Menjaga Tradisi Mikraan di Masjid Kota Santri Saat Pandemi Corona

Chandra Iswinarno
Menjaga Tradisi Mikraan di Masjid Kota Santri Saat Pandemi Corona
Imam Mesjid Baitul Barokah Ustadz Nugraha. [Suara.com/Sofyan Hadi]

Pihaknya tetap memberlakukan protokoler kesehatan bagi siapa saja yang melakukan Mikraan di masjid tersebut.

SuaraBanten.id - Bulan Ramadan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh dunia. Karena banyak sekali hikmah dan keberkahan yang bisa diraih di Bulan Ramadan, bahkan dalam ajaran yang diturunkan dalam nafas kebudayaan Islam. Salah satu seperti tradisi yang dilakukan di Kota Serang, Provinsi Banten, yakni Tradisi Mikraan.

Tradisi Mikraan hingga kini masih banyak ditemui di masjid, seperti di mesjid Baitul Barokah di Lingkungan Griya Baladika, Kelurahan Drangon, Kecamatan Taktakan, Kota Serang.

Imam Masjid Baitul Barokah Ustaz Ahmad Nugraha mengatakan, Tradisi Mikraan di masjid tersebut diakuinya sudah berlangsung sejak tahun 2004, saat kali pertama mesjid berdiri, hingga saat ini.

"Kalau tadarusan atau mikraan disini (masjid) itu rutinitas di Bulan Puasa. Siapapun boleh, tapi yang paling rutin pengurus mesjid. Kita mulai habis Tarawih dari jam 20.30 sampai jam 23.00," katanya.

Meski wabah Virus Corona saat ini sedang merebak, namun tak mengganggu aktivitas Mikraan di Masjid Baitul Barokah. Walau demikian, pihaknya tetap memberlakukan protokoler kesehatan bagi siapa saja yang melakukan Mikraan di masjid tersebut.

"Enggak terganggu, kan ngga banyak (yang ikut). Paling dilakukan satu-dua orang saja, itu juga bergantian nanti setiap malam. Tetapi tetap yang mau mengaji malam itu, tetap kita minta untuk memakai masker, mencuci tangan dengan sabun terlebih dahulu sebelum wudhu dan memegang mushaf Alquran. Bahkan, kita imbau juga untuk cek suhu badan. Jadi tetap ikuti protokol kesehatan, biar kita tetap bisa menjaga tradisi ini," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Ponpes Salafiyah (MPS) Provinsi Banten KH Matin Syarkowi menjelaskan, kata Mikraan berasal dari kata qoro'a yang artinya tetap membaca atau bahasa lain dari tadarusan secara umum.

"Jadi kalau Mikraan itu hanya di Bulan Ramadan saja dan biasanya dilakukan di masjid. Boleh menggunakan speaker masjid atau enggak. Kalau tadarus itu dilakukan di hari-hari biasa, bisa dilakukan di rumah," katanya.

"Yang jelas Mikraan itu sudah menjadi budaya. Kalau di Serang tidak ada (Mikraan), terasa nggak ada bedanya dengan bulan-bulan yang lain," lanjutnya.

Meski telah menjadi tradisi, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti istilah Mikraan muncul kali pertama di masyarakat Banten, khususnya Kota Serang.

"Pastinya saya nggak tahu, (karena) sejak kecil sudah ada. Makanya waktu saya kecil itu sudah ada, memang belum pakai speaker, karena waktu itu masih belum ada. Penggunaan speaker masjid itu baru muncul sejak ada teknologi aja. Tapi tidak ada hukum dalam Islam kaitannya dengan menggunakan speaker atau tidak," ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengemukakan, meski ada wabah Covid-19, tidak mempengaruhi proses pelaksanaan Mikraan. Hal tersebut karena tidak dilakukan oleh banyak orang atau tidak menimbulkan kerumunan orang dengan jumlah yang banyak.

"Kalau hemat saya, Mikraan itu kan tidak orang banyak. Dilakukan oleh dua hingga tiga orang paling banyak. Saya pikir, ini nggak perlu sampai hilang meski adanya pandemi. Saya lebih ingin, ini terus dilestarikan," katanya.

Kontributor : Sofyan Hadi

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS