Andi Ahmad S
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:13 WIB
Seorang siswa baru menguap saat mengikuti upacara pada hari pertama tahun ajaran 2026/2027 di sekolah. [ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/tom]
Baca 10 detik
  • Baik Muhammad Ramadhan mengantar putri pertamanya masuk SDIT Nurul Hidayah Kota Serang pada Selasa, 14 Juli 2026.
  • Meski telah bercerai, Baik tetap berkomitmen memberikan dukungan penuh selama masa pengenalan lingkungan sekolah berlangsung di sekolah.
  • Koordinasi komunikasi yang baik dengan mantan istri memudahkan pembagian tugas antar-jemput anak di tengah kesibukan jadwal kerja ASN.

SuaraBanten.id - Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2026/2027 penuh cerita, termasuk untuk orang tua. Para ayah sangat antusias meski hanya sekadar mengantar anak masuk sekolah tanpa harus berebutan kursi karena pihak sekolah punya kebijakan dalam mengatur posisi duduk siswa.

Seperti disampaikan oleh Baik Muhammad Ramadhan (34). Menurutnya, mengantarkan anak perempuan satu-satunya ke sekolah dasar untuk pertama kali menjadi momen yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidupnya.

Sebab kata Baik, dirinya merasakan suatu kebanggaan saat mengantarkan anaknya masuk sekolah dasar di SDIT Nurul Hidayah Kota Serang lantaran tetap bisa memposisikan sebagai ayah di tengah kondisi rumah tangga yang sudah bercerai sejak tahun 2025 silam.

"Ini pertama kali nganter anak masuk SD. Senang, ada suatu hal yang bikin bangga. Karena saya lahir dari keluarga broken home, saat itu pas saya masuk SD ga ngerasain diantar sama ayah. Terus ditambah kondisi saya sekarang juga sudah pisah sama istri. Jadi kayak bangga aja bisa ngasih hal layaknya para orang tua normal lain pada umumnya yang rumah tangganya masih utuh," kata Baik, Selasa (14/7/2026).

Diakui Baik, dirinya langsung membawa anaknya masuk ke dalam sekolah untuk memberikan dukungan agar buah hatinya bisa betah di lingkungan sekolah yang baru.

Bahkan, lanjut Baik, dirinya pun harus rela menunggu berjam-jam di lapangan sekolah sambil mengamati anaknya yang tengah mengikuti MPLS (masa pengenalan lingkungan sekolah) di hari pertama masuk sekolah.

"Dan alhamdulillah bisa nemenin sampe dia pulang. Saya nungguin di lapangan. Jadi saya ikut masuk ke dalam dan anak-anak dikumpulin di mushola sama pihak sekolah karena masih dalam momen MPLS," ungkapnya.

"Dan alhamdulillah anaknya ga rewel, jadi pas masuk itu dia fokus dengan teman-teman baru dan kegiatan sekolahnya. Dan sebagai orang tua melihat itu cukup lega juga karena khawatir rewel," imbuh Baik.

Sebagai ASN di Rutan Kelas IIB Serang, Baik mengaku, dirinya saat ini harus membagi waktu agar bisa mengantar atau menjemput anaknya sekolah di tengah kondisi yang sudah tak tinggal satu rumah, termasuk rela untuk bangun pagi demi agar bisa mengantarkan anaknya ke sekolah.

Baca Juga: Bingung Cari Uang Nikah, Pemuda 25 Tahun Nekat Tusuk Leher Ojol yang Sedang Tidur di Tangerang

"Anak kan ikut sama mantan istri, sudah pisah rumah kan sama saya. Ya paling saya harus bangun lebih awal, berangkat pagi jam 6 buat jemput dulu ke rumah mantan istri, terus nganterin ke sekolah. Dan dinikmati aja sih, karena kalau udah gede nanti belum tentu mau diantar jemput orang tuanya lagi," terang Baik.

Meski begitu, ia mengaku, komunikasi yang berjalan baik dengan mantan istri turut andil dalam membagi waktu antara kerjaannya yang kerap mengharuskan piket pagi, siang dan malam yang mengharuskan dirinya absen untuk mengantar atau menjemput anaknya.

"Karena kerjaan saya kadang piket pagi, kadang piket siang, kadang piket malam ya tinggal komunikasi sama mantan istri soal siapa yang harus nganter dan jemput anaknya. Ya kalau lagi libur sih diusahakan saya yang bakal nganter atau jemput. Tapi kalau masuk oagi ya mungkin pulangnya saya yang jemput, ya kalau masuk siang nanti saya yang nganter, gitu aja sih. Dan alhamdulillah komunikasi sih masih aman ga terkendala," tandasnya.

Kontributor : Yandi Sofyan

Load More