Apa yang Terjadi Jika Anak Belum Siap Sekolah? Ini Kata Psikolog

Lebih penting dari hal-hal tersebut, kata Rose, anak harus lebih siap dengan tugas perkembangan diri.

Risna Halidi | Lilis Varwati
Selasa, 01 Desember 2020 | 16:49 WIB
Apa yang Terjadi Jika Anak Belum Siap Sekolah? Ini Kata Psikolog
Ilustrasi anak-anak sekolah. (Shutterstock)

SuaraBanten.id - Psikolog anak Dr. Rose Mini A.P M.Psi. menjelaskan alasan mengapa anak tidak perlu pandai membaca, menulis, dan berhitung saat masuk Sekolah Dasar atau SD.

Lebih penting dari hal-hal tersebut, kata Rose, anak harus lebih siap dengan tugas perkembangan diri.

"Gimana kalau anak masuk sekolah belum siap? Dia akan sulit beradaptasi, sulit memahami pelajaran karena kemampuan bahasanya juga kurang, sulit konsentrasi, dan merasa tidak nyaman di sekolah jadi demotivasi," papar psikolog yang akrab disapan Bunda Romi beberapa waktu lalu.

Bunda Romi menegaskan bahwa anak tidak bisa dipaksa untuk masuk SD jika memang secara tugas perkembangannya belum siap. Ia menuturkan, umumnya indikator kematangan anak masuk SD, yang juga ditetapkan Pemerintah, adalah usia minimal tujuh tahun.

Baca Juga:Daftar Hari Nasional di Indonesia Terlengkap dari Januari hingga Desember

Tetapi, setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda-beda.

Menurut Bunda Romi, kematangan perkembangan anak tergantung dari simulasi yang diberikan orangtua juga sekolah TK saat anak mengenyam usia dini. Simulasi cukup dilakukan dengan cara yang sederhana, salah satunya dengan mengajarkan anak berani bicara.

"Anak harus diajak bicara supaya berani ngomong. Ibunya sering nanya 'adek ceritain dong di sekolah ngapain aja'. Ya si anak akan bingung karena banyak yang dilakukannya. Orangtua harusnya lebih detail bertanya 'tadi waktu makan duduk dengan siapa', karena sifat kognitifnya anak masih kinkret. Jadi perlu menerangkan dengan sesuatu," paparnya.

Sebelum masuk SD, anak sebaiknya telah mengetahui angka dan bisa membedakan berbagai warna dasar. Selain itu anak juga mampu mandiri, atau tidak selalu bergantung dengan orangtuanya.

"Kalau mau tes anak coba buka baju bagian atas lalu suruh dia mengancingkan lagi. Itu melihat motorik halus dan kemandirian. Juga dapat teratur dengan rutinitas. Ini kesiapan sekolah. Kesemua aspek ini harus disimulasi," ujarnya

Baca Juga:Paula Verhoeven Istri Baim Wong Ternyata Belum Hamil Anak ke-2?

Bunda Romi mengingatkan, orangtua tidak perlu memaksa anak agar selalu mendapat peringkat teratas di sekolah. Terpenting dari sekolah adalah bagaimana anak paham dengan pelajaran dan merasa bahagia. "Kalau ranking belum tentu juga akan berhasil di masyarakat. Ternyata ada faktor lain yang menentukan," ucapnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak