-
Pelaku pembunuhan anak politisi PKS Cilegon akhirnya berhasil ditangkap polisi saat sedang melakukan aksi pencurian di sebuah rumah mewah milik mantan anggota DPRD yang sedang ditinggal kosong oleh pemiliknya tersebut.
-
Penangkapan berlangsung dramatis karena pelaku sempat menodongkan pistol mainan kepada warga sebelum akhirnya terjatuh. Identitas pelaku diketahui sebagai karyawan perusahaan swasta besar yang tinggal tidak jauh dari lokasi kejadian perkara.
-
Kasus pembunuhan Axel terungkap setelah polisi melakukan pengembangan terhadap tersangka pencurian berinisial AH. Pelaku yang diduga spesialis rumah kosong ini ternyata memiliki keterkaitan erat dengan peristiwa tragis di komplek BBS.
SuaraBanten.id - Misteri kasus pembunuhan sadis terhadap Muhammad Axel Herman Miller (9), anak dari politisi PKS Kota Cilegon yang sempat menggegerkan publik Banten, akhirnya menemui titik terang dengan cara yang tak terduga.
Pelaku yang selama ini diburu polisi justru tertangkap basah saat sedang melakukan aksi kejahatan lain di lokasi yang berbeda.
Pada Jumat (2/1/2026) siang, warga Lingkungan Pabuaran, Kelurahan Ciwedus, Kecamatan Cilegon, dikejutkan oleh drama pengepungan seorang maling di sebuah rumah mewah.
Siapa sangka, maling tersebut ternyata adalah sosok yang paling dicari oleh Polres Cilegon terkait kasus pembunuhan di Komplek BBS.
Baca Juga:Drama Penangkapan Pembunuh Anak Politisi PKS, Terpeleset Saat Satroni Rumah Mewah
Anggota DPRD Banten, Dede Rohana Putra, yang merupakan kerabat pemilik rumah, membeberkan kronologi penangkapan yang penuh drama tersebut.
Berikut adalah 4 fakta menarik dan mencengangkan di balik penangkapan sang predator anak:
1. Tertangkap di Rumah Mantan Anggota DPRD
Fakta pertama yang membuat geleng-geleng kepala adalah lokasi penangkapan. Pelaku tidak ditangkap di tempat persembunyian terpencil, melainkan saat mencoba merampok rumah milik Roisyudin Sayuri, mantan anggota DPRD Kota Cilegon dua periode.
Awalnya, pihak keluarga dan warga tidak menyadari bahwa maling yang mereka kepung adalah pembunuh.
Baca Juga:Hujan Tak Berhenti, Puluhan Lansia dan Warga Sakit di Kasemen Dievakuasi Menggunakan Perahu Karet
"Iya ditangkap di rumah saudara saya. Kita ga tau kalau itu masih ada kaitan dengan kasus di BBS, kita baru tau itu pas malamnya. Pas kita telpon polisi ternyata hasil pengembangannya itu ada keterkaitan dengan kasus yang di BBS," ungkap Dede Rohana.
2. Aksi "Nekat" Kedua Demi Brankas
Pelaku ternyata memiliki nyali yang sangat besar atau mungkin terdesak kebutuhan mendesak. Dede menceritakan bahwa rumah saudaranya itu sebenarnya sudah disatroni pelaku pada hari Minggu (28/12/2025). Saat itu, pelaku gagal membawa kabur brankas.
Bukannya kapok, pelaku justru kembali lagi pada hari Jumat siang saat mengira rumah kosong ditinggal liburan tahun baru. Ia bahkan membawa peralatan lengkap seperti pemanas gembok.
"Awalnya hari Minggu (28/12/2025) itu dia kemalingan, yang hilang perhiasan sama brankas udah ada di luar rumah, dibawa pakai kursi roda, tapi belum sempat keambil, ditinggalin. Itu hari Minggu siang," jelas Dede.
"Dan si pelaku ini ngelanjutin lagi karena sebelumnya belum kebongkar brankas. Karena dia sampai bawa pemanas gembok segala, kayaknya penasaran pengen ngebongkar brankas," tambahnya.
3. Drama Pistol Mainan vs Brimob
Proses penangkapan berlangsung tegang. Pelaku sempat dipergoki oleh Asisten Rumah Tangga (ART), panik, lalu terpeleset di tangga hingga terluka dan bersembunyi di dalam rumah.
Warga yang mengepung sempat ketakutan karena pelaku menodongkan benda mirip senjata api. Hal ini memicu kedatangan pasukan Brimob ke lokasi.
"Si pelaku ini bawa pistol, warga ga berani langsung nangkap karena takut ditembak, ternyata setelah ditangkap itu pistol mainan, pistol gas. Jadi dia bawa pistol mainan, bawa alat pemanas gembok," tutur Dede.
Respons cepat polisi yang menurunkan Brimob kemungkinan karena status siaga mereka dalam memburu pelaku pembunuhan anak di BBS yang belum tertangkap saat itu.
4. Pelaku Ternyata Karyawan Perusahaan Bonafide
Ini adalah fakta yang paling membingungkan. Berdasarkan kartu identitas yang ditemukan, pelaku berinisial AH asal Palembang ini bukan pengangguran. Ia tercatat sebagai karyawan di salah satu perusahaan petrokimia raksasa di Cilegon, Chandra Asri.
Dede Rohana mengaku heran mengapa seseorang dengan pekerjaan yang mapan nekat melakukan serangkaian aksi kejahatan sadis.
"Kayaknya dia spesialis rumah kosong dan rumah mewah. Soalnya di SIM dan kartu anggota serikat itu dia pekerja di Chandra Asri. Padahal gajinya lumayan tapi kok nyuri. Saya sempat pastikan, tanya ke teman di Chandra Asri, katanya iya itu karyawan Chandra Asri," tandasnya.