Andi Ahmad S
Senin, 13 Juli 2026 | 19:51 WIB
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, mengalami 19 kali erupsi sepanjang periode Juni hingga Juli 2026, dengan aktivitas vulkanik yang masih berada pada Level III (Siaga). [ANTARA]
Baca 10 detik
  • BPBD Banten meningkatkan mitigasi dan kesiapsiagaan setelah Gunung Anak Krakatau ditetapkan berstatus Level III atau Siaga saat ini.
  • Pemerintah menyiapkan sistem peringatan dini tsunami dengan waktu evakuasi selama 40 menit bagi masyarakat di pesisir Banten.
  • PVMBG menegaskan kondisi morfologi gunung saat ini berbeda dari tahun 2018 sehingga aktivitas pariwisata tetap berjalan aman.

SuaraBanten.id - Saat ini status Level III (Siaga) Gunung Anak Krakatau (GAK) menjadi perhatian banyak orang. Hal tersebut menjadi sorotan khusus dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten.

BPBD Banten menyatakan bahwa saat ini tengah melakukan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan seiring dengan status siaga Gunung Anak Krakatau.

Kepala BPBD Provinsi Banten Lutfi Mujahidin meminta masyarakat untuk tidak panik, apalagi aktivitas pariwisata di kawasan Anyer dan Carita aman.

Dia juga menyatakan bahwa fokus pemerintah tidak hanya pada pemantauan aktivitas erupsi GAK, tetapi juga pada pematangan strategi antisipasi dampak sekunder, terutama potensi tsunami.

"Mitigasi sudah kita lakukan sejak awal tahun, bahkan kita perkuat setelah Level III status GAK," ujar Lutfi.

Lutfi menjelaskan bahwa masyarakat dan wisatawan tidak perlu khawatir berlebihan. Apabila terdeteksi adanya erupsi yang berpotensi memicu tsunami, sistem peringatan dini telah memperhitungkan waktu emas (golden time) sekitar 40 menit bagi masyarakat pesisir untuk melakukan evakuasi secara aman.

Guna memastikan skenario tersebut berjalan lancar, BPBD Banten terus memantapkan koordinasi lintas sektor bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BMKG, TNI, Polri, dan pemerintah daerah.

"Selain itu, BPBD juga memberikan pelatihan evakuasi cepat kepada Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) yang berjaga di sepanjang garis pantai," paparnya.

Lutfi menegaskan keputusan evakuasi akan selalu didasarkan pada analisis informasi resmi. Erupsi gunung tidak serta-merta mengharuskan masyarakat mengungsi apabila tidak ada indikasi bahaya tsunami.

Baca Juga: Targetkan 1.500 Pelari, Ajang GRID Cardio Rush Bakal Hijaukan Kaki Gunung Gede Pangrango

Sementara itu, Pengamat Gunung Api PVMBG di Pos Pengamatan GAK, Anggi Nuryo Saputro mengedukasi masyarakat agar tidak menyamakan kondisi gunung saat ini dengan peristiwa masa lalu, karena secara morfologi keadaannya sudah jauh berbeda.

Menurut kajian para ahli, tinggi tubuh GAK saat ini berada di kisaran 158 meter di atas permukaan laut (mdpl), jauh lebih rendah dibandingkan dengan tinggi gunung sebelum tsunami Selat Sunda 2018 yang mencapai 337 mdpl.

"Kondisinya tidak sama dengan tahun 2018. Namun, masyarakat tetap harus mematuhi rekomendasi PVMBG, yakni dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Semua informasi resmi dapat diakses melalui MAGMA Indonesia," kata Anggi.

Berkat masifnya edukasi dan penguatan mitigasi dari pemerintah, geliat pariwisata di pesisir Banten tetap berjalan normal.

Pantauan di lapangan menunjukkan kawasan wisata, seperti Pantai Bandulu di Anyer dan Pantai Pandan di Carita tetap dipadati rombongan wisatawan dari berbagai daerah, seperti Bekasi, Bogor, dan Tangerang, yang menikmati liburan dengan aman dan nyaman. [Antara].

Load More