Dari sektor pertanian maupun perkebunan kondisi tanah yang cukup subur membuat masyarakat membuka lahan pertanian di sekitar rumah mereka dengan skala kecil, memanfaatkan tanah dan alat produksi
lainnya masyarakat desa Sampora membangun perekonomiannya sendiri.
Perubahan sosial masyarakat di desa itu diawali dari tahun 2010, setelah berdirinya pusat perbelanjaan di wilayah Kabupaten Tangerang. Desa Sampora masuk ke dalam wilayah Kabupaten Tangerang terkena dampak pembangunan Mall tersebut.
Selain pembangunan Mall terdapat juga pemukiman yang dikenal BSD City, yang merupakan suatu kawasan pemukiman komersial dan industri yang dahulunya dikenal sebagai kota mandiri Bumi Serpong Damai.
Dimana lokasinya antara lain terdapat di Kecamatan Serpong, Kecamatan Serpong Utara, Kecamatan Setu di Kota Tangerang Selatan dan Kecamatan Legok, Kecamatan Pagedangan, Kecamatan Cisauk di Kabupaten Tangerang.
Baca Juga:Jejak Islam di Tangerang, Makam Keramat Solear hingga Mitos Monyet Liar
Sesuai dengan Master Plan BSD City, pengembangan BSD City mencakup luas sekitar 5950 Ha. Pembangunan di BSD City terdiri dari 3 tahap yaitu Tahap I di atas lahan seluas sekitar 1800 Ha, Tahap II di atas lahan seluas sekitar 2000 Ha, dan Tahap III di atas lahan seluas sekitar 2150 Ha.
Adanya mega proyek BSD City ini juga membuat mobilitas penduduk ke wilayah sekitar Kabupaten Tangerang berjumlah 732.919 jiwa.Tingginya jumlah penduduk di suatu perkotaan tidak diimbangi ketersediaan lahan pemukiman serta tingginya harga properti menyebabkan masyarakat harus mencari alternatif wilayah lain namun menjangkau lokasi tempat bekerja dengan efisien.
Berdasarkan hasil wawancara Sarah Hanan Sahara bersama Sekertaris Desa Sampora, Saprudin dijelaskan, sebelum ada pengembangan datang, desa Sampora awalnya sawah, kebun karet, dan pertanian lahan kering untuk menanam singkong dan ubi. Namun tahun 2010, masyarakat banyak yang menjual tanahnya kepada pengembang untuk dijadikan kawasan perumahan.
Ditengah gemerlap pembangunan properti di Kecamatan Cisauk, terdapat benda berupa sebuah bangunan bergaya Eropa-China peninggalan Belanda. Letaknya Di pinggiran jalan Desa Cisauk.
Baca Juga:Asal Usul Nama Tigaraksa, Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang
Dikutip dari situs SMAN 28 Kabupaten Tangerang, dalam bangunan itu terdapat tulisan-tulisan di dinding yang ditulis pada masa penjajahan itu, diduga rumah tersebut adalah pos komando militer.