alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Amerika Incar Harta Karun US$10.000 Kuadriliun, Mulai Operasi Tahun 2026

M Nurhadi Jum'at, 30 Oktober 2020 | 09:20 WIB

Amerika Incar Harta Karun US$10.000 Kuadriliun, Mulai Operasi Tahun 2026
Ilustrasi kantor NASA. [Jahsie Ault/Unsplash]

Asteroid itu diketahui tellah lama diincar oleh NASA Discovery Mission Psyche yang ditargetkan akan diluncurkan pada tahun 2022 menggunakan roket SpaceX Falcon Heavy.

SuaraBanten.id - Sebuah harta karu luar angkasa senilai US$10.000 kuadriliun atau setara Rp 136.000.000 kuadriliun (asumsi Rp 13.600/US$) ditemukan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Tak sembarang temuan, harta karun itu adalah Asteroid Psyche yang sebagian besar terbuat dari logam seperti inti Bumi. Asteroid ini ditemukan teleskop luar angkasa Hubble. Benda luar angkasa ini berada di sabuk asteroid utama Tata Surya di antara Mars dan Jupiter.

Berdasarkan penelitian dari Planetary Science Journal, asteroid mahal itu berjarak sekitar 230 juta mil (370 juta kilometer) dari Bumi dan berukuran 140 mil (226 kilometer), seukuran Virginia Barat (AS).

"Kami telah melihat meteorit yang sebagian besar terbuat dari logam, tetapi Psyche bisa jadi unik karena mungkin asteroid itu benar-benar terbuat dari besi dan nikel," ujar Tracy Becker ilmuwan planet di Southwest Research Institut AS, yang disadur Batamnews dari Observer, Kamis (29/10/2020).

Dengan data spektrum ultraviolet yang dikumpulkan oleh Spektograf Teleskop Luar Angkasa Hubble selama dua pengamatan pada tahun 2017, para observer berhasil menyimpulkan sebagian besar permukaan Psyche mungkin berupa besi murni.

Asteroid itu diketahui tellah lama diincar oleh NASA Discovery Mission Psyche yang ditargetkan akan diluncurkan pada tahun 2022 menggunakan roket SpaceX Falcon Heavy.

Diharapkan, fakta ilmiah terkait asteorid itu terkuak pada tahun 2026 nanti.

Peneliti meyakini, asteroid itu adalah inti mati yang ditinggalkan oleh sebuah planet yang gagal selama pembentukannya di awal kehidupan Tata Surya atau akibat dari banyak tabrakan hebat di masa lalu.

"Singkatnya ini Bintang Mati (Death Star)... satu kemungkinan lainnya bahwa itu adalah materi yang terbentuk sangat dekat dengan Matahari di awal Tata Surya," kata pemimpin penelitian NASA Elkins-Tanton kepada Forbes dalam sebuah wawancara pada Mei tahun 2017.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait