Andi Ahmad S
Sabtu, 26 September 2026 | 22:44 WIB
Founder TPST Abu & Co Kemal Pasya di kantornya, Jumat, 25 September 2026 [Wivy Hikmatullaj/SuaraBanten].
Baca 10 detik
  • Founder TPST Abu & Co, Kemal Pasya, mengklarifikasi usahanya pada 25 September 2026 di Serpong.
  • TPST Abu & Co belum memiliki izin lengkap, belum ada IPAL layak, dan lokasinya melanggar sempadan sungai.
  • Kemal mengelola 10 ton sampah per hari dan sedang memproses perizinan resmi ke Pemerintah Kota Tangsel.

“Kalau memang ini perlu digeser, ya bisa, yang penting dinas seberapa jauh. Adapun kalau saya salah, saya sudah bilang sama Pak Bani, ‘Tolong benerin saya,’ gitu loh, tolong bantuin,” papar Kemal.

Tumpukan sampah di TPST Sempadan Sungai Cisadane [Wivy Hikmatullah/SuaraBanten].

Kapasitas Sampah Harian 10 Ton

Soal kapasitas sampah, Kemal menyebut TPST Abu & Co mengelola sekitar 10 ton sampah per hari berasal dari beberapa jenis layanan, termasuk sampah rumah tangga dan sampah taman. Sampah taman, diproses lebih lanjut menjadi material seperti pelet atau biomassa.

“Ya kurang lebih sekitar 10 tonan lah per hari,” sebutnya.

Kemal menyebut volume tersebut setara dengan sampah dari sekitar 4.000 rumah.

“Ekuivalennya dengan 4.000 sekian rumahlah,” ujarnya.

Kemal mengatakan jumlah sampah yang masuk ke Abu & Co dapat meningkat ketika terjadi kondisi darurat persampahan. Ia mencontohkan periode Desember ketika sejumlah warga kesulitan membuang sampah.

Saat itu, kata Kemal, TPST Abu & Co menerima tambahan sampah dari warga sekitar meski mereka bukan pelanggan dan tidak dikenakan biaya.

“Karena pada saat darurat sampah itu, mereka enggak bisa buang, akhirnya ikut kemari. Mereka ikhlas, minta tolong, ‘Pak Kemal, tolong segera diangkut’,” ungkapnya sambil mengingat kalimat dari warga yang meminta bantuan.

Baca Juga: Kejar PAD Rp520 Juta dari Sektor Parkir 2026, Dishub Kota Tangsel Imbau Pengelola Taat Regulasi

Selain pelanggan rumah tangga, Abu & Co juga melayani sejumlah pihak lain, seperti unsur pemerintahan setempat, pasar, toko, dan sekolah.

“Kalau pelanggan, 4.000-an,” pungkasnya.

Kontributor : Wivy Hikmatullah

Load More