu buat aja soalnya Apih lagi ga ada uang'," kata Herlia menirukan pengakuan pelaku.
Malam itu, setelah memastikan ibu kandungnya tertidur, korban yang terperangkap dalam ketakutan dan manipulasi menuruti kemauan ayah tirinya.
Perbuatan ini terus berulang hingga 20 kali dalam kurun waktu 2023 hingga 2025. IS menggunakan modus yang sama: berpura-pura dihubungi "Bos Mafia" yang menyuruhnya kembali berhubungan badan dengan korban. Sesekali, ia memberi korban uang antara Rp100 ribu hingga Rp250 ribu untuk membungkamnya.
Kejahatan ini akhirnya terbongkar saat ibu kandung korban memeriksa ponsel anaknya. Ia menemukan percakapan antara korban dan IS yang menjurus ke arah orang dewasa, yang membuatnya curiga dan akhirnya melapor ke polisi.
"Dari hasil pemeriksaan, pelaku IS ini telah mengakui perbuatannya, dan dia pun mengaku menyamar sebagai orang lain yang oleh korban disebut Bos Mafia untuk mengelabui dan menipu daya korban agar mau disetubuhi," tegas Herlia.
Baca Juga: Ini Modus Korupsi Pengadaan Barang dan Jasa di Banten
Atas perbuatannya, IS dijerat Pasal 82 jo Pasal 76e Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara minimal 5 tahun dan paling lama 15 tahun.
Kontributor : Yandi Sofyan
Tag
Berita Terkait
-
Ini Modus Korupsi Pengadaan Barang dan Jasa di Banten
-
Dari Monumen Rp874 Miliar, BIS Kini Dipuji Bintang Timnas: Rumput dan Locker Room Kelas Dunia
-
Era Baru Banten Warriors: Dewa United Siap Guncang BIS, Presiden Klub: Menang Harga Mati!
-
Dimiskinkan! Pasutri Bos Narkoba di Serang Dijerat Pasal TPPU, Aset Miliaran Rupiah Disita
-
Aksi Begal di Tol Tangerang-Merak: Komplotan Todongkan Senpi, Bajak Truk Solar Hingga Sekap Sopir
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Transjakarta Resmi Hapus 3 Rute Bus Penghubung Rusun, Warga Diminta Pakai Rute Alternatif
- 5 Novel Sejarah untuk Menelusuri Jejak G30S/PKI, Jangan Lupakan Masa Lalu!
- Perbedaan Pompa Air Jet Pump vs Pompa Celup Submersible untuk Sumur Dalam, Mana yang Cocok?
Pilihan
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
Terkini
-
Klarifikasi Pengelola TPST Abu & Co di Tangsel, Mengaku Belum Mengantongi Izin dan Dokumen IPAL
-
Kejar PAD Rp520 Juta dari Sektor Parkir 2026, Dishub Kota Tangsel Imbau Pengelola Taat Regulasi
-
Realisasi Pajak Parkir Capai Rp15 Miliar, Bapenda Kota Tangsel Siapkan 6 Jurus Optimalkan PAD
-
Motor Hantam Forklift di Jalan Raya Serang-Tangerang, Pasangan Suami Istri Tewas
-
DPRD Banten Soroti Tukin Kepala Sekolah SMA dan SMK Rp14,5 Juta, Minta Dievaluasi