-
Wali murid SDIT Al Izzah menolak MBG, menilai tidak tepat sasaran bagi siswa mampu yang notabene anak pemilik mobil mewah.
-
Pelaksanaan MBG menuai protes karena minimnya sosialisasi sekolah; pemberitahuan program baru dilakukan setelah berjalan.
-
Program MBG diminta dialihkan ke sekolah lain untuk anak kurang mampu agar manfaatnya tepat sasaran dan rasional.
SuaraBanten.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan dan menuai penolakan, kali ini dari kalangan wali murid Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Izzah, Kota Serang, Banten.
Dengan tegas, para wali murid tersebut menyatakan penolakan terhadap implementasi program MBG di sekolah mereka, lantaran dinilai tidak tepat sasaran dan tidak relevan dengan kondisi ekonomi siswa-siswi di sekolah elit tersebut.
Dalam video yang diunggah oleh akun Instagram @berita_gosip, terlihat para wali murid berkumpul di sebuah ruangan, menyuarakan pendapat mereka secara langsung kepada pihak yayasan sekolah.
Salah seorang wali murid mengungkapkan kekecewaan atas minimnya sosialisasi dari pihak sekolah. Pemberitahuan mengenai program MBG justru baru dilakukan setelah program tersebut sudah berjalan, bukan sebelumnya.
Baca Juga:Menteri Keuangan Purbaya Mengguncang Senayan, Ungkap Janji 7 Kilang Hanya 'Nol Besar'
“Maaf pun tidak ada dari pihak yayasan kepada kami, angket itu disebar sebelum program dilaksanakan bukan setelah berjalan,” ucap wali murid tersebut.
Pernyataan ini disambut seruan Iya betul dari para wali murid lainnya, menandakan kesepakatan kolektif.
"Setelah berjalan kami diminta menyetujui kayak mulut udah dijejelin aja telen, telen kamu. Ya jelas dong kami ngomong,” lanjutnya.
Poin utama penolakan wali murid ini adalah penilaian bahwa program MBG sama sekali tidak tepat sasaran untuk siswa-siswi Al Izzah.
Mereka menegaskan bahwa mayoritas siswa sekolah ini berasal dari keluarga berada yang sangat mampu membiayai kebutuhan pendidikan, termasuk makanan, bahkan di salah satu sekolah termahal di Kota Serang.
Baca Juga:Jejak Rahasia Para Sultan, Menguak Sisi Lain Banten Lama yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah
“Bapak ibu saya sepakat dengan pak Wali, maaf anak-anak sebagian besar anak Al Izzah supirnya satu-satu, kalau kumpul wali murid, rata-rata datang bawa Pajero, Fortuner, Rp 700 juta itu, sopirnya satu-satu sebulan Rp3 juta,” ujar salah seorang wali murid.
Penyaluran MBG di sekolah mereka bahkan sempat menimbulkan kebingungan di kalangan para murid. Hal ini pada gilirannya membuat para wali murid merasa tidak nyaman, bahkan ada yang sampai menyewa catering sendiri untuk anak mereka demi menghindari situasi canggung.
“Anak saya aja bertanya, ‘Bunda, emang boleh ya kita makan MBG? Bukannya MBG itu untuk anak-anak yang tidak mampu? Emang bunda merasa gak mampu ya sampai aku harus makan MBG?’,” ujar seorang wali murid, menirukan pertanyaan polos anaknya.
“Apa yang saya jawab sama anak saya? Oke nak kita catering besok. Boleh dicek anak saya catering sekarang. Keadaannya memang saya keluar uang lebih tapi saya merasa lebih tidak nyaman saat ditanyakan itu sama anak saya.” tambahnya.
Pengakuan ini menunjukkan dampak psikologis yang dialami orang tua dan anak-anak akibat program yang tidak sesuai konteks.
Para wali murid pun menegaskan bahwa program MBG seharusnya disalurkan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh yang membutuhkan.
“Pertanyaan saya itu kenapa mesti MBG itu di Al Izzah, dilihat dari sudut pandang sangat tidak rasional,” katanya kemudian, menyuarakan logika yang mendasar.
Unggahan video ini pun menuai respon yang beragam dari netizen. Tak sedikit yang sependapat dan mengatakan bahwa maksud dari protes wali murid tersebut adalah agar program MBG bisa lebih tepat sasaran.
“Paham sekali maksud ibu ini, ibu ini bukannya mau sombong atau ria tapi lebih ke realistis sih menurut saya. MBG itu haru tepat sasaran bukan hanya sekedar disalurkan kemudian selesai,” cuit @re***29, mendukung argumen wali murid.
“Maksudnya ibu ini tuh… orang tua siswa tuh mampu, bayar supir aja bisa 3juta, beli fortuner 700juta, masa sekolah dapat jatah mbg? seharusnya diberikan ke sekolah yang lain saja,” imbuh @ho***am, memperjelas maksud protes.
“iya, mending anggarannya dialihkan ke sekolah reguler/negri dan sekolah swasta yg bukan elite,” timpal @***, mengusulkan realokasi anggaran.
“Anak sekolah di IT, dapat MBG. Rata2 MBG dimasak malam harinya, ataupun pagi2 langsung di tutup saat masih panas karena harus segera di salurkan. Disekolah anak saya, anak2 terbiasa makan makanan rumah, atau catering, dimana menu MBG ini jadi kurang menarik bagi mereka. Alhasil jarang anak yg memakan MbG nya sehingga mereka diwajibkan bawa pulang ke rumah. Mereka pulang kerumah habis sholat ashar di sekolah. Jadi apa yang terjadi dengan MBG nya? BASI. Dan ttp wajib di bawa pulang. Jadi benar harusnya MBG ini lebih tepat sasaran agar tidak jadi sampah konsumsi, dosa mubazir yang jd ditanggung bersama (emoji sedih),” ungkap @te***ni, memberikan perspektif lain dari sekolah lain.
“Si ibuk anak nya takut keracunan (emoji ketawa),” kata akun @de***sa, dengan nada bercanda namun menyiratkan kepedulian.
Kontributor : Mira puspito