Ia mengaku, keputusannya lebih memilih mendukung Prabowo-Gibran dibandingkan Ganjar-Mahfud lantaran tak sejalan dengan hati nuraninya.
"Lebih ke hati nurani, kalau alasan lain ga ada. Ini soal hati, tidak ada pandangan lain. Tadinya udah senang pecak bandeng ya pecak bandeng aja, jadi ga senang makanan yang lain, umpamanya gitu," kata Tamami.
Untuk itu, ia pun dengan tegas menyatakan kesiapannya untuk menerima segala konsekuensi yang akan dijatuhkan oleh PPP terhadapnya atas pernyataan sikap untuk mendukung Prabowo-Gibran, termasuk di PAW bila nanti terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Serang.
"Itu konsekuensi politik, jangankan ini (beralih dukungan), yang ga ada salah aja bisa kena PAW, itu hal biasa di politik," ungkapnya.
Baca Juga:Tergiur Upah Besar dan Sabu Gratis, Satpam di Serang Jadi Pengedar Narkoba
Sementara itu, Dewan Pembina Santri Milenial Banten KH Matin Syarkowi mengaku dirinya tidak pernah melakukan provokasi terhadap setiap caleg atau kader partai untuk mengalihkan dukungannya ke Prabowo-Gibran.
"Saya bukan provokator, mereka datang dengan sendirinya. Dan saya di sini saja ga pernah kemana-mana," kata KH Matin.
Menurutnya, setiap orang memiliki hati nurani untuk menentukan sikap terhadap pilihannya masing-masing meski harus berbeda dengan kebijakan partai masing-masing.
"Ya siapapun punya hati nurani untuk beralih pilihan capres dan cawapres kita tampung dan tidak pernah meminta, mereka datang sendiri karena nurani," tandasnya.
Kontributor : Yandi Sofyan
Baca Juga:Siswa SDN Kepuh Dipulangkan Karena Terganggu Bau Gas Kimia di Cilegon