Ratusan Kilometer Tanpa Alas Kaki: Kisah Sarip dan Samid, Kakak Beradik Badui Penjual Madu Odeng

Tanpa alas kaki, mereka melintasi perbukitan dan aspal panas demi mengantarkan madu murni kepada para langganan dan pembeli di kota.

Andi Ahmad S
Kamis, 14 Mei 2026 | 17:34 WIB
Ratusan Kilometer Tanpa Alas Kaki: Kisah Sarip dan Samid, Kakak Beradik Badui Penjual Madu Odeng
Sejumlah warga Suku Baduy berjalan menuju Pendopo Bupati Lebak, Rangkasbitung, Lebak, Banten, Jumat (24/4/2026). [ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/YU]
Baca 10 detik
  • Sarip dan Samid, remaja Badui Dalam, berjalan kaki dari Kanekes membawa 40 botol madu untuk dijual hingga Tangerang.
  • Tradisi adat melarang penggunaan kendaraan bermotor, sehingga mereka harus berjalan kaki menempuh ratusan kilometer demi menjual madu.
  • Penjualan madu hutan dari Gunung Kendeng ini menjadi sumber pendapatan utama untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga masyarakat Badui.

“Kalau sudah habis di Tangerang, kami pulang lagi ke Badui. Perjalanannya dua hari,” katanya.

Sarip dan Samid berjalan tanpa alas kaki melewati aspal panas, jalan berbatu, hingga kerikil tajam. Namun mereka mengaku sudah terbiasa. Rasa lelah dan sakit seakan kalah oleh tekad membawa uang pulang ke rumah.

“Kami senang kalau madu habis terjual dan bisa membawa uang untuk keluarga,” kata Sarip.

Semangat serupa juga dimiliki Santa (55), warga Badui Luar yang rutin berjalan kaki menjual madu Odeng hingga Cilegon dan Merak. Dari Serang, ia menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer dengan berjalan kaki.

Baca Juga:Gubernur Banten: RS Dilarang Tolak Pasien BPJS PBI yang Sedang Dinonaktifkan

Selama lima tahun terakhir, Santa berkeliling menjajakan madu ke Serang, Cilegon, Merak, bahkan Jakarta. Dalam sepekan, ia mampu menjual 35 botol madu dengan pendapatan sekitar Rp4 juta.

Menurut Santa, permintaan madu Odeng terus tinggi karena banyak pelanggan percaya khasiatnya bagi kesehatan. Madu itu diyakini membantu menjaga stamina, meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah anemia, mengurangi risiko osteoporosis, hingga membantu melawan infeksi.

Pelanggannya datang dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, sopir, pedagang jamu, pejabat, hingga pengusaha.

Namun produksi madu tidak selalu stabil. Hasil panen sangat bergantung pada perkembangan lebah Odeng yang bersarang di pohon-pohon besar kawasan Gunung Kendeng.

Budidaya dilakukan secara tradisional. Madu diambil langsung dari sarang lebah untuk kemudian diperas menjadi cairan madu siap jual.

Baca Juga:6 Fakta Vonis Eks Anggota DPRD Kota Serang Wahyu Papat dalam Kasus Penggelapan Tanah

Belakangan, produksi meningkat seiring perubahan musim dari penghujan ke kemarau. Banyak pohon berbunga dan menghasilkan nektar melimpah, sehingga satu sarang bisa menghasilkan empat hingga enam botol madu.

“Sekarang produksi bisa sampai 40 botol per pekan,” ujar Santa. [Antara].

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak