alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Dukung Batik Anti Bakteri, Ketua DPD RI: Masyarakat Harus Tahu Khasiatnya

M Nurhadi Kamis, 04 Maret 2021 | 07:32 WIB

Dukung Batik Anti Bakteri, Ketua DPD RI: Masyarakat Harus Tahu Khasiatnya
Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. (ANTARA/HO/DPD RI)

"Masyarakat harus mendapat penjelasan mengenai kegunaan kain ini, khasiatnya untuk apa serta manfaat yang didapat jika menggunakan produk ini," kata LaNyalla.

SuaraBanten.id - Produksi massal batik anti bakteri yang digagas Balai Kerajinan Besar dan Batik tahun ini mendapatkan dukungan penuh Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti usai penelitian ini sukses.

“Pengembangan batik antibakteri merupakan bagian dari diversifikasi produk. Hasil penelitian tersebut memiliki manfaat langsung di masyarakat, baik produsen maupun konsumen,” kata LaNyalla, Rabu (3/3/2021).

Pria yang pernah menjabat Ketua Umum PSSI itu mengaku optimis batik ini akan memiliki tempat di masyarakat. Alasannya, belakangan masyarakat kian memahami pentingnya aspek kesehatan dari beragam produk.

Kain batik anti bakteri ini akan memiliki pasar tersendiri, mengingat semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya kesehatan diri sendiri, termasuk saat akan memilih produk industri yang akan digunakannya," ungkapnya.

Baca Juga: Viral Uang Redenominasi Rp100 Berwajah Jokowi, Warna Merah dan Motif Batik

Di sisi lain, mantan Ketua Umum Kadin Jawa Timur ini meminta agar sosialisasi mengenai kegunaan kain anti bakteri dilakukan secara masif agar masyarakat mendapat informasi utuh dan menyeluruh, sehingga menghindari berita hoaks.

"Masyarakat harus mendapat penjelasan mengenai kegunaan kain ini, khasiatnya untuk apa serta manfaat yang didapat jika menggunakan produk ini. Ini adalah inovasi yang baik yang harus terus dikembangkan," ungkap Senator Dapil Jawa Timur tersebut.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Titik Purwati Widowati menyampaikan, produksi massal batik anti bakteri tersebut akan bekerja sama dengan pihak swasta.

"Kami tidak boleh produksi sendiri. Jadi nanti yang memproduksi sepenuhnya perusahaan swasta," kata Titik di Yogyakarta, Selasa (2/3/2021).

Ia menyebut, saat ini batik tersebut masih dalam tahap pengembangan skala laboratorium. Selain itu, harga batik tersebut diperkirakan masih terlalu mahal untuk dipasarkan.

Baca Juga: Potret Kerennya Bagus Kahfi Pakai Batik saat Resmi Diperkenalkan FC Utrecht

Batik anti bakteri tersebut merupakan salah satu wujud diversifikasi produk batik seperti yang didorong Kementerina Perindustrian.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait