-
Aktivitas berladang dan berkebun di area hutan/semak meningkatkan risiko kontak dengan ular tanah.
-
Kematian terjadi akibat keterlambatan penanganan medis dan sebelumnya sempat terjadi kekosongan stok serum anti bisa ular (SABU).
-
Pemerintah telah mendistribusikan 5 hingga 10 vial serum ke puskesmas penyangga (Cisimeut, Cirinten, Bojongmanik, Muncang, dan Sobang).
SuaraBanten.id - Kasus gigitan ular berbisa yang menelan korban jiwa kembali menjadi sorotan tajam. Kali ini, insiden tragis menimpa masyarakat adat Suku Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten.
Selama tahun 2025, tercatat 62 warga Badui menjadi korban gigitan ular berbisa, dengan angka kematian yang mengkhawatirkan mencapai 11 orang.
Data ini dirilis oleh Sahabat Relawan Indonesia (SRI), sebuah organisasi yang konsisten bergerak di bidang kemanusiaan dan kesehatan, khususnya di area terpencil.
Koordinator SRI, Muhammad Arif Kirdiat, menyampaikan keprihatinannya atas tingginya angka kasus gigitan ular di wilayah yang dihuni oleh sekitar 11.600 jiwa tersebut.
Muhammad Arif menjelaskan bahwa masalah kesehatan yang kerap menonjol di kalangan Suku Badui berkaitan erat dengan aktivitas sehari-hari mereka.
Mayoritas warga Badui hidup dari bercocok tanam di ladang dan membuka kawasan hutan. Dalam prosesnya, mereka sering berinteraksi langsung dengan alam liar.
Potensi gigitan ular berbisa, terutama jenis Ular Tanah yang banyak ditemukan di semak belukar dan rerumputan ilalang, menjadi risiko yang nyata. Ular ini dikenal dengan gigitannya yang mematikan jika tidak segera mendapat penanganan medis yang tepat.
"Dengan demikian, mereka berpotensi menjadi korban gigitan ular berbisa yang berlindung di rerumputan maupun semak-semak belukar," kata Arif.
Dari 11 korban yang meninggal, penyebab utamanya diduga kuat akibat keterlambatan penanganan medis. Ini terjadi karena beberapa faktor:
Baca Juga: Cek Jadwal KRL Rangkasbitung-Tanah Abang 2 Januari 2026: Kejar Kereta Pagi Biar Weekend Lebih Cepat
1. Jarak Tempuh Fasilitas Kesehatan. Lokasi pemukiman Badui yang terpencil membuat akses ke puskesmas atau rumah sakit menjadi sangat sulit, terutama saat darurat.
2. Ketersediaan Anti Bisa Ular. Beberapa puskesmas penyangga dilaporkan kekurangan stok serum anti bisa ular yang krusial untuk penanganan gigitan.
3. Keterlambatan Informasi. Warga terkadang kesulitan memberikan laporan cepat ke petugas medis karena kendala komunikasi atau medan.
"Mereka yang meninggal, karena keterlambatan dilarikan ke fasilitas kesehatan dan tidak tersedianya obat anti bisa ular di puskesmas, serta keterlambatan informasi untuk dibawa ke rumah sakit," jelas Arif.
Menyikapi data yang mengkhawatirkan ini, Pemkab Lebak melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) memberikan respons sigap.
Kepala Dinkes Lebak, Eka Darmana Putra, memastikan bahwa stok serum anti bisa ular di lima puskesmas penyangga wilayah Badui (Cisimeut, Cirinten, Bojongmanik, Muncang, dan Sobang) sudah terpenuhi.
Berita Terkait
-
Cek Jadwal KRL Rangkasbitung-Tanah Abang 2 Januari 2026: Kejar Kereta Pagi Biar Weekend Lebih Cepat
-
Destinasi Wisata Religi Terpopuler di Banten untuk Awali Tahun 2026 dengan Berkah
-
Melipir ke Cipanas Lebak! Ini 3 Hidden Gem Wisata Alam untuk Liburan Akhir Tahun 2025
-
Awalnya Dikira Keguguran, IRT di Serang Ternyata Tewas dengan Luka Tusuk Misterius
-
Warga Banten Wajib Tahu! Ada Aturan Ketat Rayakan Malam Tahun Baru: Langgar Siap-Siap Dibubarkan
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Pelajar 15 Tahun di Serang Tewas Terlindas Truk Usai Gagal Menyalip dari Kiri
-
Pemuda Betawi Pimpin PCNU Kota Tangerang, Sejak Kecil Ditempa di Pesantren
-
Sikat Pemodal Kakap, Kementerian ESDM Usut Tuntas Rantai Bisnis Emas Ilegal Rp846 Miliar
-
Bantah Isu Pisah dari NKRI, Ini 6 Pesan Penting Sultan Banten ke-18 untuk Masyarakat
-
Oknum Petugas Bandara Terlibat Penyelundupan 22 Kg Emas Batangan