Piring Nasi Terancam! Ratusan Hektare Sawah di Lebak Terancam Puso, Petani Hanya Bisa Pasrah

Situasi ini menjadi pukulan telak bagi sektor ketahanan pangan lokal, mengingat sebagian besar padi yang terendam sudah memasuki fase krusial menjelang panen.

Andi Ahmad S
Rabu, 21 Januari 2026 | 21:06 WIB
Piring Nasi Terancam! Ratusan Hektare Sawah di Lebak Terancam Puso, Petani Hanya Bisa Pasrah
Ilustrasi sawah terendam banjir di Lebak Banten. [Antara]
Baca 10 detik

Banjir akibat curah hujan tinggi merendam 269 hektar sawah di Kabupaten Lebak, dengan 50 hektar dipastikan gagal panen (puso) dan 73 hektar lainnya terancam. Kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp500 juta, di mana beberapa wilayah terendam air setinggi 1,5 meter selama dua pekan.

Banjir ini terjadi saat usia padi rata-rata mencapai 80 hari setelah tanam, yang seharusnya siap dipanen pada Februari 2026. Hal ini menyebabkan para petani kehilangan potensi hasil produksi tepat sebelum masa panen tiba.

Pemerintah Kabupaten Lebak merespons dengan menyiapkan bantuan benih dan pupuk untuk percepatan tanam ulang, serta melakukan langkah preventif berupa normalisasi saluran air untuk meminimalisir luapan banjir susulan di masa mendatang.

SuaraBanten.id - Harapan petani di Kabupaten Lebak, Banten, untuk menikmati hasil panen raya di awal tahun harus pupus seketika.

Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut tanpa henti dalam beberapa hari terakhir memicu banjir besar yang tidak hanya merendam pemukiman, tetapi juga menenggelamkan lumbung pangan warga.

Data terbaru yang dirilis oleh Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak pada Rabu (21/1) menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Sebanyak 269 hektare lahan persawahan produktif kini tergenang air.

Situasi ini menjadi pukulan telak bagi sektor ketahanan pangan lokal, mengingat sebagian besar padi yang terendam sudah memasuki fase krusial menjelang panen.

Baca Juga:Siapa Pelakunya? Teka-teki Pembongkaran Makam Warga di Jawilan, Polisi Buru Jejak yang Tertinggal

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, membeberkan fakta pahit di lapangan. Berdasarkan asesmen timnya, puluhan hektare lahan sudah dipastikan mati total alias puso.

"Dari luas 269 hektare itu di antaranya yang dinyatakan puso atau gagal panen seluas 50 hektare dan 73 hektare terancam puso," kata Rahmat Yuniar, dilansir dari Antara.

Tragisnya, padi-padi yang menjadi korban banjir ini rata-rata sudah berusia 80 hari setelah tanam (HST). Artinya, bulir padi sudah mulai berisi dan dipastikan Februari mendatang sudah memasuki musim panen. Namun, alih-alih menguning, tanaman tersebut kini membusuk di bawah rendaman air.

Kemungkinan besar banjir terus meluas, karena hingga kini curah hujan cukup tinggi, bahkan sepanjang Rabu sejak dini hari hingga siang ini masih berlangsung. Hal ini membuat angka luasan terdampak berpotensi terus bertambah.

Bencana banjir lahan pertanian ini tersebar di beberapa lumbung padi Lebak, yakni Kecamatan Cilograng, Cibadak, Malingping, dan Wanasalam. Namun, kondisi paling ekstrem dilaporkan terjadi di Desa Cisangu, Kecamatan Cibadak.

Baca Juga:Mengenang Capt. Andy Dahananto: Dikenal Ramah dan Sosialis di Mata Warga Tigaraksa

Di wilayah ini, seluas 50 hektare sawah terendam air setinggi 1,5 meter. Yang membuat situasi semakin parah, genangan ini sudah berlangsung selama 15 hari tanpa surut signifikan, mengakibatkan batang tanaman padi mati total karena kehabisan oksigen dan membusuk.

Kerugian materiil yang diderita petani pun tidak main-main. Distan Lebak telah melakukan kalkulasi kasar mengenai dampak ekonomi dari bencana ini.

"Kami memperkirakan kerugian puso itu Rp500 juta dari seluas 50 hektare dengan biaya produksi Rp10 juta per hektare," kata Rahmat merinci beban yang harus ditanggung petani.

Rahmat menegaskan bahwa pemerintah daerah menyiapkan penyaluran bantuan sarana produksi berupa benih padi dan pupuk kepada petani yang dinyatakan gagal panen.

Penyaluran bantuan sarana produksi tersebut diharapkan petani bisa melakukan percepatan tanam pada Februari mendatang, menggantikan tanaman yang mati.

Selain bantuan logistik, strategi teknis juga disiapkan. Pihaknya juga mengantisipasi banjir dengan melibatkan petani untuk menormalisasikan saluran air, agar tidak menimbulkan luapan air ke areal persawahan jika curah hujan tinggi kembali terjadi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak