- Kasus perampokan dan pembunuhan anak di Cilegon mengungkap isu sosial mendalam terkait motif ekonomi pelaku.
- Pelaku terjerat utang besar sebab kerugian dari bermain kripto dan godaan instan era digital.
- Penting segera dilakukan edukasi masif mengenai risiko teknologi finansial kepada kaum pekerja.
SuaraBanten.id - Terungkapnya kasus perampokan dan pembunuhan sadis terhadap seorang anak di Cilegon tidak hanya membawa sedikit kelegaan, tetapi juga menyalakan sebuah "alarm" darurat tentang masalah sosial yang lebih dalam.
Di balik apresiasi terhadap kinerja polisi, para aktivis buruh menyoroti akar masalah yang mengerikan. motif ekonomi yang dipicu oleh jebakan era digital seperti kerugian bermain kripto dan jeratan utang.
Menurutnya, pengungkapan kasus ini tidak hanya menjawab pertanyaan publik, tetapi juga semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri dan memberikan rasa aman kepada masyarakat Cilegon.
Wakil Ketua Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional, Afif Johan. Ia melihat kasus ini lebih dari sekadar tindak kriminal biasa, melainkan sebuah puncak gunung es dari masalah yang lebih besar.
Afif Johan secara spesifik menyoroti motif pelaku yang diungkap oleh pihak kepolisian.
"Berdasarkan keterangan Kombes Pol Dian Setyawan bahwa terduga pelaku melakukan aksinya karena motif ekonomi yang berawal dari main kripto dan mengalami kerugian sehingga terduga pelaku terjerat hutang besar," katanya, Rabu 7 Januari 2026.
Fakta inilah yang menjadi alarm baginya. Menurutnya, godaan untuk mendapatkan uang instan melalui instrumen berisiko tinggi kini tidak lagi hanya menyasar kalangan tertentu.
"Pada era digitalisasi sekarang ini, kripto, pinjaman online maupun judi online juga sudah merambah ke kaum pekerja," tegasnya.
Afif menilai, masyarakat, khususnya kaum pekerja, dibiarkan 'bertarung' sendirian menghadapi gempuran teknologi finansial yang kompleks ini. Ia mengkritik kurangnya edukasi yang sepadan dengan laju kemajuan teknologi.
Baca Juga: 4 Fakta Penangkapan Pembunuh Anak Politisi PKS: Niat Maling Brankas Malah Dikepung Brimob
"Pemberian edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat pada era digitalisasi saat ini belum terlihat dan tidak sebanding dengan laju kemajuan teknologi dan digitalisasi, sehingga masyarakat terkesan otodidak mengikuti perkembangan teknologi dan digitalisasi," ungkapnya.
Kondisi "otodidak" inilah yang membuat banyak orang rentan terjerumus. Ia bahkan mengakui bahwa sudah ada beberapa laporan kasus pinjol dan judol di kalangan pekerja yang ia terima dan di antaranya salah satu penyebabnya kurangnya pengetahuan.
Karenanya, ia secara tegas mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk segera bertindak. "Stakeholder terkait baik pemerintah, pengusaha atau organisasi pengusaha dan serikat pekerja untuk memberikan edukasi dan sosialisasi terkait dengan bahaya pinjol (pinjaman online ilegal) dan judol (judi online)," serunya.
Edukasi ini, menurutnya, sangat krusial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan risiko keuangan, psikologis, dan sosial penyalahgunaan data pribadi, hingga kerugian fatal yang dapat berujung pada kecanduan dan kejahatan.
Sementara itu, Ketua SP KEP SPSI Cilegon Imam Baihaqi menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Polda Banten bersama Polres Cilegon dalam mengungkap kasus pembunuhan anak politisi PKS di Cilegon.
Menurutnya, kasus tersebut menjadi perhatian dan viral di kalangan publik khususnya masyarakat Cilegon. Keberhasilan aparat dalam mengungkap kasus tersebut selain menjawab pertanyaan penyebab kematian anak politisi PKS.
Pengungkapan kasus tersebut juga menjawab asumsi liar yang tak berdasar selama ini.
"Yang lebih penting adalah semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri dan memberikan rasa aman kepada masyarakat Cilegon," katanya.
Imam percaya bahwa Polda Banten dan Polres Cilegon telah bekerja profesional dalam kasus tersebut.
Berita Terkait
-
4 Fakta Penangkapan Pembunuh Anak Politisi PKS: Niat Maling Brankas Malah Dikepung Brimob
-
ASN Bolos Kerja 1 Tahun di Pandeglang: 4 Fakta Krusial, dari Utang Piutang Hingga Pemecatan
-
Stop Perbudakan Modern! SPN Banten Desak Penghapusan Outsourcing
-
BRI Resmi Hadir di Taiwan, Permudah Akses Keuangan 400 Ribu Diaspora Indonesia
-
BRI Buka Cabang di Taipei, Permudah Layanan Keuangan bagi Ratusan Ribu PMI di Taiwan
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Menkop Ferry Minta Alfamart dan Indomaret Stop Ekspansi Karena Mengancam Koperasi Merah Putih
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
Momen Bukber Langka di Rutan Serang, Ratusan Tahanan Nikmati Waktu Bersama Keluarga Tercinta
-
Polda Banten Luruskan Status Tukang Ojek di Pandeglang: Belum Tersangka, Masih Penyelidikan
-
Lawan Balik! Jadi Tersangka Kecelakaan Maut, Tukang Opang di Pandeglang Gugat Gubernur dan Bupati
-
Biaya Service AC Mobil Membengkak? Bisa Jadi Karena Oli & Dryer Terlambat Diganti
-
Tukang Ojek di Pandeglang Jadi Tersangka Usai Penumpang Tewas Akibat Jalan Berlubang