facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Belasan Santriwati Pondok Pesantren di Kawasan Depok Diduga Dicabuli Ustadz dan Santri Senior

Erick Tanjung | Muhammad Yasir Rabu, 29 Juni 2022 | 19:17 WIB

Belasan Santriwati Pondok Pesantren di Kawasan Depok Diduga Dicabuli Ustadz dan Santri Senior
Ilustrasi pencabulan [Suara.com/Rochmat]

"Pelaku ada lima orang dari pondok pesantren itu. Empat ustadz dan satu kakak kelas mereka yang di bawah umur," kata Megawati.

SuaraBanten.id - Belasan santriwati diduga menjadi korban pencabulan di pondok pesantren kawasan Depok, Jawa Barat. Terduga pelaku merupakan ustadz dan seniornya.

Kasus ini telah dilaporkan ke Polda Metro Jaya. Laporan teregistrasi dengan Nomor: LP/B/3084/IV/2022/SPKT POLDA METRO JAYA tertanggal 21 Juni 2022.

Kuasa hukum korban, Megawati menyebut empat dari lima terduga pelaku merupakan ustadz.

"Pelaku ada lima orang dari pondok pesantren itu. Empat ustadz dan satu kakak kelas mereka yang di bawah umur," kata Megawati di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (29/6/2022).

Baca Juga: Belasan Santriwati Diduga Jadi Korban Pencabulan di Ponpes Kawasan Depok, Terduga Pelaku Ustaz dan Santri Senior

Sementara korban dalam kasus ini berjumlah 11 santriwati. Seluruhnya berstatus di bawah umur. Hanya saja, dari belasan korban hanya tiga yang kekinian berani bersuara.

"Tapi sekarang yang diperiksa baru tiga orang," ujarnya.

Menurut penuturan Megawati, tindakan pencabulan ini dilakukan para pelaku di lingkungan pondok pesantren. Seperti di toilet dan kamar kosong.

"Jadi setiap malam mereka datang ke kamar itu dibekap dan dilakukan itu (pencabulan) dan ada yang di kamar mandi, ada yang di ruangan kosong," bebernya.

Kasus ini sendiri, lanjut Megawati, sempat dilaporkan ke pihak pondok pesantren. Namun ketika itu korban justru mendapatkan ancaman.

Baca Juga: Warga Ungkap Detik-detik Minibus Dihantam KA Siliwangi di Cianjur: Sudah Diberi Tanda tapi Mobil Terus Jalan

"Ancaman dibilang bahwa 'jangan kasih tahu sama ibu kamu ya. Kasian nanti ibu kamu malah kepikiran'. Jadi dari ancaman itu anak-anak tidak berani lapor ke orangtuanya," pungkasnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait