SuaraBanten.id - Polemik aturan baru Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas terkait suara toa masjid dan mushala menuai pro kontra di kalangan masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten, Kyai Imaduddin Utsman mengatakan, bahwa aturan itu sudah sesuai dengan hadis nabi.
“Yang paham cuma ulama fikih. Contoh ketika Nabi sedang itikaf di masjid, lalu ada yang membaca al-Quran keras lalu Nabi memerintahkan untuk merendahkan suara seraya mengatakan, hendaklah kalian jangan mengganggu orang lain dengan bacaan Qur’an yang keras itu,” terang Kyai Imad, mengutip dari bantennews -jaringan Suara.com, Minggu (27/2/2022).
Kiai Imad melanjutkan, yang ada dalam aturan Kemenag itu bukan melarang adzan pakai toa, tapi mengatur kapan toa itu boleh dipakai sehingga tidak mengganggu tetangga.
“Disitu gak ada point melarang adzan pakai toa, yang ada melarang mengganggu tetangga pakai toa, misalnya dalam aturan itu diatur gak boleh baca Qur’an tengah malam dengan toa sehingga membuat orang sakit tambah sakit, orang jadi gak bisa tidur dan sebagainya. Bahkan di beberapa tempat ada yang ngaji di kuburan pakai toa sepanjang malam, sampai menganggu orang yang rumahnya pinggir makam, mau ngobrol aja dengan isterinya gak bisa karena suara toa itu kencang," tambahnya.
“Contoh lagi, di kampung saya ada satu masjid jami dan lima mushala, jaraknya dari pesantren saya itu hanya 100 meter, kalau lagi ngaji sama santri saya harus berhenti lama karena kadang adzannya tidak bareng, yang satu adzan yang satu belum, yang satu berhenti yang satu baru mulai, semuanya terdengar nyaring. Itu masih mending cuma adzan, bagaimana kalau pengajian yang sampai dua jam, kanan kiri rumah padat, toanya kencang arahnya ke bawah, pas menghadap rumah orang tentu yang semacam ini perlu diatur,” imbuhnya.
Kyai Imad mengharapkan semua mengedepankan kemaslahatan dan jujur dalam berpendapat bukan karena suka atau tidak suka tapi murni untuk kepentingan bersama.
“Aturan ini sudah bagus. sesuai fiqih dan hadits Nabi, tapi kalau sekira masyarakat belum faham, ya daripada mudarat saling menuduh dan bikin gaduh, menag gak apa apa mengalah, nanti kalau mereka sudah faham akan pentingnya pengaturan ini baru diberlakukan. saya harapkan kepada masyarakat juga jujur dalam berpendapat jangan karena suka tidak suka tapi betul betul karena kemaslahatan bersama,” ungkapnya.
Dilanjutkan Kyai Imad, yang seharusnya memberikan pendapat tentang pengaturan tersebut adalah ulama fikih, bukan aktifis gerakan, karena menurutnya pengaturan toa masjid itu berkaitan dengan permasalahan fikih yang sudah ada didalam khazanah kitab-kitab ulama baik ulama salaf maupun ulama khalaf.
Baca Juga: Sempat Dilarang Berenang, Enam Pelajar Terseret Ombak Pantai Ciantir hingga Seorang Belum Ditemukan
Menurut Kyai yang juga) etua RMI Banten ini, seharusnya masalah pengaturan itu dibahas di meja mudzakarah ilmiah, bukan di ruang medsos, oleh para pakar fiqih, bukan sekedar penceramah atau aktifis yang kurang faham ilmu fiqih.
“Aturan pengeras suara itu ranahnya ilmu fiqih, yang harus bicara adalah ahli fiqih, bukan sekadar penceramah atau aktifis islam. Nanti yang dikedepankan rasa keagamaan bukan hakikat hukum itu sendiri. Kalau sekarang yang rame debat para aktifis ormas, bahkan orang awam ikut komentar, jadinya rame dan tidak substantif,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Sempat Dilarang Berenang, Enam Pelajar Terseret Ombak Pantai Ciantir hingga Seorang Belum Ditemukan
-
Polemik Aturan Toa Masjid, Alissa Wahid Bela Menag Yaqut, Sebut Indonesia Darurat Logika
-
Disebut-sebut Bakal Maju di Pilgub Banten, Iti Octavia Jayabaya Beri Respon Mengejutkan
-
Polemik Ucapan Menag Yaqut soal Toa Masjid, Pengamat: Analogi yang Menyesatkan
-
Jadi Kurir Narkoba, Doyok dan Tiga Temannya Ditangkap Polisi di Serang Banten
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
6 Fakta di Balik Munculnya Spanduk 'Tangkap Jokowi' di Lebak Banten
-
Geger Spanduk 'Tangkap Jokowi' Bertebaran di Lebak Jelang Kunjungan ke Banten
-
Satpam Otak Pencurian 1.700 Ompreng Program MBG di Ciputat Positif Sabu dan Ekstasi
-
Sukseskan Program KPP, BRI Pegang Porsi Strategis KUR Perumahan
-
140 Titik di Banten Darurat Air Bersih