- Sistem polder di Pantai Indah Kapuk berhasil menanggulangi hujan ekstrem dengan menampung dan memompa air hujan ke laut.
- Teknologi polder, yang berasal dari Belanda, dirancang untuk mengelola limpasan air sehingga mencegah terjadinya banjir signifikan.
- Perawatan berkala sistem polder penting untuk menjaga efektivitasnya menghadapi sedimentasi dan potensi kerusakan fasilitas jangka panjang.
SuaraBanten.id - Hujan turun deras sejak sore. Jalan-jalan di sejumlah sudut Jakarta mulai berubah menjadi aliran air, kendaraan melambat, dan genangan bertahan hingga malam. Namun di kawasan pesisir Pantai Indah Kapuk dan PIK 2, pemandangan berbeda terjadi.
Sekitar dua jam setelah hujan berhenti, permukaan jalan di kawasan ini kembali kering. Aktivitas warga dan kendaraan berangsur normal, seolah hujan ekstrem yang baru saja turun tidak meninggalkan jejak berarti. Kondisi ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari sistem pengendalian air yang telah dirancang sejak awal: sistem polder.
Alih-alih membiarkan air hujan langsung mengalir keluar kawasan, sistem polder menampung air terlebih dahulu di kolam-kolam retensi. Dari sana, air dikelola melalui jaringan kanal dan dipompa secara terukur menuju laut. Pendekatan ini membuat limpasan air tidak berubah menjadi banjir.
Konsultan manajemen air asal Belanda, Victor Coenen, menjelaskan bahwa teknologi polder bukanlah konsep baru. Di negaranya, sistem serupa telah digunakan selama ratusan tahun untuk melindungi wilayah yang berada di bawah permukaan laut.
Baca Juga:BPBD Kabupaten Tangerang: 10.000 KK Terdampak Banjir, Kosambi Jadi Wilayah Terparah
“Sistem ini dikembangkan di Belanda sejak ratusan tahun lalu. Air hujan yang masuk kawasan dikumpulkan lebih dahulu, lalu dipompa keluar sehingga tidak menyebabkan banjir,” kata Victor.
Menurutnya, sistem polder di kawasan PIK dirancang untuk menghadapi kondisi ekstrem. Bahkan, perencanaannya telah memperhitungkan kemungkinan banjir dengan periode ulang hingga 100 tahunan.
Hujan ekstrem yang terjadi beberapa waktu lalu menjadi uji nyata sistem tersebut.
“Dalam 3 jam turun hujan setara 1 bulan curah hujan Jakarta, sekitar 350 milimeter. Meski demikian, sistem tetap berjalan dan kawasan ini relatif aman dari genangan besar,” ujarnya.
Pengamat tata kota Yayat Supriatna menilai keberhasilan sistem polder di kawasan pesisir seperti PIK menunjukkan pentingnya perencanaan pengelolaan air sejak awal pembangunan.
“Sistem polder cocok diterapkan di wilayah pesisir atau daerah muara sungai yang rawan genangan. Namun, perawatan berkala tetap menjadi kunci agar sistem terus berfungsi optimal,” ujar Yayat.
Baca Juga:Pemkot Cilegon Didesak Bentuk Tim Khusus Penanganan Banjir
Ia mengingatkan, sedimentasi dan kerusakan fasilitas bisa menurunkan kinerja sistem jika tidak ditangani secara rutin.
Di tengah perubahan iklim yang memicu hujan semakin ekstrem, pengalaman PIK dan PIK 2 memperlihatkan bahwa kawasan pesisir tidak selalu identik dengan banjir. Dengan perencanaan yang tepat dan teknologi pengendalian air yang disiplin dirawat, wilayah yang rawan justru bisa tetap nyaman dan aman untuk dihuni.