Keluar dari Zona Nyaman, Kisah Deden Resign dari Honorer Dinas KKP Banten

Sekarang berwirausaha jadi tour leader wisata Ujung Kulon, Banten.

Pebriansyah Ariefana
Minggu, 06 September 2020 | 17:39 WIB
Keluar dari Zona Nyaman, Kisah Deden Resign dari Honorer Dinas KKP Banten
Tour leader Ujung Kulon (Suara.com/Sofyan Hadi)
Tour leader Ujung Kulon (Suara.com/Sofyan Hadi)
Tour leader Ujung Kulon (Suara.com/Sofyan Hadi)

"Dan waktu itu dapat pemasukan Rp 1 juta, dan itu seneng banget. Dari situ kepikiran untuk fokus di sektor wisata," ungkapnya.

Keputusannya untuk lebih serius di sektor wisata sebagai tour operator mendoronya untuk berhenti bekerja sebagai tenaga honor di instansi pemerintahan. Sehingga hal itu membuat pihak keluarga pun berang dengan keputusan yang diambil.

Maklum saja, jenjang karir yang belum jelas sebagai tour operator, serta pola pikir masyarakat di daerah soal bekerja di instansi pemerintah adalah kebanggaan dan jaminan hidup meski hanya sebatas tenaga honor menjadi alasan pihak keluarga marah besar.

"Karena ingin fokus, saya pun memilih berhenti dari dinas. Wah itu marah besar keluarga, abis diomel-omelin. Maklum kan orangtua pengen anaknya jadi PNS gitu. Tapi saya sih yakin kalau ini bisa jadi jalan. Saya berusaha meyakinkan keluarga, tapi tadi itu, harus ada bukti konkret biar mereka percaya," terangnya.

Baca Juga:Kembali Dibuka, Simak Imbauan Taman Nasional Ujung Kulon untuk Wisatawan

Bulan demi bulan dilalui Deden pasca berhenti bekerja di instansi pemerintah, dan puluhan rombongan peserta trip ke Taman Nasional Ujung Kulon pun justru silih berganti menjadi peserta travel miliinya. Hal itu pun perlahan membuat pria yang kini sudah memiliki dua anak itu pun kembali mendapat kepercayaan dan pengakuan dari pihak keluarga.

Bahkan, keluarga yang sedari awal menentang, justru kini berbalik mendukung dengan apa yang menjadi keputusannya. Tak tanggung-tanggung, hanya kurang dari 5 tahun, Deden pun sudah berhasil memiliki rumah dan mobil sendiri hasil dari jerih payahnya selama ini.

Tour leader Ujung Kulon (Suara.com/Sofyan Hadi)
Tour leader Ujung Kulon (Suara.com/Sofyan Hadi)

Bahkan, rencana memiliki kapal motor sendiri sudah mulai dirancangnya. Bukan sekedara wacana, puluhan juta rupiah sudah ia investasikan untuk membuat kapal.

"Alhamdullilah sekarang mendukung. Sudah beli rumah, beli mobil saya. Inshaallah sekarang lagi bikin kapal. Mudah-mudahan cepet terealisasi," kata pria yang juga lulusan S1 disalah satu perguruan tinggi swasta di Kabupaten Pandeglang tersebut.

Dari penghasilan sekitar Rp 1jutaan saat bekerja di instansi pemerintah sejak tahun 2009. Kini omzet Deden pun bisa mencapai puluhan juta dari hasil mengantar orang yang hendak berlibur ke Taman Nasional Ujung Kulon. Walaupun, pasang surut pun masih kerap dihadapi.

Baca Juga:Hari Ini, 10 Agustus, Taman Nasional Ujung Kulon Resmi Kembali Dibuka

"Omzet perbulan sih tergantung, kalau lagi rame bisa lebih dari Rp 30 juta dalam satu bulan. Tapi kalau sepi berkisar di angka Rp 3-8 jutaan. Setiap bulan sih ada aja yang berangkat. Kecuali kalau Ujung Kulon ditutup kayak kemarin pas corona," ungkapnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini