facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Hepatitis Akut Muncul di Jakarta, Pemprov DKI Belum Kurangi Kapasitas PTM

Erick Tanjung Jum'at, 13 Mei 2022 | 15:30 WIB

Hepatitis Akut Muncul di Jakarta, Pemprov DKI Belum Kurangi Kapasitas PTM
Pembelajaran tatap muka dengan kapasitas 100 persen di SDN 02 Pondok Bambu, Jakarta Timur. (Suara.com/Arga)

"Kami masih memberlakukan PTM 100 persen, belum ada pengurangan (kapasitas)," kata Riza.

SuaraBanten.id - Pemprov DKI Jakarta belum berencana mengurangi kapasitas Pembelajaran Tatap Muka atau PTM yang saat ini sudah 100 persen meski muncul kasus hepatitis akut.

"Kami masih memberlakukan PTM 100 persen, belum ada pengurangan (kapasitas)," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria di Balai Kota Jakarta, Jumat (13/5/2022).

Meski begitu, lanjut dia, pihaknya tetap memantau perkembangan penyakit yang belum diketahui penyebabnya tersebut. Riza melanjutkan hingga saat ini sudah menemukan 21 kasus hepatitis akut di Jakarta.

Dari jumlah itu, sebanyak 14 orang di antaranya berusia di bawah 16 tahun dan tiga di antaranya meninggal dunia merupakan anak-anak.

Baca Juga: Satu Kasus Hepatitis Akut Misterius Terdeteksi di Jawa Barat

Sedangkan tujuh orang lainnya, lanjut dia, berusia di atas 16 tahun sehingga tidak masuk kategori kewaspadaan akut sesuai rekomendasi Badan Kesehatan Dunia, WHO.

Selain 21 kasus itu, Riza juga mengungkapkan ada 24 kasus bergejala hepatitis.

Sebelumnya, Anggota DPRD DKI Idris Ahmad meminta agar PTM dengan kapasitas 100 persen diawasi dengan ketat karena munculnya kasus dugaan penyakit hepatitis akut.

"Kasus hepatitis akut ini bertambah setiap harinya, kami harus siaga mencegah penularan di sekolah-sekolah yang mengadakan PTM 100 persen," kata Idris di Jakarta, Kamis (12/5).

Politikus PSI itu berharap ada surat edaran kepada kepala sekolah yang berisi langkah-langkah pencegahan dan melakukan evaluasi soal PTM 100 persen.

Baca Juga: Korban Meninggal Diduga Hepatitis Akut Misterius di Indonesia Jadi 7 Orang

"Penyakit ini menyasar usia anak-anak. Mereka adalah kelompok rentan sehingga penyakit ini bisa berakibat serius dan menyebabkan kematian," imbuh Idris.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait