Bangun Santoso
Rabu, 27 Mei 2020 | 13:53 WIB
Kondisi rumah nenek Sumi di Desa Malanggah, Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang, Banten. (Foto: Suara.com/Yandhi Deslatama)

SuaraBanten.id - Jangankan menikmati opor ayam dan ketupat saat Idul Fitri 1441 Hijriah, untuk makan sehari-hari saja Nenek Sumi (83) dan putra bungsunya, Darwis (40) harus menunggu uluran tangan dari tetangga, saudara ataupun dermawan. Mereka tinggal di sebuah rumah yang atapnya sudah ambruk dan temboknya bolong.

Jika hujan turun, nenek dan anaknya harus mencari bagian rumah yang tak bocor untuk berteduh. Nahasnya, sang anak tidak bisa bekerja karena kaki kirinya lumpuh akibat digigit ular tanah. Kondisi itu menyebabkan dirinya tidak bisa membantu untuk mencari nafkah atapun sekadar mencari makan. Keduanya hanya bisa menunggu uluran tangan dari tetangga dan saudara.

Meski pendengarannya sudah tak lagi bagus, jalannya membungkuk, nenek Sumi dan anak bungsunya itu mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, seperti Jaminan Sosial Rakyat Banten Bersatu (Jamsosratu), Program Keluarga Harapan (PKH) hingga Bansos Tunai (BST) di tengah pandemi covid-19 ini.

"Kalau makan seketemu aja, ada yang ngasih aja dari tetangga. Segala baskom untuk menampung air hujan (atap bocor). Berdua aja tidur di sini," kata Nenek Sumi saat ditemui dikediamannya, Selasa (26/05/2020).

Untuk sampai ke rumahnya, di Kampung Cinayong, RT 05 RW 01, Desa Malanggah, Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang, Banten, jangan berharap akses jalannya beraspal ataupun betonisasi, yang ada hanya tanah dan kerikil.

Sang suami nenek Sumi sudah lama meninggal dunia. Rumah yang mereka tempati merupakan milik anak pertama Nenek Sumi yang memilih bekerja merantau ke Angke, Jembatan Tiga, Jakarta.

Sang nenek tidur di dapur rumah, bersama asap tungku. Karena tidak memiliki kompor gas, nenek Sumi masak menggunakan kayu bakar. Namun, kamar mandinya yang terpisah dari dapur, tidak memiliki atap, pintu dan bak mandi.

"Udah lama (rumah) ambruk. Bantuan enggak dapat, enggak ada pokoknya mah, (enggak) tahu yang lain mah, kalau kita mah enggak pernah (dapat)," kata Darwin, putra bungsu Nenek Sumi.

Darwin mengaku kaki kirinya digigit ular tanah satu tahun lalu saat berkebun. Akibat tidak ada biaya, luka di kakinya hanya bisa diobati ala kadarnya. Beruntung Darwin tidak sampai meninggal. Namun kini, kakinya tampak menghitam, untuk berjalan harus menggunakan penopang dari kayu yang dia buat sendiri.

Jika tak ada makanan untuk dimasak, Nenek Sumi dan Darwin hanya bisa pasrah sembari menunggu adanya bantuan. Beruntung, dia kerap mendapatkan bantuan sembako dari personil TNI Korem 064/Maulana Yusuf.

"Kerja duduk aja, jalan susah, nemenin ibu doang. Makan seadanya aja kalau ada yang ngasih dari tetangga, kalau enggak ada yang ngasih, diem aja gimana. Alhamdulillah aja dapet sembako dari Pak TNI," katanya.

Di lokasi yang sama, Bakriah (74) yang rumahnya tepat dibelakang rumah nenek Sumi mengaku belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah. Nenek Bakriah bercerita bahwa dia dan beberapa warga lainnya sempat diminta mengumpulkan foto kopi KTP dan Kartu Keluarga (KK), namun hingga kini belum ada tindak lanjutnya.

"Belum pernah, boro-boro. Didata mah didata, sensus, ditempel (dipasang sticker), masa enggak didata. Waktu bulan lalu ngumpulin KK, KTP. Iya katanya mau dapat (bantuan), Alhamdulillah belum," kata Nenek Bakriah.

Kontributor : Yandhi Deslatama