- Dugaan korupsi jasa pengangkutan sampah Tangsel TA 2024-2025 memasuki sidang tuntutan di PN Serang pada 28 Januari 2026.
- Empat terdakwa, termasuk mantan Kepala DLH, dituntut hukuman belasan tahun penjara akibat rugikan negara Rp21,6 miliar.
- Proyek pengadaan bermasalah karena pemenang tender tidak penuhi syarat dan sampah dibuang ke lokasi ilegal.
SuaraBanten.id - Aroma tidak sedap tidak hanya datang dari tumpukan sampah, tetapi juga dari tata kelola anggarannya. Kasus dugaan korupsi pengadaan jasa pengangkutan dan pengelolaan sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) untuk tahun anggaran 2024-2025 kini memasuki babak krusial.
Empat terdakwa yang terlibat dalam skandal bernilai puluhan miliar rupiah ini harus menghadapi tuntutan hukum yang sangat berat.
Dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Serang pada Rabu (28/1/2026) malam, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Banten tidak main-main.
Mereka menuntut hukuman penjara belasan tahun bagi para pejabat dan rekanan swasta yang dinilai telah merugikan negara hingga Rp21,6 miliar.
Kasus ini menjadi sorotan tajam publik, khususnya warga Tangsel, karena menyangkut layanan dasar kebersihan kota yang sering dikeluhkan, namun anggarannya justru diduga menjadi bancakan oknum pejabat.
JPU Kejati Banten, Subardi, membacakan tuntutan yang membuat ruang sidang hening. Tuntutan terberat dialamatkan kepada pihak swasta, yakni Direktur PT Ella Pratama Perkasa, Sukron Yuliadi Mufti, yang dituntut 14 tahun penjara.
Sementara itu, dari pihak birokrat, mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel, Wahyunoto Lukman, dituntut 12 tahun penjara.
Dua bawahan Wahyunoto juga tak luput dari tuntutan berat Zeky Yamani (Subbag Umum dan Kepegawaian DLH) Dituntut 10 tahun penjara.
Tubagus Apriliadhi Kusuma Perbangsa (Kepala Kebersihan DLH) Dituntut 6 tahun penjara.
Baca Juga: Syarat Masuk Sampah Tangsel ke Cilowong: Warga Minta CSR Rp1 Miliar dan Ambulans
"Menuntut agar majelis hakim menyatakan keempat terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 2 ayat (1) junti pasal 18 undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dengan undang-undang nomor 20 tahun 2001 junto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP," tegas JPU Subardi dalam persidangan.
Dalam dakwaan terungkap bahwa proyek senilai Rp75,9 miliar ini penuh dengan kejanggalan. Penunjukan PT Ella Pratama Perkasa sebagai pemenang tender dinilai bermasalah fatal karena perusahaan tersebut tidak memiliki armada dump truck dan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai sesuai syarat teknis.
Parahnya, pekerjaan tersebut justru dialihkan ke pihak lain, yakni CV Bank Sampah Induk Rumpintama, atas arahan terdakwa Wahyunoto. Lebih miris lagi, sampah warga Tangsel ternyata dibuang ke lahan ilegal di Desa Gintung dan Desa Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, yang berpotensi merusak lingkungan sekitar.
Tidak hanya ancaman penjara, para terdakwa juga dimiskinkan dengan denda dan kewajiban membayar uang pengganti. Terdakwa Sukron Yuliadi menjadi yang paling terbebani. Selain denda Rp1 miliar, ia diwajibkan membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp21 miliar dengan subsider 7 tahun penjara jika tidak mampu membayar.
Sementara itu, Wahyunoto, Zeky, dan Tubagus masing-masing didenda Rp500 juta. Khusus Zeky Yamani, ia diduga mengatur aliran dana operasional sebesar Rp15 miliar ke rekening pribadi, di mana pengelola lapangan hanya menerima remah-remah sebesar Rp1,3 miliar.
"Hal memberatkan, perbuatan para terdakwa tidak mendukung pemerintah dalam pemberantasan korupsi. Dan hal meringankan para terdakwa merupakan tulang punggung keluarga," ujar Subardi.
Tag
Berita Terkait
-
Syarat Masuk Sampah Tangsel ke Cilowong: Warga Minta CSR Rp1 Miliar dan Ambulans
-
Tangsel Perketat Pengawasan Darurat Sampah, Pelanggar Berulang Terancam Denda Administratif
-
Tanggapi Penolakan Sampah Tangsel, Sekda Banten: Kota Serang Harus Diskusi dengan Warga
-
4 Spot Wisata Kuliner Hits di Tangsel yang Wajib Kamu Coba Akhir Pekan Ini
-
Bogor dan Serang Kompak 'Tutup Pintu' untuk Sampah Kiriman Tangsel
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Modus Jual Sembako Tak Setor Hasil, Kejati Banten Tahan Tersangka Korupsi PT ABM Rp6,8 M
-
Kampung Somang yang Tenggelam di Bendungan Karian Kembali Muncul, Ini Penjelasan Pengelola
-
Pimpin PUTRI Banten, Nana Sunjana Target Pariwisata Dongkrak Ekonomi Masyarakat
-
Tak Nyangka Diberi Rumah dan Mobil, Atlet Difabel Handayani: Ini Motivasi Buat Terus Berprestasi
-
Dari Serang, Jakarta hingga Sukabumi: Kronologi Polresta Serang Kota Gagalkan Peredaran 8,8 Kg Sabu