Andi Ahmad S
Jum'at, 06 November 2026 | 20:57 WIB
Ilustrasi Guru Ngaji dibayar Rp150 ribu per bulan di Lebak
Baca 10 detik
  • Empat guru MDA Al-Intidomiyah 1 di Lebak Banten mengabdi tulus mendidik 70 siswa dengan honor Rp150 ribu per bulan.
  • Madrasah keluarga yang berdiri sejak 1967 tersebut sukses meluluskan ribuan siswa yang mampu membaca Al-Qur'an dan menulis Arab.
  • Bupati Lebak mengalokasikan dana insentif tahunan sebesar Rp600.000 bagi 5.425 guru madrasah untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

SuaraBanten.id - Di tengah keterbatasan ekonomi, semangat para guru Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Al-Intidomiyah 1 di Desa Tambakbaya, Kabupaten Lebak, Banten, tidak pernah surut untuk mencetak generasi muda berakhlak mulia.

Meski hanya menerima honor sebesar Rp150 ribu per bulan, mereka tetap mengabdi dengan ketulusan hati.

"Kami memang menerima gaji yang jauh dari kata layak, tetapi kami tetap bisa hidup bahagia bersama keluarga," ujar Anita, salah seorang guru MDA Al-Intidomiyah 1, Jumat.

‎Pendapatan upah menjadi tenaga pendidik di MDA Alintidomiyah1 tergantung kemampuan dari sumbangan partisipasi masyarakat sebesar Rp10 ribu per bulan.

‎Saat ini, jumlah peserta didik di madrasahnya itu sebanyak 70 orang terdiri dari kelas I sampai IV.

‎Sumber pendapatan dari partisipasi masyarakat total Rp700 ribu per bulan dan dibagi empat guru, sehingga masing-masing menerima upah Rp150 ribu per orang dan sisanya Rp100 ribu untuk beli kapur bor.

‎"Kami bersyukur menerima gaji tak layak, namun anak pertama kuliah di Untirta Serang. Allah maha pemberi rejeki dan keluarganya bahagia dan sejahtera," kata Anita.

‎Menurut dia, kegiatan belajar mengajar di madrasah itu dari Senin sampai Sabtu dan pembelajaran di kelas pukul 14.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, karena semua siswa madrasah itu dari Sekolah Dasar (SD) setempat kelas II sampai VI.

‎Pemerintah daerah mewajibkan anak SD dapat menerima pendidikan MDA setelah pulang sekolah.

Baca Juga: Bendungan Karian Menyusut, Pasokan Air Irigasi di Banten Dipastikan Aman

‎Kurikulum pembelajaran itu dari Kementerian Agama, seperti bahasa Arab, Al-Qur'an, Hadist, sejarah Islam, akhlak, akidah, tafsir dan tauhid.

‎"Lulusan siswa di sini sekitar 100 persen mampu membaca Alquran dan menulis bahasa Arab," katanya menjelaskan.

‎Begitu pula guru MDA Alintidomiyah1 lainya, Fatmah mengaku dirinya sudah puluhan tahun mengajar di madrasah dengan gaji tidak layak, namun semangat untuk mencetak anak anak yang memiliki ilmu agama Islam.

‎"Kami mengajar ikhlas dan rejekinya dijamin oleh Allah," kata Fatmah yang kini menyelesaikan kuliah keguruan di Universitas Terbuka Serang.

‎Fatmah dan Anita mengatakan pendidikan madrasah yang dikelola keluarga itu berdiri sejak 1967 hingga kini bertahan untuk mencetak generasi yang berilmu agama Islam sehingga memiliki akhlak mulia.

‎Alumninya, kata dia, ribuan orang dan mereka di antaranya ada yang menjadi guru, ulama, pengusaha dan petani.

Load More