Hairul Alwan
Rabu, 07 Januari 2026 | 19:42 WIB
Ketua SP KEP SPSI Cilegon Imam Baihaqi. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Kasus perampokan dan pembunuhan anak di Cilegon mengungkap isu sosial mendalam terkait motif ekonomi pelaku.
  • Pelaku terjerat utang besar sebab kerugian dari bermain kripto dan godaan instan era digital.
  • Penting segera dilakukan edukasi masif mengenai risiko teknologi finansial kepada kaum pekerja.

SuaraBanten.id - Terungkapnya kasus perampokan dan pembunuhan sadis terhadap seorang anak di Cilegon tidak hanya membawa sedikit kelegaan, tetapi juga menyalakan sebuah "alarm" darurat tentang masalah sosial yang lebih dalam.

Di balik apresiasi terhadap kinerja polisi, para aktivis buruh menyoroti akar masalah yang mengerikan. motif ekonomi yang dipicu oleh jebakan era digital seperti kerugian bermain kripto dan jeratan utang.

Menurutnya, pengungkapan kasus ini tidak hanya menjawab pertanyaan publik, tetapi juga semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri dan memberikan rasa aman kepada masyarakat Cilegon.

Wakil Ketua Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional, Afif Johan. Ia melihat kasus ini lebih dari sekadar tindak kriminal biasa, melainkan sebuah puncak gunung es dari masalah yang lebih besar.

Afif Johan secara spesifik menyoroti motif pelaku yang diungkap oleh pihak kepolisian.

"Berdasarkan keterangan Kombes Pol Dian Setyawan bahwa terduga pelaku melakukan aksinya karena motif ekonomi yang berawal dari main kripto dan mengalami kerugian sehingga terduga pelaku terjerat hutang besar," katanya, Rabu 7 Januari 2026.

Fakta inilah yang menjadi alarm baginya. Menurutnya, godaan untuk mendapatkan uang instan melalui instrumen berisiko tinggi kini tidak lagi hanya menyasar kalangan tertentu.

"Pada era digitalisasi sekarang ini, kripto, pinjaman online maupun judi online juga sudah merambah ke kaum pekerja," tegasnya.

Afif menilai, masyarakat, khususnya kaum pekerja, dibiarkan 'bertarung' sendirian menghadapi gempuran teknologi finansial yang kompleks ini. Ia mengkritik kurangnya edukasi yang sepadan dengan laju kemajuan teknologi.

Baca Juga: 4 Fakta Penangkapan Pembunuh Anak Politisi PKS: Niat Maling Brankas Malah Dikepung Brimob

"Pemberian edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat pada era digitalisasi saat ini belum terlihat dan tidak sebanding dengan laju kemajuan teknologi dan digitalisasi, sehingga masyarakat terkesan otodidak mengikuti perkembangan teknologi dan digitalisasi," ungkapnya.

Kondisi "otodidak" inilah yang membuat banyak orang rentan terjerumus. Ia bahkan mengakui bahwa sudah ada beberapa laporan kasus pinjol dan judol di kalangan pekerja yang ia terima dan di antaranya salah satu penyebabnya kurangnya pengetahuan.

Karenanya, ia secara tegas mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk segera bertindak. "Stakeholder terkait baik pemerintah, pengusaha atau organisasi pengusaha dan serikat pekerja untuk memberikan edukasi dan sosialisasi terkait dengan bahaya pinjol (pinjaman online ilegal) dan judol (judi online)," serunya.

Edukasi ini, menurutnya, sangat krusial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan risiko keuangan, psikologis, dan sosial penyalahgunaan data pribadi, hingga kerugian fatal yang dapat berujung pada kecanduan dan kejahatan.

Sementara itu, Ketua SP KEP SPSI Cilegon Imam Baihaqi menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Polda Banten bersama Polres Cilegon dalam mengungkap kasus pembunuhan anak politisi PKS di Cilegon.

Menurutnya, kasus tersebut menjadi perhatian dan viral di kalangan publik khususnya masyarakat Cilegon. Keberhasilan aparat dalam mengungkap kasus tersebut selain menjawab pertanyaan penyebab kematian anak politisi PKS.

Load More