-
Masyarakat Badui konsisten menjaga 3.100 hektare hutan lindung sebagai titipan leluhur untuk mencegah kerusakan alam dan potensi bencana seperti banjir atau longsor.
-
Kerusakan hutan lindung dapat memicu malapetaka bencana alam, berdampak buruk pada keberlanjutan kehidupan manusia, ekosistem, dan menyebabkan kekeringan.
-
Selain penjagaan, Suku Badui melaksanakan tradisi gerakan menanam tahunan sebagai upaya penghijauan dan pemeliharaan hutan demi manfaat pangan serta ekonomi.
SuaraBanten.id - Di saat banyak wilayah di Indonesia bergulat dengan isu kerusakan lingkungan dan pemanasan global, sebuah komunitas adat di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, berdiri tegoh sebagai benteng terakhir kelestarian alam.
Masyarakat Suku Badui, yang mendiami Desa Kanekes, terus menunjukkan konsistensi luar biasa dalam menjaga hutan lindung.
Bagi mereka, hutan bukan sekadar sumber daya, melainkan titipan leluhur yang sakral dan wajib dijaga kehijauannya.
Memasuki puncak musim hujan di bulan Desember 2025 ini, kewaspadaan masyarakat Badui terhadap lingkungan justru ditingkatkan.
Mereka menyadari betul bahwa kelalaian sedikit saja dalam menjaga alam dapat berujung fatal.
Tetua Adat Badui yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, menegaskan bahwa perlindungan terhadap ekosistem hutan adalah mandat mutlak yang tidak bisa ditawar.
"Bila kawasan hutan mengalami kerusakan dipastikan berpotensi menimbulkan malapetaka bencana alam," kata Jaro Oom, dilansir dari Antara, Jumat (12/12/2025).
Jaro Oom memastikan bahwa kondisi hutan di wilayahnya relatif sangat baik. Tidak ada toleransi bagi aktivitas ilegal seperti pembalakan liar maupun penambangan emas tanpa izin (PETI) yang kerap menghantui wilayah konservasi lain di Indonesia.
Mereka memahami hubungan sebab-akibat ekologis dengan sangat baik. Hutan tutupan yang berada di Kaki Gunung Kendeng merupakan daerah resapan air vital bagi wilayah Banten dan sekitarnya.
"Kami memiliki kewajiban untuk menjaga kawasan hutan sebagai warisan leluhur yang harus dilaksanakanya," jelas Jaro Oom.
Baca Juga: Melipir ke Bayah Lebak! Surga Pantai dan Lobster Murah untuk Libur Akhir Tahun Keluarga
Ia memperingatkan bahwa jika hutan ini rusak, dampaknya akan sistemik mulai dari kekeringan parah saat kemarau, kesulitan air bersih, hingga ancaman banjir bandang dan tanah longsor saat curah hujan tinggi seperti sekarang.
Oleh karena itu, pemerintah desa setempat bersama warga melakukan penjagaan rutin di kawasan hutan lindung dan sekitarnya agar tetap lestari.
Upaya pelestarian yang dilakukan Suku Badui tidak hanya bersifat pasif (menjaga), tetapi juga aktif (memulihkan). Mereka memiliki tradisi gerakan menanam yang dilaksanakan setiap tahun. Tradisi ini merupakan wujud nyata regenerasi alam untuk memastikan lahan tetap produktif dan hijau.
"Kami berharap gerakan tanam ini dapat tumbuh subur sehingga menghasilkan pangan dan ekonomi," tambahnya.
Berita Terkait
-
Melipir ke Bayah Lebak! Surga Pantai dan Lobster Murah untuk Libur Akhir Tahun Keluarga
-
200 Kg Limbah Radioaktif Cesium-137 yang Dicuri Akhirnya 'Balik Kandang' Utuh
-
Stasiun Rangkasbitung Suntik Mati Alur Lama, Penumpang KA Wajib Lewat Gedung Baru Super Megah
-
Diancam Tak Diakui Anak, Remaja 14 Tahun Terpaksa Layani Nafsu Bejat Ayah hingga Hamil 7 Bulan
-
5 Hari Hilang, Penumpang KMP Dorothy Ditemukan Tak Bernyawa di Pulau Sangiang
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Ada Orang Dalam Bandara, Petugas KLIA Teridentifikasi Bantu Kopilot Selundupkan Ekstasi ke Indonesia
-
Terbukti Tarik Pungli ke Sesama PPPK, 1 ASN Pemprov Banten Dipecat Tidak Hormat
-
Takut Birokrasi Ribet dan Jalan Rusak, Warga Bawa Jenazah Bocah 8 Tahun Pakai Motor
-
Gawat! 50 Persen SPPG di Banten Belum Punya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi