Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Ngeri-ngeri Sedap Bisnis Sorabi di Banten, Cuan Rp 4 Juta Sebulan

Pebriansyah Ariefana Minggu, 18 Oktober 2020 | 07:10 WIB

Ngeri-ngeri Sedap Bisnis Sorabi di Banten, Cuan Rp 4 Juta Sebulan
Penjual sorabi atau serabi (Suara.com/Sofyan Hadi)

Resep turun menurun.

Meski begitu, ada beberapa proses yang memang memerlukan kesabaran saat membuat bahan dasar sorabi, yakni tepung beras.

Sebab, penggilingan beras yang masih dilakukan secara manual terkadang membutuhkan waktu satu hari penuh agar dapat menjadi bahan baku yang cocok dijadikan adonan kue sorabi.

"Ya gampang sih kalau bikin kuenya. Agak repot bikin bahannya, bikin tepung berasnya. Karena beras itu harus dicuci bersih, terus ditumusin (proses pengeringan), terus digiling sampai halus, abis gitu dijemur, harus sampe kering. Nah yang repot kalau musim hujan, agak susah ngeringinnya," terangnya.

Penjual sorabi atau serabi (Suara.com/Sofyan Hadi)
Penjual sorabi atau serabi (Suara.com/Sofyan Hadi)

Dijual dengan harga Rp 2.000 per biji, terkadang pesanan dalam jumlah besar pun kerap Ibu Saca dapatkan dari orang-orang yang akan menggelar hajatan ataupun tahlilan.

Sehingga omzet penjualannya pun mampu berada dikisaran Rp 3 - 4 juta perbulan.

Meski ketidakpastian penghasilan kerap membayangi dirinya, terlebih di masa pandemi yang pernah membuat usahanya mengalami penurunan.

Namun dengan tegas Ibu dengan empat anak tersebut menuturkan jika dirinya tidak pernah berpikiran mencoba berjualan yang lain, apalagi mengikuti tren zaman.

"Alhamdulillah bisa sebulan dapat 3 - 4 juta, tapi kalau sepi ya dibawah 2 juta. Dulu awal corona itu sepi banget, ga ada orang. Tapi sekarang udah mulai normal, mudah-mudahan coronanya cepet ilang ya. Dan inshaallah Ibu akan tetap jualan ini (kue sorabi) terus, engga kepikiran mau jualan yang lain," tukasnya.

Keberadaan penjual makanan tradisional seperti Ibu Saca turut disyukuri oleh sejumlah orang. Sehingga hal itu dianggap memudahkan masyarakat jika ingin mencari makanan tradisional.

Seperti yang diungkapkan salah seorang pembeli, Misna (42). Dirinya mengaku senang dengan keberadaan Ibu Saca yang masih menjual makanan tradisional.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait